Skip navigation

Kalau selama ini kita berpikir bahwa Allah tidak pernah memberi ruang kepada manusia untuk berpendapat, rasanya kita perlu merenung untuk kita bisa merubah pikiran kita. Hal inilah yang membuat kita merasa selalu jauh dengan Pencipta kita. Sekalipun Dia adalah Allah yang berdaulat, tetapi ternyata Tuhan sangat menghargai pendapat dari manusia.

Sebetulnya Dia selalu ingin dekat dengan kita, hanya saja sikap agamawi kitalah yang justru menjadikan kita menjauh dari Dia. Kita berpikir Tuhan hanya bisa didekati dengan segala ritual-ritual keagamaan kita. Tidak heran kita seringkali merasa ‘kehilangan’ Tuhan ketika kita keluar dari gedung gereja. Kita selalu berpikir bahwa Allah begitu kaku, arogan, ingin menang sendiri, dan tidak akan mau mendengar pendapat dari kita.

Padahal sepanjang Alkitab, Allah memiliki hubungan yang istimewa dengan banyak orang. Tuhan berbicara dengan Musa seperti seorang bicara kepada sahabatnya, sementara dalam kitab Yakobus dikatakan bahwa Abraham adalah sahabat Allah.

Dalam hubungan persahabatan Tuhan tidak mau menyembunyikan sesuatu kepada sahabatnya. Tuhan ingin berbagi hal-hal yang rahasia, bahkan yang sangat rahasia.

Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?
Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” ( Kejadian 18:17-18 )

Allah punya rencana akan menghancurkan Sodom karena dosa-dosanya dan Abraham diberitahu oleh Allah sendiri akan rencanaNya. Ketika itu Abraham tidak langsung mengangguk-anggukan kepala kepada Tuhan, tetapi dia merasa bebas berinteraksi dengan Tuhan tanpa rasa takut karena dia tahu bahwa Tuhan pasti menghargai pendapatnya.

‘Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?”‘ (Kejadian 18:23-25)

Bagi orang-orang agamawi sikap Abraham adalah sikap yang kurang ajar, ‘nyeleneh’ . dan tidak mungkin terampuni. Tetapi bagi para sahabat Allah, sikap Abraham adalah sikap yang menunjukan kehangatan dan kedekatan yang luarbiasa. Ternyata Allah ingin sedemikian dekatnya dengan kita, dan Dia sangat senang untuk berinteraksi dengan kita sekalipun Dia adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa penuh atas seluruh alam semesta ciptaanNya ini.

Masih ingin jauh-jauh dengan Dia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: