Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. ( Yohanes 8:2-9 )

Orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat adalah mereka yang sangat terbiasa dengan Firman Tuhan. Secara lahiriah mereka ingin menunjukan bahwa mereka lebih saleh dari yang lainnya. Tapi sebetulnya mereka menyimpan motivasi yang salah di dalam hati mereka.

Kesalehan, terkadang membutakan mata kita sebagai manusia. Merasa paling benar, paling kudus, sehingga membuat kita seringkali merasa berhak untuk menghakimi kehidupan orang lain.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dengan kasarnya menarik seorang perempuan (benar-benar pria sejati ya???) yang didapati berbuat zinah. Mereka membawanya kehadapan Yesus. Motivasinya hanya untuk mencobai Tuhan. Seringkali merasa diri saleh membuat kita merasa lebih pandai dari Tuhan.

Kali ini mereka kena batunya. Tuhan kok dilawan?

Dengan tenangnya Yesus membungkuk dan menulis sesuatu di atas tanah. Santai sekali, dan Dia tidak langsung menunjukan murkaNya. Tenang, tapi menghanyutkan. Sebenarnya apa yang Yesus tulis?

Banyak yang menafsirkan, bahwa sebetulnya Yesus sedang menulis dosa-dosa orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Disaat mereka berteriak-teriak dan mendesak Yesus untuk berkomentar, Yesus malah menaruh cermin itu di depan mata mereka.

Dengan ketenangan Ilahi yang Dia miliki, Yesus berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Cermin dipasang, mereka semua melihat ke dalam hati mereka masing-masing. Satu persatu dengan rasa malu, mereka mundur teratur meninggalkan perempuan itu seorang diri.

Mungkin tanpa kita sadari kita lebih mudah menghakimi dan mendakwa orang lain daripada melihat diri kita sendiri. Lebih mudah melihat serpihan kayu di hidup orang lain daripada melihat balok di dalam kehidupan kita sendiri. Lupa bahwa kita juga manusia biasa yang memiliki banyak kelemahan. Mulut kita lebih mudah mengucapkan kata-kata dakwaan. Mata kita lebih mudah melihat kesalahan. Sementara hati kita telah kehilangan kasih. Lupa bahwa tidak ada satupun manusia yang benar dihadapan Tuhan, jika bukan Tuhan yang membenarkan kita melalui darahNya yang menebus dosa kita.

Semua adalah karena anugerahNya….

Pada zaman Ahasyweros—dialah Ahasyweros yang merajai seratus dua puluh tujuh daerah mulai dari India sampai ke Etiopia—, pada zaman itu, ketika raja Ahasyweros bersemayam di atas takhta kerajaannya di dalam benteng Susan, pada tahun yang ketiga dalam pemerintahannya, diadakanlah oleh baginda perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya; tentara Persia dan Media, kaum bangsawan dan pembesar daerah hadir di hadapan baginda.  Di samping itu baginda memamerkan kekayaan kemuliaan kerajaannya dan keindahan kebesarannya yang bersemarak, berhari-hari lamanya, sampai seratus delapan puluh hari.  Setelah genap hari-hari itu, maka raja mengadakan perjamuan lagi tujuh hari lamanya bagi seluruh rakyatnya yang terdapat di dalam benteng Susan, dari pada orang besar sampai kepada orang kecil, bertempat di pelataran yang ada di taman istana kerajaan.  Di situ tirai-mirai dari pada kain lenan, mori halus dan kain ungu tua, yang terikat dengan tali lenan halus dan ungu muda bergantung pada tombol-tombol perak di tiang-tiang marmar putih, sedang katil emas dan perak ditempatkan di atas lantai pualam, marmar putih, gewang dan pelinggam.  Minuman dihidangkan dalam piala emas yang beraneka warna, dan anggurnya ialah anggur minuman raja yang berlimpah-limpah, sebagaimana layak bagi raja.
Adapun aturan minum ialah: tiada dengan paksa; karena beginilah disyaratkan raja kepada semua bentara dalam, supaya mereka berbuat menurut keinginan tiap-tiap orang. ( Esther 1:1-8 )

Ada saat dimana raja ingin unjuk kekuatan dan kekayaan. Semua diundang, bahkan pesta digelar berhari-hari. Semua bersukacita, semua merdeka, semua meluap dalam kegirangan.

Syarat pesta cuma satu: TIDAK DENGAN PAKSA

Wow, mengapa ditegaskan ada aturan itu? Bukankah didalam pesta memang seharusnya semua bebas menikmati tanpa harus dipaksa-paksa?

Ternyata dibuatnya aturan itu karena memang ada yang terpaksa di dalam menikmati pesta. Ini adalah gambaran Tuhan kepada gerejaNya.

Tuhan menjanjikan dan menyediakan segala kuasa, damai sejahtera dan berkat yang berkelimpahan atas kita. Tuhan yang menjamin akan selalu ada perlindungan dan pertolongan. Jangan takut kekurangan atau kehabisan karena semua lebih dari cukup.

Tuhan bukan Raja yang lalim. Dia menjamin kehidupan seluruh warga negara Kerajaan Sorga. Kemuliaan Raja yang menjadi taruhannya. Sang Raja akan menjaganya dengan segala kekuatan dan keperkasaanNya.

Dia tidak ingin, kita, sebagai warganegara dari Kerajaan yang dipimpinnya terlihat kumal, tidak ‘bersinar’, murung, sakit dan berbeban berat.

Seharusnya kita bergembira, seharusnya pula kita bersukacita. Apalagi yang kurang? Apalagi yang kita takutkan? Semua sudah Yesus jamin!

Tapi banyak dari kita yang tetap memilih untuk ‘terpaksa’  dalam mengikuti pestanya Tuhan. Ada yang tetap murung, sedih, dan bahkan putus asa.

Mereka melihat ada Air Kehidupan yang siap menyegarkan  kembali semangat yang pudar, namun mereka enggan untuk meminumnya.

Mereka melihat Roti Kehidupan yang bisa memulihkan kondisi yang lemah, namun mereka enggan untuk memakannya.

Sepertinya telah tertanam kuat-kuat dalam pikiran mereka bahwa ikut Tuhan memang sudah seharusnya selalu menderita, sebagai tanda bahwa kita sungguh-sungguh mengikut Dia.

Apa memang benar itu yang Tuhan mau? kalau memang Tuhan mau kita menderita dan susah terus menerus, tentunya Dia tidak akan menggelar pesta, tapi Dia akan menggelar perkabungan di padang gurun yang gersang. Pasir menggantikan air, tulang belulang menggantikan daging dan sayuran segar.

Jelas sudah bahwa sesungguhnya di dalam hidup ini Tuhan mau agar kita hidup dengan merdeka, sukacita dan penuh dengan kebanggaan kepada Sang Raja.

Tapi Tuhan menghormati pilihan manusia. Kehendak bebas manusia tidak pernah dilanggarNya. Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk menikmati pestaNya. Tidak dengan paksa adalah sebuah pilihan.

Mau? mau? mau?

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. (Kejadian 1:31)

Karena terlalu terbiasa mungkin kita akan melihat semuanya biasa-biasa saja. Kita sudah lebih melihat kecanggihan teknologi, mobil dengan kecepatan tinggi, atau bahkan pesawat yang bisa melewati kecepatan cahaya. Komputer yang mampu mengolah perhitungan yang super kompleks hanya dengan hitungan sepersekian detik, roket yang bisa membawa manusia ke bulan, dan sebagainya. Manusia bangga dengan penemuan-penemuannya.

Tapi mari kita coba berjalan-jalan ke waktu dimana Adam dan Hawa hidup. Dimana segala yang ada adalah masih murni hasil dari tangan Allah sendiri. Kita akan menyadari bahwa sebetulnya Allah telah terlebih dahulu yang menemukan segala sesuatu. Artinya…tidak ada yang baru dibumi ini. Tuhan sudah mengatakan sungguh amat baik, semua ada, sempurna.

Manusia hanya meneruskan apa yang sudah ada sebelumnya. Allah memberikan kreatifitas kepada manusia dan menaruh ide-ide yang luarbiasa kepadanya dengan tujuan agar manusia bisa menjalankan tugasnya dibumi ini sebagai pengelola dan berkuasa atas semua ciptaan Allah.

Darimana munculnya ide selang pemadam kebakaran? Dari belalai gajah tentunya. Sementara tangga yang ada dimobil pemadam kebakaran? hmm…mungkin manusia mendapatkan idenya setelah melihat leher jerapah yang panjang.

Ide gaun-gaun yang mahal dan berbahan halus? sepertinya kita mengambil contoh dari bunga-bunga yang memiliki kelopak berwarna-warni.

Katak bisa memberikan inspirasi dan terciptalah gaya renang yang terkenal. Bukankah pesawat tercipta justru setelah manusia melihat burung-burung bisa terbang dengan anggunnya di udara?

Saatnya kita merenung sejenak….

Kalau kita berkata bahwa kita yang paling jago, ternyata kita hanya meniru dari yang sudah ada.

Ketika Adam membutuhkan alat untuk mengambil buah dari pohon yang tinggi, dia segera memerintahkan jerapah untuk mengangkat dirinya. Dari kejauhan Allah melihat, tersenyum dan berkata dalam hatiNya:”Sungguh segala yang Kuciptakan amat baik adanya”.

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka—segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda—sampai ke tengah-tengah laut. Dan pada waktu jaga pagi, TUHAN yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu. Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkata: “Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab Tuhanlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir.” Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda.” Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah TUHAN mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka.” ( Keluaran 14:21-28 )

Adrenalin bekerja luarbiasa, jantung berdetak kencang, perasaan takut, kuatir dan gentar bercampur jadi satu. Semuanya ada dalam diri Musa, seorang yang dipakai Tuhan justru di usia yang lanjut.

Di depan dia ada laut Teberau yang luas dan dalam, sementara dia sendiri bersama-sama dengan bangsa Israel yang kepala-kepala mereka lebih keras dari batu cadas, ditambah lagi di belakangnya ada tentara Mesir yang mengejar rombongan dengan kecepatan penuh. (Aduh, kenapa becak melawan ferarri? Sungguh tidak adil)

Belum lagi suara-suara bising dari bangsa pilihan Tuhan ini. “Kau ingin membuat kuburan massal? Mengapa engkau membuat Firaun marah besar? Lebih baik tinggal di Mesir, setidaknya kami mati dengan perut kenyang!”

“Arrrrgh…..mengapa aku Tuhan, mengapa aku?”, mungkin begitu seruan Musa didalam hatinya.

Genting, mencekam, tegang…di ujung tanduk…

“Apa? Ujung tanduk? Wah, itu tempat kesukaanKu!”"Aku senang sekali mendirikan tahtaKu di ujung-ujung tanduk kehidupan manusia.”

Ya, itulah Tuhan kita. Justru pada waktu kita tidak berdaya, kuasa Tuhan akan sempurna dinyatakan melalui kehidupan kita.

Pada saat pasukan Mesir semakin mendekat, Tuhan justru membuka jalan dengan membelah air laut menjadi dua sehingga bangsa Israel dapat menyeberang. Tepat waktu.

Bukan hanya itu. Tuhan mengubah posisinya sehingga ada di barisan paling belakang dari bangsa Israel dengan tiang awanNya yang menimbulkan kegelapan yang sangat pekat. Pasukan Mesir kocar-kacir, mereka tidak dapat melihat satu dengan yang lainnya.

Ternyata tahta Tuhan akan menimbulkan terang dan membuka jalan bagi orang-orang yang percaya kepadaNya, tetapi juga menimbulkan kegelapan dan kebingungan di antara orang fasik.

Kita semua tahu akhir dari kisah ini. Bangsa Israel berhasil lolos dari pengepungan. Bangsa Mesir mengalami kekalahan yang luar biasa besar.

Ujung tanduk merupakan tempat yang paling disukai Tuhan untuk mendirikan tahtaNya.

Kalau kita mendengar perkataan “Kasih” maka sepertinya identik dengan kelemahan. Orang dapat kurang ajar dan menginjak-injak kita tanpa ada pembalasan terhadap mereka. Sesungguhnya, Kasih itu bukanlah kelemahan tetapi justru Kasih itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Alkitab berkata, “Kasih itu tidak pernah gagal” artinya Kasih itu selalu berhasil sebab di dalam Kasih itu ada kekuatan yang dahsyat.

Dalam 1 Korintus 13:4-7, menjelaskan arti kata dari Kasih yaitu Sabar; Murah Hati; tidak Cemburu; tidak Memegahkan Diri; dan tidak Sombong. Melakukan yang sopan; tidak mencari Keuntungan Sendiri; tidak Pemarah; dan tidak menyimpan Kesalahan orang lain; suka Kebenaran; Menutupi dan Percaya segala sesuatu; Sabar menanggung segala sesuatu.

Dalam Matius 5:38-44, menjelaskan mengenai perbuatan Kasih…
Kalau kita memperhatikan firman Tuhan di atas, hal itu menunjukkan bahwa arti kata dan perbuatan Kasih itu sepertinya sebuah kelemahan dan kebodohan tetapi sesungguhnya merupakan gaya hidup Ilahi yang membawa kita kepada kemenangan dan kebahagiaan.

Bagaimana mengungkapkan kekuatan yang dahsyat di dalam Kasih?

Kedahsyatan kekuatan Kasih akan muncul apabila Kasih itu digunakan dengan cara-cara yang tepat…

Contoh: Seorang yang hanya memiliki sebutir peluru M-16 tidak akan pernah berdaya melawan orang yang memiliki sebilah Samurai, namun apabila sebutir peluru itu dimasukkan ke dalam senapan M-16 maka ia akan mengalahkan orang yang memiliki Samurai atau jago silat manapun. Sekali ditembak peluru M-16 itu dan mengenai sasarannya maka tamat riwayat musuhnya itu.

Kasih itu kalau dilihat dari satu segi kelihatannya lemah dan tidak memiliki kekuatan apapun namun apabila kasih itu digunakan pada alat yang tepat dengan cara-cara yang tepat maka di dalam kasih itu mengandung kekuatan yang dahsyat….

Seorang Ahli Alkitab pernah berkata bahwa Yesus Kristus itu bukan Pribadi yang ofensif yaitu suka menyerang; Yesus tidak pernah mengajar, ”bunuhlah setiap orang yang menolak Aku dan pengajaran-Ku; hancurkanlah mereka dan binasakanlah sampai ke anak cucunya.” Yesus tidak pernah mengajarkan orang menjadi ofensif secara fisik.

Yesus Kristus juga bukan Pribadi yang defensif yaitu suka membela diri saat diserang atau dianiaya. Hal itu dibuktikan saat Dia ditangkap; Ia tidak melawan atau mengirim 12 [dua belas] pasukan malaikat-Nya untuk menolong Dia saat dianiaya oleh tentara Romawi. Ia diam dan tidak membela dirinya.

Tetapi Yesus adalah Pribadi yang Absorsif yaitu menyerap. Dia menyerap setiap serangan yang dilemparkan ke atas diri-Nya. Puncak dari seluruh serangan selama masa hidupnya adalah dari Getsemani sampai ke Golgota.

Yesus menyerap semua serangan Iblis dan Ia menghadapi dengan Roh-Nya dan puncaknya adalah saat roh maut menghantam diri-Nya dan Ia berkata, ”Ya, Bapa ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku.” dan pada saat Ia menyerahkan nyawa-Nya, tubuh-Nya mati, Iblis berpikir bahwa ia telah mengalami kemenangan namun di alam maut, justru Yesus mematahkan roh maut dan mengalami kebangkitan pada hari ketiga sebagai tanda kemenangan-Nya atas Iblis; Dosa dan Maut.

Kunci kemenangan Kristus adalah pada saat Ia menggunakan Kasih dengan cara yang tepat. Di sini kita dapat melihat betapa dahsyatnya kekuatan kasih itu. Kekuatan yang sanggup menghancurkan Iblis dan perbuatan-perbuatannya.

Di dalam Kitab 2 Raja-Raja 6:14-23, menjelaskan sebuah kebenaran mengenai kekuatan kasih yang menaklukkan serangan musuh. Saat itu Raja Aram marah besar karena setiap rencananya selalu diketahui oleh Elisa sehingga ia bermaksud untuk mengepung dan menyerang Israel dengan mengirim tentara Aram dalam jumlah yang besar.

Bagaimana Elisa menghadapi serangan tentara Raja Aram itu? Ia tidak ofensif dan juga tidak defensif tetapi absorsif yaitu menyerapnya dengan tindakan kasih yang tulus. Ia berdoa agar Tuhan membutakan mata tentara Aram yang sedang mencarinya; lalu membawa mereka masuk ke dalam benteng Samaria; begitu mereka masuk orang Israel mengepung mereka, lalu Elisa berdoa agar Tuhan membuka mata mereka; mereka sadar bahwa mereka sedang terkepung oleh orang Israel.

Raja Israel berkata, “Apakah kita bunuh saja mereka itu?” namun Elisa berkata, “Jangan, apakah kamu biasa membunuh orang yang ditawan?” Apakah yang dilakukan oleh Elisa terhadap tentara Aram yang besar itu?

Tentara Aram dikalahkan oleh tindakan kasih… mereka diberikan makanan dan minuman; setelah puas dan kenyang, mereka disuruh pulang ke negerinya. Alkitab mencatat, “Sejak saat itu, tidak ada lagi gerombolan tentara Aram yang memasuki Israel…”

Sekali lagi, kasih membuktikan kekuatannya. Tentara Aram ditaklukkan oleh tindakan kasih yang tulus dan mereka tidak pernah memasuki wilayah Israel lagi.

Jadi, hidup itu perlu disiasati dengan strategi Ilahi. Strategi ilahi untuk menyiasati kehidupan adalah hidup di dalam kasih Allah. Kasih nampaknya lemah tetapi justru itulah strategi yang digunakan Allah untuk membinasakan Iblis dan perbuatan-perbuatannya.

Dalam 1 Korintus 13:8 mengatakan ”Kasih Allah tidak berkesudahan…” dengan kata lain Kasih Allah tidak pernah gagal, pudar, lenyap atau berakhir. Karena Allah adalah kasih, maka kalau kasih dapat lenyap, Allah pun dapat lenyap. Namun, Allah tidak pernah gagal, dan kasih-Nya juga demikian. Oleh karena itu betapa pentingnya hidup di dalam kasih Allah.

Bagaimana mengembangkan dan hidup di dalam kasih Allah itu?

Pertama, Kita harus belajar untuk merasakan dan memahami Kasih Allah
“Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.” [Efesus 3:17-18]

Sebelum kita bisa mengasihi orang lain, kita harus bisa merasakan dan memahami betapa dalamnya Tuhan mengasihi kita.

Mengapa Tuhan menginginkan kita untuk belajar merasakan dan memahami betapa besar kasihNya lepada kita?
Sebab “Kita dapat mengasihi karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita.” [1 Yohanes 4:19]. Cobalah belajar untuk melihat besarnya kasih Allah: Dia telah menebus semua dosa dan menanggung semua sakit penyakit kita. Dia telah mengangkat derajat hidup kita. Dia telah memberikan orang-orang yang baik dan mengasihi kita.

Mengapa begitu penting merasakan kasih Tuhan? Karena orang-orang yang tidak dikasihi [merasa dikasihi] cenderung sulit mengasihi orang lain. Ketika seseorang tidak merasakan kasih yang tulus dan sejati, ia cenderung tidak bisa mengasihi orang lain, sebab kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki.

Seorang anak yang merasa dikasihi oleh keluarganya dan orang-orang di sekitarnya, ia cenderung bisa menghargai dan bersikap ramah dengan orang lain. Sebaliknya seorang anak yang tidak merasa dikasihi, ia cenderung menarik perhatian yang negatif, bersikap kasar dan kurang menghargai orang lain.

Belajar mengasihi berarti belajar untuk merasakan dan memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.

Kedua, Kita harus belajar berpikir dengan pikiran Kasih
”dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” [Filipi 2:4-5]

Apakah arti berpikir dengan pikiran Kristus? Kita harus belajar untuk mulai memberikan perhatian kepada kebutuhan orang lain; masalah-masalah orang lain; keinginan dan harapan orang lain; atau luka-luka orang lain bukan hanya menaruh perhatian kepada kepentingan sendiri.

Faktanya, orang yang terluka cenderung melukai orang lain. Jika seseorang melukai kita sesungguhnya ia melakukan itu karena ia sedang terluka. Apa yang perlu kita lakukan untuk menghadapi mereka? Seharusnya, kita tidak hanya memperhatikan kelemahan atau kejahatan mereka tetapi kita pun harus belajar untuk memikirkan alasan perbuatannya dengan cara melihat kebutuhan mereka. Kita harus belajar melihat kebutuhan mereka. Mereka butuh dikasihi, dihargai atau diterima.

Saya pernah mendengar kesaksian tentang seorang Pendeta, ketika ia sedang berjalan kaki menuju kediamannya tiba-tiba dihadang oleh seorang laki-laki sambil menodongkan pisau. Laki-laki itu meminta semua uang dan benda berharga. Pendeta itu dengan tenang dan lembut berkata, “Saya tidak membawa uang yang cukup untuk diberikan kepada Anda namun apabila Anda berkenan datanglah ke rumah saya, di sana saya masih menyimpan sejumlah uang dan saya akan berikannya kepada Anda. Laki-laki itu tidak dapat tahan menghadapi Pendeta itu, ia berlutut sambil menangis dan memohon maaf atas tindakannya. Namun demikian, Pendeta tersebut tetap mendesaknya untuk menerima sejumlah uang yang disimpannya itu. Pada akhirnya, laki-laki itu mengambil keputusan untuk bertobat dan mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Pendeta itu telah berpikir dengan pikiran kasih. Ia berhasil melihat tindakan laki-laki itu sebagai reaksi dari kebutuhan hidup yang tidak dapat di atasinya. Namun, ketika ia berpikir dengan pikiran kasih justru ia telah menyelamatkan jiwa laki-laki tersebut.

Seringkali, kita menemukan orang-orang yang menjengkelkan. Kalau kita mau belajar untuk berpikir dengan pikiran kasih, kita akan berpikir bahwa justru merekalah orang-orang yang paling membutuhkan kasih dari kita. Kita tidak boleh mengatasi dengan kemarahan dan membalas mereka yang telah menjengkelkan kita. Kemarahan kita justru akan menguatkan cengkraman Iblis atas hidup mereka. Belajarlah berpikir dengan pikiran kasih; ucapkanlah perkataan yang mengandung damai sejahtera dan perkataan berkat untuk mereka sebab semua itu akan melemahkan cengkraman Iblis atas hidup mereka.

Kita tidak bisa mengubah perasaan kita tetapi kita dapat mengubah cara berpikir kita tentang orang yang telah menjengkelkan kita. Ketika kita mengubah cara berpikir mengenai seseorang secara bertahap kita sedang mengubah perasaan hati kita terhadap orang tersebut.

Kita harus belajar mengganti cara berpikir yang hanya memperhatikan kelemahan, kejelekan atau kejahatan orang tersebut sebaiknya kita mulai berpikir mengenai kebutuhan-kebutuhannya, semuanya itu akan mengubah perasaan kita, menjadi perasaan yang penuh kasih.

Mulailah belajar berpikir dengan pikiran kasih.

Ketiga, Kita harus belajar mengampuni musuh-musuh kita.
”Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” [Kolose 3:13]

Adalah tidak mungkin untuk mengasihi seseorang dengan sungguh-sungguh dan pada saat yang sama jengkel atau dendam dengan orang lain. Hati kita harus utuh. Kita tidak bisa sungguh-sungguh mengasihi pasangan kita jika kita masih marah dengan orang tua kita. Kita tidak bisa mengasihi anak-anak kita jika kita masih marah dengan pasangan kita.

Kita tidak bisa memberikan kasih yang sepenuhnya saat hati kita tercemar dengan racun kebencian. Kita mungkin masih mempunyai masalah dengan masa lalu dan menyimpan dendam dan kebencian terhadap seseorang. Inilah penyebab mengapa kita tidak bisa mengasihi pasangan kita.

Apabila kita mau belajar mengasihi orang lain sekarang, kita harus menutup pintu terhadap kekecewaan dan kepahitan masa lalu. Hanya ada satu caranya yaitu mengampuni. Ampunilah orang-orang yang telah melukai diri Anda. Pengampunan adalah untuk kepentingan Anda sendiri bukan karena dia layak untuk diampuni. Apabila Anda melakukannya maka hati Anda akan pulih dan Anda dapat mengasihi sepenuh hati orang-orang yang Anda kasihi.

Penutup:
Kasih Allah adalah kekuatan yang dahsyat. Salib Kristus adalah wujud dan bukti kasih Allah. Kasih yang telah membinasakan perbuatan Iblis yaitu Dosa, kutuk, sakit penyakit, kelemahan, kemiskinan, kematian.

Kunci mengalami kemenangan dan kebahagiaan adalah memiliki kasih Allah dan hidup di dalam kasih-Nya. Anda harus belajar untuk merasakan Kasih dengan mengakui betapa besar kasih Anda kepada Allah dan firman-Nya; berpikir dengan pikiran kasih dan belajar mengampuni.

“Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.  Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” ( Matius 16:17-18 )

Apa?

Apa Yesus tidak tahu siapa Simon yang sebenarnya? Tempramental, banyak omong, sok tahu. Banyak orang yang sebisa mungkin menghindari diri dari dirinya. Mungkin sudah tidak terhitung berapa banyak orang yang terkena getah kepahitan dari dirinya.

Sepertinya Yesus terlalu berani mengambil resiko untuk menyebut Simon sebagai Petrus. Keberatan nama, karena tidak sesuai dengan karakternya. Selama ini dia selalu bersikap ‘plin-plan’ – tidak punya pendirian. Sementara nama Petrus berarti batu karang. Sangat tidak cocok!

Tapi itulah Yesus…

Selalu membuat yang tidak cocok menjadi cocok. Dia ahli merubah segala sesuatu. Tuhan selalu melihat yang manusia tidak bisa lihat. Itu adalah keahlianNya.

Manusia hanya bisa melihat Simon adalah ilalang, sang ‘trouble maker’, tapi Tuhan bisa melihat bahwa dia sesungguhnya adalah batu karang. Tidak peduli dia pernah tenggelam, tidak peduli dia dicap sebagai jagonya pembuat masalah, bahkan tidak peduli dia pernah menyangkali Yesus sampai tiga kali. Yesus sanggup melihat bahwa Simon adalah Petrus. Titik.

Dengan mengubah namanya, Tuhan sedang menaruh identitas yang baru dalam diri Simon. Dengan terus menyebut namanya yang baru, sebetulnya Tuhan sedang membuat ciptaan yang baru.

Barang rongsokan di daur ulang menjadi barang yang sangat berharga.

Setelah sekian lama manusia mempertanyakan keputusan Tuhan mengubah nama Simon, akhirnya manusia bisa melihat bahwa Tuhan tidak pernah salah. Petrus menjadi rasul yang dahsyat, memenangkan banyak jiwa, bahkan rela menjadi martir demi nama Yesus. Benar-benar batu karang.

Hal yang sama juga dialami oleh Yakub, sang penipu ulung. Semua pernah merasakan ‘hasil karyanya’. Bahkan pamannya sendiri menjadi korbannya. Semua orang tahu siapa Yakub yang sebenarnya.

Lagi-lagi Tuhan menunjukan kreatifitasNya yang tanpa batas. Dia suka sekali membuat manusia geleng-geleng kepala. Ya, itulah keahlianNya, membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Allah sendiri yang mengubah nama Yakub menjadi Israel yang berarti Pangerannya Allah. Benar-benar nama yang tidak cocok dengan karakternya, bukan?

Justru dari Yakub lahirlah bangsa Israel, bangsa yang besar, bangsa pilihan, dan bangsa yang lebih dari pemenang.

Karena dosa, manusia menerima identitas yang rusak dan hancur. Yesus datang untuk memulihkannya.

Sayang sekali banyak orang yang lebih memilih untuk berjalan dengan identitas lamanya sebagai pecundang. Padahal Tuhan menetapkan kita untuk terus naik dan tidak turun, menjadi kepala dan bukan ekor, diberkati dan bukan dikutuk.

Tanamkan identitas yang baru ini kuat-kuat dalam pikiran dan hati kita, dengan terus mengucapkannya (sama seperti Yesus yang terus memanggil nama Petrus, dan tidak pernah lagi menyebut nama Simon). Kita akan melihat hasil perubahan yang menakjubkan dalam hidup kita, dan Tuhan akan tersenyum dan berkata:”benar-benar cocok!”

Allah kita adalah Allah yang maha besar. Dia Penguasa atas segala sesuatu dan berdaulat atas segala sesuatu. Selama ini mungkin kita berpikir bahwa Dia akan selalu berpikir besar-besar dan tidak mau mengurusi yang kecil-kecil.

Tapi ternyata….

Gideon, seorang anak yang paling kecil, berasal dari suku yang terkecil dari suku-suku Israel, dan juga punya nyali yang kecil.

Dia tinggal di gua karena takut menghadapi musuh-musuh Israel yang setiap kali datang dan merampas hasil pertanian dan harta benda mereka.

Tersembunyi, terkecil, terabaikan.

Tuhan justru datang kepadanya dan mengangkat dia menjadi pahlawan dengan mengalahkan musuh-musuh yang besar hanya dengan pasukan yang kecil. Pasukan seperti pasir dilautan dipecundangi oleh pasukan Gideon yang hanya berjumlah 300 saja.

Daud,  seorang anak yang juga paling kecil, diperlakukan berbeda dari kakak-kakaknya.

Dipercaya pekerjaan yang kecil yaitu menggembalakan 2-3 ekor ternak saja. Tentunya dia dapat gaji yang kecil pula, bukan? Apakah dia masih bisa menabung? Pertengahan bulan mungkin sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Ibu-ibu sepertinya segan untuk menjodohkan dia dengan anak-anak gadisnya. “Anakku nanti mau dikasih makan apa?”, mungkin begitu pikir mereka.

Ketika Samuel datang untuk mencari calon raja pengganti Saul yang tidak taat, Isai hanya menampilkan pesona kakak-kakaknya yang berjalan diatas catwalk.

Tersembunyi, terkecil, terabaikan.

Tetapi Tuhan punya selera yang berbeda. Dia suka dengan yang kecil-kecil. Ketika akhirnya Daud muncul dihadapan Samuel, Tuhan langsung bertitah kepada Samuel untuk segera mengurapinya.

Tahukah siapa yang mengalahkan Goliath, si badan besar yang tidak bersunat itu? Daud-lah orangnya.

Pakai apa? AK-47? M16? granat? roket? nuklir?

bukan….

Hanya batu yang kecil yang dipungut oleh Daud di dasar sungai.

Tersembunyi, terkecil, terabaikan…

“Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.  Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya. Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.  Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”  Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”  Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”  Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.” (Yohanes 5:1-9)

Pada hari itu adalah hari raya orang Yahudi. Sebagai orang Yahudi tulen, seharusnya Yesus ada ditengah-tengah perayaan. Seharusnya Yesus secara aktif mengambil peranan (hmm mungkin sebagai anggota paduan suara, atau sebagai usher, kolektan, atau pendoa…)

Tapi ternyata Yesus malah pergi ke Yerusalem menuju kolam Bethesda.

Banyak orang saat-saat ini malah kehilangan Tuhan justru di dalam pertemuan-pertemuan ibadah kita. Banyak orang berpikir setiap kita melakukan sesuatu bagi Tuhan, untuk menyenangkan Tuhan, tetapi justru Tuhan tidak ada disitu.

Kita bisa kehilangan Tuhan di saat kita sedang melakukan sesuatu bagi Tuhan karena ternyata Tuhan sedang bergerak ke tempat lain.

“pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.” (Lukas 3:2)

Hal yang sama juga dialami oleh Imam Besar. Seharusnya Hanas dan Kayafas sebagai Imam Besar yang ‘normalnya’ mendapatkan pewahyuan dari sorga. Kenyataannya Firman Tuhan tidak datang kepada mereka, tetapi justru kepada Yohanes. Bukan orang-orang yang berjubah imam yang halus dan lembut, tapi justru kepada orang yang berseru-seru di padang gurun dengan  berpakaian kulit binatang yang kasar. Bukan pula di Bait Allah, tetapi justru di padang gurun yang gersang.

Ini waktunya untuk kita menyadari bahwa seharusnya kita yang mau ikut kemana Tuhan pergi dan bukan Tuhan yang ikut kita.

Tuhan yang harusnya atur hidup kita dan bukan kita yang atur Tuhan.

“Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” (Yohanes 12:26)

Sadar atau tidak seringkali kita berdoa kepada Tuhan, tetapi yang ditunggu-tunggu adalah manusia. Kita membawa agenda atas nama Tuhan, tetapi ternyata didalamnya banyak sekali agenda pribadi kita yang kita sodorkan kepadaNya. Acara yang harus begini atau begitu, doa dengan model begini atau begitu, yang semuanya kita kerjakan tetapi tanpa kita konsultasikan dulu dengan Tuhan.

Tidak usah heran jika ibadah kita menjadi kering dan suam. Karena sesunguhnya Tuhan sendiri tidak diharapkan hadir dan malah diabaikan.

Itulah sebabnya Yesus memilih untuk ‘jalan-jalan’ ke kolam Bethesda di Yerusalem dibandingkan menghadiri perayaan Yahudi yang sifatnya sangat agamawi.

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap (Lukas 5:1-9)

Suatu kali Yesus menghampiri 2 perahu di tepi pantai yang para nelayannya sedang kesal karena setelah semalam-malaman mereka melaut mereka tidak mendapatkan hasil sedikitpun. Dalam kondisi yang seperti itu, Yesus naik ke dalam perahu Simon.

Apakah itu suatu kebetulan? mengapa perahu Simon? mengapa bukan perahu lainnya?

Dari kejadian ini kita bisa melihat bahwa Tuhan begitu detail dalam tindakannya dan selalu bekerja di dalam kerangka kekekalanNya.

Jauh sebelum Simon lahir ke dunia ini Tuhan sebetulnya telah menetapkan Simon untuk menjadi salah seorang muridNya. Setelah waktu Tuhan tiba, Yesus menghampiri Simon dengan menaiki perahunya.

Disinilah Tuhan ingin menunjukan siapakah Dia yang sebenarnya, sebab Simon selama ini hanya mengetahui bahwa Yesus itu pengajar yang luarbiasa, atau tabib yang pandai menyembuhkan orang (bahkan Simon tahu kalau ibu mertuanya yang sakit juga disembuhkan oleh Yesus), atau Simon juga tahu kalau Yesus seorang anak tukang kayu. Hanya itu……

Sampai pada hari itu tiba….

Setelah Yesus selesai mengajar, Dia menyuruh Simon untuk bertolak ketempat yang dalam dan mulai menebarkan jala.

“Apa-apaan ini?”

“Apakah Yesus tidak tahu kalau ini sudah siang hari, mana mungkin bisa dapat ikan?”

“Semua juga tahu kalau saat yang terbaik untuk menangkap ikan adalah malam hari.”

“Sok tahu betul Anak tukang kayu ini!!” Lebih baik dia membantu bapaknya membuat meja atau kursi.

Kasihan Simon, dia serba salah. Kalau dia tolak permintaan Yesus, sepertinya dia tidak bisa membayangkan reaksi orang-orang yang ada disekitar Yesus yang mungkin jumlahnya saat itu mencapai ratusan atau bahkan ribuan orang. Ya…Yesus sangat terkenal. Sementara kalau dia ikuti kemauanNya, bisa-bisa dia ditertawakan oleh teman sejawatnya. Dia bisa dicap sebagai orang gila karena menangkap ikan di siang hari.

Untungnya Simon berani mengambil resiko. Dia ikuti permintaan Yesus.

Coba lihat, justru didalam ketaatannya (sekalipun mungkin dai tidak tulus dalam melakukannya), Simon melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ikan-ikan yang sangat besar jumlahnya dengan senang hati melompat masuk ke dalam jalanya Simon!

Siapa Yesus ini? Simon langsung ketakutan dan sujud menyembah Yesus.

Keren… Cara Yesus untuk menarik perhatian Simon sangatlah kreatif.

Saat itulah Yesus menyatakan dirinya sebagai Adonai yang artinya adalah Tuan, Master, Pemilik.

Dialah Pemilik atas segala sesuatu yang ada atas alam ini. Dialah Tuan segala tuan.  Dia jugalah Pemilik atas ikan-ikan yang ada di danau Genesaret itu. Tidak heran mengapa mujizat terjadi. Adalah hal yang sangat mudah bagi Yesus untuk memerintahkan ikan-ikan untuk masuk ke dalam jalanya Simon.

Yesus ingin mengajarkan kepada Simon (dan juga kepada kita tentunya) bahwa segala sesuatu berasal dari Dia, oleh Dia, dan untuk kemuliaanNya. Pekerjaan kita, pelayanan kita, bahkan segala harta kekayaan yang ada semua adalah milikNya. Kita hanyalah sebagai pengelola, yang dipercayakan Tuhan untuk menjadi kemuliaan bagiNya.

Ketika kita menganggap bahwa semua yang kita miliki adalah hasil dari kekuatan kita, kepandaian kita dan pengalaman kita, akan ada satu titik dimana semuanya itu didapati nol besar, sia-sia.

Ayub sendiri mengatakan dengan telanjang aku dilahirkan dan dengan telanjang pula aku akan kembali.

Akui Dia sebagai Adonai dalam hidup kita, maka Tuhan akan buktikan kuasaNya. Tuhan sanggup mengubah dari krisis kepada kelimpahan. Putus asa Tuhan ganti dengan pengharapan. Jala yang kosong, Tuhan ubah menjadi hampir koyak oleh karena banyaknya hasil tangkapan.

Setelah Simon mengakui Dia sebagai Adonai barulah Tuhan bisa pakai Simon menjadi salah seorang dari muridNya.

Ketika Tuhan melihat kita jatuh dalam dosa, Tuhan akan datang dalam hidup kita sebagai Juru Selamat, namun ketika Tuhan mau memakai hidup kita untuk kemulianNya, maka Dia akan mendatangi kita sebagai Tuan atas hidup kita.

Untuk keselamatan, kita peroleh dengan cuma-cuma melalui kematian dan kebangkitanNya. Namun untuk mengikuti Dia, kita harus melepaskan hak kepemilikan kita dan mengakui bahwa hanya Dialah yang berkuasa atas hidup kita.

‘Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.’ (Matius 13:44)

Banyak orang percaya yang tidak menikmati Kerajaan Sorga, meskipun tidak kehilangan keselamatan karena reaksi mereka tidak menunjukan bahwa dia menikmati Kerajaan Sorga. Hal ini berulang-ulang terjadi dalam hidup.

Ketika kita lahir baru, kita dipindah dari gelap kepada terang yang ajaib. Kita bisa melihat dunia ini menjadi lebih indah.  Memang keselamatan membuat kita berubah. Sama seperti bila kita sedang jatuh cinta dengan seseorang, maka segalanya akan tampak indah.

Tetapi lama kelamaan kita akan menjadi jenuh dan bosan. Mengapa? Karena sebetulnya Tuhan telah siapkan kemuliaan yang lebih besar lagi.

Misalnya, kita melihat apa yang dahulu menjadi kesenangan duniawi kita bila dibandingkan dengan keselamatan yang diberikan oleh Sang Raja Yesus Kristus kita menjadi bersukacita karena kita melihat yang lebih baik ada dihadapan kita yaitu kita memperoleh harta Kerajaan Sorga.

Harta itu membuat kita semakin kaya. Tapi kita akan ditawarkan tingkatan kemuliaan yang lebih tinggi. Harganya? Sama dengan waktu kita menerima keselamatan. Apa itu? Kita harus rela meninggalkan kemuliaan yang lama semuanya, untuk mendapatkan kemuliaan yang lebih besar lagi.

‘Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.’ (Matius 13:45-46)

Pedagang ini sebelumnya telah mendapatkan yang bagus-bagus menjadi miliknya. Tetapi ketika dia menemukan mutiara yang menjadi pencarian bertahun-tahun dia rela menjual semua hartanya untuk mendapatkan mutiara yang dia cari.

‘Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!’ (Mazmur 51:14)

Tuhan meminta kita untuk memiliki sukacita dan kerelaan untuk melepaskan semua kemuliaan yang terdahulu untuk mendapatkan pertumbuhan kerohanian yang lebih tinggi.

‘Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. (Markus 4:16-17)

Syaratnya adalah sukacita dan hati yang rela. Bukan hanya sukacita saja tetapi juga harus rela supaya tidak tersandung, kecewa dan akhirnya murtad.

‘Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.’ ( Matius 12:28 )

Orang yang berani melepas akan mendapatkan Kerajaan Allah, dan orang yang mendapatkan Kerajaan Allah meiliki ciri, bahwa dia berjalan dalam kuasa dan otoritas Kerajaan Allah.

‘Setibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu serta ibunya. Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: “Jangan menangis; ia tidak mati, tetapi tidur.” Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak itu telah mati. Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: “Hai anak bangunlah!” Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu.’ (Lukas 8:51-56)

Kalau kita melihat ayat diatas, maka kita akan mendapati bahwa ada murid-murid Yesus yang sangat spesial dan dikhususkan. Pada saat mujizat yang luarbiasa, pada saat Tuhan dimuliakan, dan bahkan pada saat Yesus sedang sangat sedih, hanya tiga orang ini yang menyaksikan.

‘Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.’ (Matius 17:1-3)

‘Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku berdoa.” Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.”‘ (Markus 14:32)

Mengapa Tuhan menonjolkan ketiga orang ini? Sebab didalam diri mereka ada tiga karakter yang Tuhan mau untuk gerejaNya miliki. Ketiga orang ini merupakan kombinasi yang luarbiasa.

PETRUS

‘Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.’ (Matius 14:22-29)

Disaat orang banyak berteriak : “Itu hantu!” Petrus justru berani mengambil resiko dengan mengatakan:”Kalau itu Engkau TUHAN, suruh aku berjalan di atas air!”.

Seringkali didalam kegerakan, pendengaran dan penglihatan kita dikotori oleh suara-suara dan pandangan-pandangan yang pesimis. Mereka mengatakan : “Kalau memang itu Tuhan, kenapa ada angin sakal?, mengapa ada goncangan? , jangan-jangan sesat!”

Justru pada saat-saat seperti itu gereja Tuhan harus berani menjadi ‘risk taker’‘ untuk memecahkan kebuntuan. Kita harus berani mengambil resiko demi nama Tuhan, supaya kegerakan Tuhan di akhir jaman ini bisa terus berlangsung.

YOHANES

‘Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.’ (Yohanes 21:1-7)

Pada saat murid-murid Yesus -bahkan termasuk Simon Petrus- tidak bisa mengenali siapa yang berbicara kepada mereka untuk menebarkan jala di sebelah kanan perahu, Yohanes murid yang dikasihi Yesus bisa mengenal pribadi Tuhan.

Yohanes paling mengenal isi hatinya Tuhan, tidak kabur ketika Yesus disalib. Yohanes adalah rasul yang memiliki ketajaman yang diperolehnya karena menjalin keintiman dengan Tuhan.

YAKOBUS

‘Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.’ (Kisah Para Rasul 12:1-2)

Dalam Perjanjian Lama ada hewan yang memang dikembangbiakan khusus untuk pentahiran Bait Allah yaitu lembu merah. Yakobus dijadikan Tuhan untuk jadi yang sulung dari 12 rasul untuk menjadi martir/korban. Dimana justru setelah itu Injil semakin luas diberitakan di mana-mana. Tidak ada kemuliaan tanpa salib.

Ketiga karakter yang dimiliki oleh Petrus, Yohanes dan Yakobus inilah yang harus dimiliki oleh gereja Tuhan untuk bisa menjadi ‘The Dream Team’nya Tuhan.

Kalau selama ini kita berpikir bahwa Allah tidak pernah memberi ruang kepada manusia untuk berpendapat, rasanya kita perlu merenung untuk kita bisa merubah pikiran kita. Hal inilah yang membuat kita merasa selalu jauh dengan Pencipta kita. Sekalipun Dia adalah Allah yang berdaulat, tetapi ternyata Tuhan sangat menghargai pendapat dari manusia.

Sebetulnya Dia selalu ingin dekat dengan kita, hanya saja sikap agamawi kitalah yang justru menjadikan kita menjauh dari Dia. Kita berpikir Tuhan hanya bisa didekati dengan segala ritual-ritual keagamaan kita. Tidak heran kita seringkali merasa ‘kehilangan’ Tuhan ketika kita keluar dari gedung gereja. Kita selalu berpikir bahwa Allah begitu kaku, arogan, ingin menang sendiri, dan tidak akan mau mendengar pendapat dari kita.

Padahal sepanjang Alkitab, Allah memiliki hubungan yang istimewa dengan banyak orang. Tuhan berbicara dengan Musa seperti seorang bicara kepada sahabatnya, sementara dalam kitab Yakobus dikatakan bahwa Abraham adalah sahabat Allah.

Dalam hubungan persahabatan Tuhan tidak mau menyembunyikan sesuatu kepada sahabatnya. Tuhan ingin berbagi hal-hal yang rahasia, bahkan yang sangat rahasia.

Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?
Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” ( Kejadian 18:17-18 )

Allah punya rencana akan menghancurkan Sodom karena dosa-dosanya dan Abraham diberitahu oleh Allah sendiri akan rencanaNya. Ketika itu Abraham tidak langsung mengangguk-anggukan kepala kepada Tuhan, tetapi dia merasa bebas berinteraksi dengan Tuhan tanpa rasa takut karena dia tahu bahwa Tuhan pasti menghargai pendapatnya.

‘Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?”‘ (Kejadian 18:23-25)

Bagi orang-orang agamawi sikap Abraham adalah sikap yang kurang ajar, ‘nyeleneh’ . dan tidak mungkin terampuni. Tetapi bagi para sahabat Allah, sikap Abraham adalah sikap yang menunjukan kehangatan dan kedekatan yang luarbiasa. Ternyata Allah ingin sedemikian dekatnya dengan kita, dan Dia sangat senang untuk berinteraksi dengan kita sekalipun Dia adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa penuh atas seluruh alam semesta ciptaanNya ini.

Masih ingin jauh-jauh dengan Dia?

‘Berkatalah penduduk kota itu kepada Elisa: “Cobalah lihat! Letaknya kota ini baik, seperti tuanku lihat, tetapi airnya tidak baik dan di negeri ini sering ada keguguran bayi.” Jawabnya: “Ambillah sebuah pinggan baru bagiku dan taruhlah garam ke dalamnya.” Maka mereka membawa pinggan itu kepadanya. Kemudian pergilah ia ke mata air mereka dan melemparkan garam itu ke dalamnya serta berkata: “Beginilah firman TUHAN: Telah Kusehatkan air ini, maka tidak akan terjadi lagi olehnya kematian atau keguguran bayi.” Demikianlah air itu menjadi sehat sampai hari ini sesuai dengan firman yang telah disampaikan Elisa.’        (2 Raja-raja 2:19-22)

Pada suatu kali Elisa sampai di kota Yerikho, kota yang megah, kuat, aman, dan memiliki letak yang strategis. Sepertinya tidak ada masalah yang terjadi, sampai akhirnya penduduk kota itu sendiri yang menyampaikan keluhan bahwa air yang menjadi kebutuhan pokok manusia di kota itu tidak baik dan telah menyebabkan keguguran bayi.

Memang sering kita tertipu dengan tampak luar. Apa yang terlihat baik di luar belum tentu ada kebaikan di dalamnya. Air bicara atmosfir kehidupan, yang seharusnya di dalam kehidupan orang percaya muncul berbual-bual. Disaat Yesus yang adalah Sumber Kehidupan itu ada dalam hati kita, sudah sewajarnya kalau kehidupan itu terus mengalir dan bahkan bisa dirasakan oleh orang-orang disekitar kita.

Tetapi bagaimana bila kita pada kenyataannya harus berhadapan dengan situasi atau atmosfir kehidupan yang tidak baik, misalnya suasana kerja yang memiliki persaingan yang tidak sehat, penuh kecurigaan dan prasangka.

Tidak bisa dipungkiri seringkali kita harus menghadapi orang-orang yang tidak memiliki air kehidupan di dalam dirinya tetapi malah air yang mendatangkan kematian dan bahkan menyebabkan terjadinya keguguran visi atau mimpi atas orang-orang yang ada di sekelilingnya. Contohnya adalah orang-orang yang berkarakter sulit didekati,  mendominasi, dan tidak mau tersaingi.

Sebetulnya tugas Elisa adalah menjadi bagian dari tugas kita juga sebagai orang-orang percaya yang harus mengubah setiap atmosfir kematian menjadi atmosfir yang mendatangkan kehidupan. Bagaimana caranya?

Pertama-tama Elisa memerintahkan untuk dibawakan pinggan yang baru, bukan pinggan yang lama yang bolong-bolong dan berkarat. Secara profetis bisa diartikan bahwa kita harus senantiasa menggunakan manusia baru kita dan membuang jauh-jauh karakter manusia lama kita.

‘Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;’ (Kolose 3:5-10)

Yang berikutnya Elisa memerintahkan untuk menaruh garam kedalam pinggan itu. Garam bicara soal kesaksian hidup kita. Bila kesaksian hidup kita menjadi tawar, orang dunia tidak akan memandang kita dan bahkan akan merendahkan kita.

‘Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.’ (Matius 5:13)

Sekalipun kita berada ditengah-tengah atmosfir kehidupan yang tidak baik, kita tidak boleh menyerah kalah, bahka kita harus terus menerus menaburkan garam, menaburkan kesaksian Kristus kepada orang-orang di sekeliling kita.

Kitalah yang harusnya mendatangi orang-orang yang memiliki sumber kematian di hatinya, kemudian kita menaburkan kebaikan, kemurahan, kerendahan hati dan kesabaran secara terus menerus kepada orang-orang itu. Kita belajar memberkati orang yang membenci kita, mengampuni orang yang memusuhi kita.

Kitalah yang harus berinisiatif untuk secara aktif membawa kehidupan dimanapun kita berada. Mengembalikan semangat yang patah, visi yang pudar dan mimpi-mimpi yang hilang. Bagian kita adalah membawa pinggan baru yang berisi garam didalamnya dan menaburkan garam itu ke sumber mata air kematian. Bagiannya Tuhan adalah menyehatkan dan mengubah sumber air kematian menjadi sumber air kehidupan.

Mordekhai itu pengasuh Hadasa, yakni Ester, anak saudara ayahnya, sebab anak itu tidak beribu bapa lagi; gadis itu elok perawakannya dan cantik parasnya. Ketika ibu bapanya mati, ia diangkat sebagai anak oleh Mordekhai. (Ester 2:7)

Ester adalah seorang gadis yatim piatu berbangsa Yahudi yang diadopsi oleh Mordekhai. Seorang biasa yang hidup sederhana. Sepertinya nasib kehidupannya tidak akan mengalami perubahan. Dari hari ke hari kehidupan yang dia jalani adalah kehidupan yang biasa dijalani oleh orang-orang kebanyakan.

Sampai pada satu titik dia mengalami promosi yang luarbiasa yaitu menjadi ratu menggantikan ratu Wasti yang saat itu disingkirkan oleh raja karena membuat pesta sendiri diluar dari pesta yang diselenggarakan raja.

Mengapa Ester dipromosikan sedemikian sehingga mengubah seluruh kehidupannya?

Ternyata dalam kekekalanNya Tuhan telah melihat ada masa dimana Haman akan berkonspirasi untuk memusnahkan bangsa Yahudi. Tuhan harus mencari seseorang yang taat, rendah hati dan peduli dengan orang lain untuk bisa melakukan rencana Tuhan menyelamatkan bangsa pilihan Tuhan ini. Dari sekian banyak orang yang ada, Tuhan menjatuhkan pilihannya kepada Ester.

Jadi Ester diangkat oleh Tuhan bukan untuk kepentingan dirinya sendiri tetapi dia harus masuk ke istana untuk memberikan pengaruh kepada keputusan-keputusan raja, terutama yang berkaitan dengan masalah bangsa Yahudi.

Terbukti Ester mengerti betul mengapa dia dipromosikan Tuhan menjadi ratu. Ketika menghadapi kejahatan Haman, dia tidak melarikan diri sekalipun nyawanya sebagai seorang Yahudi juga terancam. Bahkan dia berani meresikokan dirinya untuk menghadap raja. Jika pada waktu menghadap, raja tidak berkenan kepada dirinya tentunya dia akan dihukum mati.

Ester bisa saja menggunakan fasilitas kerajaan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dia bisa saja bersikap egois dan tidak peduli dengan bangsanya. Bukannya tidak bisa tetapi dia tidak mau melakukannya, bahkan sebaliknya dia berjuang habis-habisan untuk menjalankan tugas yang Tuhan percayakan kepadanya.

Inilah waktunya buat setiap kita harus bertanya kepada Tuhan, apa yang menjadi bagian kita yang harus kita kerjakan. Tuhan mempromosikan kita bukan untk membuat kita sombong, arogan dan angkuh. Tetapi semakin kita dipercaya, semakin juga kita dituntut untuk semakin rendah hati, dan bisa meradiasikan Kristus melalui hidup kita kepada orang-orang yang ada disekitar kita.

‘Hiram, raja negeri Tirus, mengirim utusan kepada Daud dan kayu alas, tukang-tukang kayu dan tukang-tukang batu; mereka mendirikan istana bagi Daud. Lalu tahulah Daud, bahwa TUHAN telah menegakkan dia sebagai raja atas Israel dan telah mengangkat martabat pemerintahannya oleh karena Israel, umat-Nya.’ (2 Samuel 5:11-12)

Daud, seorang yang hatinya melekat kepada Tuhan tidak hanya bertanya kepada Tuhan dikala dia mengalami jalan buntu dan kesusahan. Ternyata dia juga bertanya kepada Tuhan ketika dia mengalami promosi. Dia bertanya untuk apa dan mengapa Tuhan mempromosikan dirinya.

Daud dipromosikan Tuhan bukan karena kuat dan gagahnya Daud, dan juga bukan karena paras, pengalamannya. Tetapi karena Israel, umatNya.

Ada kepentingan yang jauh lebih besar yang harus kita penuhi ketika promosi itu datang dalam hidup kita. Bukan unttuk membuat kita serakah dan arogan, tapi justru harus lebih melayani dan rendah hati.

Daud tidak langsung menerima mahkota, tongkat kerajaan dan istana yang megah sekalipun dia telah diurapi oleh Samuel untuk menjadi raja. Sepertinya ada penundaan. Mengapa? karena Tuhan ingin menguji hatinya Daud.

‘Lalu Daud pergi dari sana dan melarikan diri ke gua Adulam. Ketika saudara-saudaranya dan seluruh keluarganya mendengar hal itu, pergilah mereka ke sana mendapatkan dia. Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang.’ (1 Samuel 22:1-2)

Daud ternyata bukan orang yang egois dan mementingkan dirinya sendiri. Dia bersedia untuk menolong orang dalam kesusahan dan masalah. Sekalipun dia sendiri sebetulnya sedang ada dalam masalah besar yaitu menjadi buronan raja Saul yang berniat ingin membunuhnya.

Daud tidak pernah memandang rendah orang lain. Justru dia membapai 400 orang yang sangat bermasalah. Hasilnya memang luarbiasa karena dari situlah muncul pahlawan-pahlawan triwira yang gagah perkasa.

Daud berani meresikokan dirinya, membagi-bagi kehidupannya bagi banyak orang. Ternyata inilah ujian bagi Daud dan Tuhan melihat Daud memang memiliki karakter yang cakap unttuk menjadi raja atas Israel. Raja yang tidak hanya puas dengan kekayaan yang dia miliki, tetapi dia juga menaruh peduli kepada orang-orang di sekitarnya.

Siapa yang tidak menyukai kemenangan? Semua orang sangat suka dengan suasana kemenangan. Tapi tahukah kita ada musuh bebuyutan yang justru menyerang pada saat kita sedang menikmati kemenangan? Jangan sampai kita begitu merasa aman karena pintu depan sudah diduduki, kita malah kebobolan di pintu belakang.

Di satu sisi kita melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana Tuhan saat-saat ini sedang bergerak dengan kekuatan dan kedahsyatanNya. Kuasa Tuhan yang tidak terbantahkan sedang didemonstrasikan dengan cara-cara yang spektakuler. Kita sedang ada dalam perkenanan Tuhan yang luarbiasa. Pintu gerbang Surga sedang terbuka lebar. Anak-anak Tuhan sedang dipromosikan secara terang-terangan di hadapan dunia ini.

Namun di sisi lain Tuhan mengingatkan kita untuk tidak ‘overconfidence’ atau mabuk kemenangan agar kita tidak kehilangan kewaspadaan kita. Iblis justru seringkali menyerang anak-anak Tuhan yang sedang merasa kuat dan perkasa. Mereka menjadi sangat lengah karena mereka berpikir iblis tidak mungkin menyerang ditengah-tengah ‘perayaan’ kemenangan.

Bila kita melihat sejarah kebangunan rohani atau revival yang terjadi di seluruh dunia, kita akan mendapati suatu fakta bahwa seringkali iblis membuat jatuh anak-anak Tuhan disaat kemuliaan Tuhan sedang dinyatakan besar-besaran. Bahkan di Alkitab kita juga menjumpai hal-hal yang serupa.

Ada musuh yang sangat ditakuti oleh bangsa Israel yaitu bangsa Amalek. Mereka adalah ’spesialis’ penyerang pintu belakang. Amalek adalah keturunan Esau yang menjual hak kesulungan. Suatu bangsa keturunan orang yang tidak bisa menghargai atau menganggap rendah hal-hal yang rohani. Arti dari Amalek sendiri adalah ‘dweller in a valley’. Suatu bangsa yang senang dengan kehidupan di lembah dan ingin agar orang-orang lain juga ada di tempat yang sama seperti mereka.

Dalam Hakim-hakim 6 dikisahkan bagaimana setelah bangsa Israel selesai menabur maka bangsa Median dan bangsa Amalek menyerang Israel dan merampas semua ternak dan menginjak-injak tanah pertanian yang baru saja ditaburi benih. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Inilah yang membuat bangsa Israel banyak yang pindah ke gua-gua persembunyian. Mentalitas mereka jatuh, dan mereka trauma, hingga akhirnya Tuhan membangkitkan Gideon yang memimpin bangsa Israel untuk mengalahkan musuh-musuhnya.

Dalam 1 Samuel 30 dikisahkan pada saat Daud mengalahkan musuh-musuhnya dan mereka mendapatkan hasil rampasan yang sangat banyak, mereka justru mendapati tempat tinggal mereka di Ziglag dibakar oleh bangsa Amalek. Keluarga mereka ditawan, harta mereka dirampas. Dalam sekejap mentalitas pasukan Daud jatuh, dan bahkan mereka ingin melempari pemimpin mereka dengan batu. Memang pada akhirnya mereka bisa membebaskan keluarga mereka dan merebut kembali kekayaan mereka, tetapi mereka sudah ‘kecolongan’ dan akhirnya mereka harus membayar ekstra untuk kelengahan seperti ini.

Bagaimana mengalahkan Amalek?

Ketika Yosua berperang melawan Amalek, Musa ada diatas gunung dan mengangkat tangan. Ini bicara bahwa strategi harus berasal dari tempat yang Maha Tinggi yaitu di Secret Place-nya Tuhan. Angkat tangan berarti benar-benar berserah dan mengakui bahwa hanya tuhan saja yang menjadi sumber kemenangan. Bukan kekuatan kita sendiri.

Ketika Musa lelah, tangan Musa ditopang oleh Kaleb dan Harun. Ini bicara bahwa kita tidak boleh sendiri. Kita harus punya komunitas yang sehat, yang berani menegur bila kita salah, dan bersedia mendampingi di saat kita lemah.

Ketika serangan Amalek terjadi, ingatlah jangan mau kita ditarik ke lembah. Lembah penyesalan, lembah putus asa, lembah menyalahkan diri sendir aatu menyalahkan orang lain. Status kita dalah orang-orang yang lebih dari pemenang dan bukan pecundang. Deklarasikan Firman Tuhan, perkatakan dengan suara keras setiap Firman yang menyatakan bahwa bersama dengan Tuhan kita pasti menang!

Sepertinya sejak manusia jatuh ke dalam dosa, identitas manusia sebagai anak-anak Kerajaan telah diputarbalikan oleh iblis. Tujuan tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghilangkan kemampuan kita untuk berkuasa atas bumi ini seperti yang ada dalam kitab Kejadian 1. Hasilnya adalah kita menjadi manusia-manusia yang lemah, terintimidasi, dan tidak berotoritas.

Sebetulnya untuk itu pulalah Yesus Kristus mati bagi kita, yaitu untuk mengembalikan identitas kita yang sebenarnya. Kita bukan lagi menjadi budak dosa, tetapi kita telah diubahkan menjadi anak-anak Kerajaan Allah. Sayangnya identitas ini seringkali hanya menjadi ‘label’ dalam hidup kita, tanpa kita mengerti apa yang menjadi hak dan bagian yang bisa kita dapatkan sebagai anak-anak Allah.

Akibatnya, sekalipun kita telah ditebus oleh darah Yesus Kristus, kita tetap merasa diri kita tidak berdaya dan lemah. Ini waktunya bagi kita untuk benar-benar menyadari identitas kita yang sebenarnya dan berjalan dengan identitas yang baru ini. Kita harus segera tersadar dari mimpi-mimpi buruk masa lalu kita dimana kita terus-menerus diperbudak oleh dosa, dan melihat kedepan bahwa Tuhan sebenarnya menciptakan kita adalah untuk menegakan Kerajaan Sorga.

Tanpa mengetahui identitas kita yang sebenarnya, maka sebetulnya membuat kita terus-menerus berputar-putar di padang gurun kehidupan kita. Kita akan semakin jauh dari kemenangan, jauh dari tanah perjanjian kita yang penuh susu dan madu.

Dari awal penciptaan sampai hari ini Tuhan selalu serius dengan masalah identitas ini. Karena identitas ini adalah pintu gerbang dimana kita bisa melihat dan menggunakan segala berkat, kekuatan, dan sumberdaya dari sorga yang memang menjadi hak kita untuk menolong dan memampukan kita untuk menggenapi apa yang Tuhan rencanakan atas hidup manusia yaitu untuk menegakan Kerajaan Allah dan untuk berkuasa atas bumi ini.

Hadirkanlah sorga di bumi ini, dengan mengerahkan segala potensi, talenta, kemampuan yang Tuhan berikan atas kita. Ini waktunya hukum-hukum dunia digantikan dengan hukum-hukum dari Kerajaan Allah.

Perubahan identitas adalah hal yang mutlak kalau kita ingin berjalan dalam dimensi Kerajaan Allah. Contoh nyata yang ada dalam Alkitab misalnya Yakub yang berarti penipu. Tuhan ubah menjadi Israel yang artinya Pangeran Allah sehingga perjanjian yang Tuhan telah ikat sebelumnya melalui Abraham dan Ishak, juga bisa dinikmati oleh Yakub, yang adalah ‘benih’ dari bangsa pilihan Tuhan.

Gideon seorang yang paling muda dari suku yang terkecil di Israel yang merasa dirinya seorang pengecut, Tuhan perlu berjumpa dengan dia secara pribadi untuk mengatakan bahwa dia adalah pahlawan yang gagah perkasa.

Simon, salah seorang murid Yesus yang namanya berarti ‘ilalang’, Tuhan berkata kepada dirinya bahwa sesungguhnya dia adalah Petrus yang berarti ‘batu karang’, untuk kemudian Petrus bisa menjalankan fungsinya untuk mendirikan pondasi gereja mula-mula dengan memanifestasikan kuasa dan otoritas.

Saulus, yang sebelumnya adalah orang yang mengejar dan menangkapi orang-orang percaya. Melalui cahaya yang membutakan Tuhan berjumpa dengan dirinya dan mengubah namanya menjadi Paulus, seorang rasul yang radikal dan menyebarkan Injil Kerajaan Allah dimanapun Tuhan utus.

Demikian juga dengan kita. Tuhan TIDAK PERNAH merancangkan kecelakaan, kutuk, sakit penyakit, kekalahan, intimidasi dan kelemahan dalam hidup kita. RancanganNya atas hidup kita adalah rancangan damai sejahtera. Untuk itu Tuhan memberikan kita kesehatan, kepandaian, hikmat, berkat, perlindungan dan bahkan kuasa dan otoritas demi kita bisa menjalankan fungsi kita sebagai agen Kerajaan Allah.

Ini waktunya kita menyadari dan berjalan dengan identitas baru kita, yaitu identitas sebagai pangerannya Allah.

Apakah anda tahu bahwa Tuhan memakai proses yang amat dapat diramalkan untuk membentuk karakter anda? Saya menyebut proses ini sebagai ”Enam Fase Proses Iman”. Jika anda tidak mengerti proses ini, anda akan kehilangan semangat ketika masalah atau problem itu timbul. Anda akan menyangka : “Mengapa hal ini terjadi dalam hidupku?”.

Namun jika anda mengerti dan bekerja sama dengan apa yang Tuhan kerjakan dalam pelayanan anda, iman anda – seperti halnya otot yang menerima regangan – akan mengembangkan kekuatan yang besar.

Fase 1 : Sebuah Mimpi

Tuhan memberikan anda mimpi – satu gagasan, tujuan atau ambisi. Setiap hal besar yang harus diselesaikan pada mulanya diawali sebagai satu mimpi yang diberikan Tuhan dalam benak seseorang. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita (Efesus 3:20)

Fase 2 : Satu Keputusan

Satu mimpi tidaklah berharga kecuali anda memutuskan untuk melakukan sesuatu tentangnya. Untuk setiap 10 mimpi, hanya ada satu pengambil keputusan. Ini adalah momen kebenaran dimana anda memutuskan untuk menginvestasikan waktu, uang, energi dan reputasi anda dan membiarkan yang namanya keamanan diri itu enyah dari hidup anda. Jika anda ingin berjalan diatas air – anda harus keluar dari perahu : ”Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. (yakobus 1:6,8)

Fasa 3 : Satu Penundaan atau Penantian

Selalu ada jenjang waktu sebelum mimpi anda menjadi kenyataan. Tuhan memakai penantian ini untuk mengajar kita mempercayai diriNya. Ingatlah, satu penantian bukanlah satu pembatalan. Kedewsaan ialah pemahaman terhadap perbedaan antara ”tidak” dan ”belum”. Tuhan mengatakan : ”Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. (Habakuk 2:3)”

Fasa 4 : Suatu Kesulitan

Kini masalah-masalah mulai timbul. Dua tipe masalah yang paling umum : ”kritik” dan “situasi atau keadaan”. Janganlah kuatir!. Itu semua ada dalam bagian rencana Tuhan. “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. (1 Petrus 1:6-7)

Fasa 5 : Akhir Kematian!

Situasi anda akan berubah semakin buruk dari sulit menjadi mustahil. Anda akan terpojok ke sudut ring, anda meraih tali ring yang terakhir; kelihatannya tidak ada harapan. Selamat! anda sedang berada di tepian mujizat. Percayai Tuhan. Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. (2Korintus 1:8-9)

Fasa 6 : Satu Kelepasan

Tuhan menyediakan satu jawaban supranatural. Secara ajaib, jawaban itu terjatuh di tempatnya! Tuhan mengasihi hingga membalikkan penyaliban menjadi kebangkitan supaya anda dapat melihat kebesaranNya. ”Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! (Mazmur 27:13)(nat)

(dari : Rick Warren Saddleback Church – CBN.com)

Ada orang-orang tertentu yang seolah-olah dilahirkan untuk menjadi orang yang sukses dalam pergaulan. Dengan mudahnya mereka dapat menjalin persahabatan setiap bertemu dengan teman yang baru. Bukan itu saja, persahabatan mereka pun biasanya bertahan sampai kekal. Sebaliknya, ada pula orang-orang yang justru mengalami kesukaran dalam pergaulan. Tema “disalah mengerti” merupakan tema pokok hidup mereka meski mereka tak henti-hentinya berusaha mengoreksi diri. Banyak faktor yang terlibat yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan kita dalam pergaulan, salah satunya adalah gaya kita berkomunikasi.

Tanpa kita sadari, sebenarnya gaya komunikasi itu sendiri adalah bagian dari isi berita yang kita komunikasikan. Pada umumnya orang yang sukses dalam pergaulan bukan saja memahami dampak gaya komunikasinya pada orang lain, ia pun telah berhasil mengubahnya menjadi gaya komunikasi yang luwes dan menyenangkan. Gaya komunikasinya bukan saja tidak mengganggu isi berita yang ingin ia sampaikan, malah gayanya yang luwes itu menambah kekuatan atau bahkan adakalanya melengkapi kekurangan isi berita yang ingin ia kemukakan. Di bawah ini saya mencoba menjabarkan TUJUH GAYA KOMUNIKASI YANG TIDAK SEHAT. Mudah-mudahan dapat menolong kita memperbaiki keterampilan yang sangat penting ini.

Ungkapan yang biasanya terlontar dari dirinya adalah, “Saudara seharusnya sudah mengerti maksud saya.” Si Penganggap umumnya melakukan satu kesalahan yang cukup serius dalam komunikasi, yakni menganggap orang lain pasti memahami isi hatinya. Sebelum kita menganggap orang lain sudah menangkap maksud kita, kita perlu mengecek ulang, apakah benar ia sudah memahami pembicaraan kita. Gaya komunikasi seperti ini acap kali membuahkan kekecewaan dan bahkan kemarahan.

Orang ini berpikir, “Bukankah sudah saya katakan semuanya itu?!” namun sesungguhnya yang terjadi adalah ia memang belum mengemukakan seluruh pikirannya — baru sepenggal saja. Sewaktu kita berbicara, kecepatan pikiran kita bergerak dari satu topik ke topik yang lainnya tidaklah sama dengan kecepatan lidah kita mengungkapkan isi pikiran itu sendiri. Bagi Si Sepenggal, pikirannya bergerak telalu cepat atau lidahnya terlalu lamban sehingga maksud hatinya tidak tertuang sepenuhnya melalui bahasa ucapan. Masalahnya ialah, ia tidak menyadari hal ini, sehingga dalam benaknya, ia sudah mengatakan semua yang ingin ia sampaikan. Si Sepenggal rentan terhadap frustasi karena komunikasinya menjadi terpotong-potong dan sudah tentu, membuka pintu terhadap kesalahpahaman.

Ucapan Si Peremeh pada umumnya ditandai dengan kalimat sejenis ini, “Kenapa tidak mengerti-mengerti?” atau “Memang bodoh kamu!” Si Peremeh memiliki satu masalah yang lumayan serius yakni ia memperlakukan semua orang sama seperti dirinya. Alhasil, apabila orang lain tidak bisa mengikuti kemauan atau pikirannya, ia pun marah. Sewaktu marah, bukannya ia melihat bahwa memang orang lain berbeda dengannya, ia justru memandang perbedaan sebagai kekurangan di pihak orang lain. Gaya komunikasi ini cenderung merusakkan hubungan dengan orang lain. Siapa saja yang pernah disakitinya akan menjaga jarak karena tidak mau terluka lagi.

Si Penyenang mempunyai satu misi dalam hidupnya, yakni menyenangkan hati semua orang. Akibatnya, tema seperti ini sering keluar dari bibirnya, “Saya akan lakukan apa saja bagimu asal kamu bahagia.” Bicara dengan Si Penyenang memang bisa menyenangkan karena ia akan mengangguk-angguk saja, namun biasanya gaya komunikasi ini dapat mendangkalkan relasi pribadi. Sukar sekali untuk mengetahui hati Si Penyenang karena ia tidak terbuka. Ketidakterbukaannya itu juga cenderung membuatnya menumpuk semua perasaan dalam hati. Kalau tidak tertahankan, ia mudah menjadi orang tertekan dan tidak bahagia.

Kita bisa lupa dan adakalanya sengaja melupakan peristiwa tertentu. Malangnya, Si Pelupa lupa dan melupakan terlalu banyak hal dan frekuensinya terlalu sering. Ia acap kali berujar, “Tidak, saya tidak mengatakan hal itu.” Namun kenyataannya ialah ia mengatakan hal tersebut. Baik lupa atau melupakan informasi yang akhirnya dibutuhkan oleh orang lain cenderung melemahkan kepercayaan orang pada dirinya sendiri. Orang lain dapat membentuk anggapan bahwa Si Pelupa meremehkan atau bisa juga, orang lain menilai bahwa Si Pelupa tidak tulus. Ini bahaya! Komunikasi sangat bergantung pada kepercayaan; tanpa itu, yang mendengar adalah suara belaka.

Repot juga berkomunikasi dengan Si Pendebat karena pembicaraan dengannya cenderung menjadi arena balapan kebenaran. Perhatikan kata- kata yang biasanya keluar dari mulutnya, “Apa benar saya berkata demikian? Apa kamu yakin? Bagaimana dengan dirimu sendiri?” Si Pendebat kaya dengan kata-kata dan gaya berkomunikasinya mirip dengan taktik menyerbu orang lain dengan bombardemen kata-kata. Si Pendebat cenderung melemparkan fokus masalah ke pihak lawannya sehingga ia bebas dari kesulitan. Gaya komunikasi ini bisa menimbulkan rasa tidak suka dan jenuh pada orang lain karena bicara dengannya membuat diri merasa diserang. Lebih jauh lagi, Si Pendebat akhirnya membuat orang beranggapan bahwa ia senantiasa mengelak dari tanggung jawabnya.

Rasa iba, kasihan, simpati adalah beberapa kata yang sering diasosiasikan dengan Si Talenan karena perasaan-perasaan seperti itulah yang timbul tatkala melihatnya. Si Talenan selalu menyediakan dirinya menjadi sasaran tudingan orang lain tanpa benar-benar menyadari di mana letak kesalahannya (kalau memang ada). Ucapan seperti ini cenderung muncul dari bibirnya, “Betul, memang saya yang salah dan sudah sepantasnya dimarahi.” Masalahnya ialah, ia melakukan itu karena tidak berani atau berkekuatan memperhadapkan orang lain dengan kebenaran. Ia tidak suka keributan dan baginya silang pendapat tidaklah bijaksana, jadi, harus dihindarkan. Gaya komunikasi ini sangat merugikan dirinya dan bisa mengundang penghinaan dari orang lain. Orang lain semakin berani berbuat sekehendak hatinya tanpa mempedulikan perasaannya. Namun, bukankah ia jugalah yang memulainya?

Dari penjelasan di atas kita melihat bahwa gaya komunikasi dapat memancarkan kepribadian kita yang sesungguhnya, namun bisa pula merupakan gaya yang dipelajari. Adakalanya untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain, kita terpaksa mengikuti gaya komunikasi yang tertentu. Atau kita belajar dari keluarga kita sendiri sehingga kita menganggap gaya komunikasi kita dipahami semua orang, alias universal. Jika gaya komunikasi kita memang merupakan buah kepribadian sendiri, sudah tentu perlu koreksi. Obat penawarnya ada beberapa, misalnya meminta tanggapan orang lain. Mungkin kita dapat memeriksa ucapan-ucapan kita dengan lebih teliti dan menanyakan, apa kira-kira yang orang lain rasakan (bukan kita, sebab kalau kita, mungkin sekali kita tak merasa apa-apa karena sudah terbiasa) tatkala mendengar kata-kata kita. Kita rela membayar mahal dan menanamkan waktu yang panjang untuk pendidikan kita; ironisnya, kita sering tidak bersedia membayar mahal untuk belajar menyehatkan gaya komunikasi kita. Memang, adakalanya hal yang penting tampaknya sederhana.

(sumber: Buletin Parakaleo Vol.II/No.4/Edisi Oktober-Desember 1995, Penerbit: Departemen Konseling STTRI)

Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” (Markus 4:35-41)

Setiap dari kita pasti lebih suka dengan ketenangan daripada keributan. Kita memilih untuk tinggal di pinggiran kota daripada tinggal ditengah kota yang penuh dengan hiruk-pikuk kehidupan. Pada dasarnya manusia mencari ketenangan dalam hidup.

Demikian juga perjalanan kehidupan kita dengan Tuhan, pasti kita mengharapkan ketenangan dan tanpa goncangan. Tapi tahukah kita bahwa seringkali Tuhan ‘sengaja’ membawa kita ke tengah-tengah mata badai kehidupan?

Yesus tentunya telah mengetahui bahwa akan ada badai malam itu yang akan menerpa daerah disekitar danau, namun ternyata Tuhan malah menyuruh murid-muridNya untuk bertolak keseberang. Sampai disini murid-murid Yesus tidak ada satupun yang menyadari apa yang akan menimpa mereka.

Namun setelah mereka berhadapan dengan badai yang sangat besar tersebut, baru terlihat kedewasaan mereka yang terpancar melalui reaksi mereka.

Pertama-tama terlihat bahwa mereka selama ini sangat mengandalkan pengetahuan dan pengalaman hidup mereka. Murid-murid Yesus adalah mantan nelayan yang sudah bertahun-tahun melaut. Mereka memiliki peraturan tidak tertulis, apa yang harus mereka lakukan kalau menghadapi badai.

Tetapi akhirnya mereka melihat bahwa kali itu badai yang mereka hadapi terlalu besar, sehingga mereka tidak bisa mennghadapinya melalui pengetahuan dan pengalaman mereka. Mereka lebih suka membiarkan Yesus tertidur, dan memilih berjuang sendiri. Inilah gambaran bagi setiap kita yang seringkali membiarkan dan bahkan mengabaikan Yesus ketika kita menghadapi badai, dengan alasan kita lebih mahir dan lebih berpengalaman.

Kedua, Yesus selama ini melihat bahwa murid-muridNya hanya jago melihat mujizat, dan terpesona dengan kesembuhan, tanda-tanda ajaib yang dimanifestasikan oleh Yesus. Padahal Tuhan ingin agar murid-muridNya bukan hanya jago melihat mujizat tapi mereka juga harus hidup dalam alam mujizat.

Nyata benar perbedaan antara reaksi Yesus dengan reaksi murid-muridNya ketika menghadapi badai yang sebetulnya sama-sama sedang mereka alami. Murid-muridNya penuh dengan ketakutan, berteriak-teriak, dan bahkan menyalahkan Tuhan dengan mengatakan :”Apakah Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”. Sedangkan Yesus dengan tenangnya menghadapi badai tersebut dan hanya dengan mengucapkan sepatah-dua patah kata yang mengandung kuasa, membuat badai itu berhenti dan danau itu menjadi teduh sekali.

Yesus sebetulnya ingin mengajarkan murid-muridNya untuk mereka berjalan dan hidup dalam alam mujizat. Di dunia ini memang Allah telah menaruh hukum-hukumNya untuk membuat alam ini berjalan dalam keteraturan ilahi.

Hukum grafitasi membuat semua benda yang dilempar keatas akan selalu kembali jatuh kebawah. Matahari selalu terbit di timur dan terbenam di barat. Atau bila berat jenis suatu benda lebih berat daripada berat jenis air, maka bila benda itu dilemparkan ke air, maka benda itu akan tenggelam.

Sepertinya hukum alam itu sudah tidak mungkin diubah, dan akan selalu berjalan seperti apa adanya. Namun Tuhan Yesus ingin menyingkapkan kepada murid-muridNya bahwa ternyata diatas semua hukum alam yang sepertinya tidak mungkin diubah, ada hukum yang jauh lebih kuat, lebih hebat dan lebih berkuasa yang disebut sebagai HUKUM FIRMAN.

Inilah hukum yang digunakan oleh Abraham sewaktu dia bergumul menantikan anak yang dijanjikan. Secara kenyataan tubuhnya sudah sangat lemah dan rahim Sara telah tertutup. Secara ilmu pengetahuan tidak mungkin Abraham bisa memiliki keturunan, semua sudah tertutup dan terlihat mustahil. Namun Abraham mengetahui bahwa SURAT KEPUTUSAN DARI SORGA telah memutuskan bahwa Abrahan akan mempunyai anak. Keputusan Tuhan inilah yang bisa membatalkan dan membuat pengecualian terhadap hukum alam dan ilmu pengetahuan yang sepertinya sudah tidak mungkin berubah.

seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa” —di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. (Roma 4: 17)

Abraham mengetahui dahsyatnya hukum Firman ini yang bisa membuat dari yang tidak ada menjadi ada.

Bagaimana hukum Firman ini bekerja?

Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. (2 Korintus 4:13)

Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17)

PERCAYA dan BERKATA-KATA adalah 2 hal yang penting untuk membuat hukum Firman ini bekerja. Apa yang kita katakan sebetulnya menjadi wujud dari apa yang kita percayai.

Firman yang kita ucapkan akan terdengar oleh pendengaran kita kemudian masuk kedalam roh kita. Inilah yang membuat iman itu muncul, dan melakukan sesuatu.

Inilah yang dipraktekan oleh Allah sendiri ketika menciptakan langit dan bumi. Dia cukup mengucapkan sepatah dua patah kata yang penuh dengan kuasa, maka perkataan Allah, yang mengandung imannya Allah itulah yang menciptakan sesuatu, dari yang tadinya tidak ada menjadi ada.

Ini waktunya anak-anak Tuhan dimuka bumi mendirikan Kerajaan Allah dan memerintah penuh dengan kuasa dan otoritas.