Skip navigation

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap (Lukas 5:1-9)

Suatu kali Yesus menghampiri 2 perahu di tepi pantai yang para nelayannya sedang kesal karena setelah semalam-malaman mereka melaut mereka tidak mendapatkan hasil sedikitpun. Dalam kondisi yang seperti itu, Yesus naik ke dalam perahu Simon.

Apakah itu suatu kebetulan? mengapa perahu Simon? mengapa bukan perahu lainnya?

Dari kejadian ini kita bisa melihat bahwa Tuhan begitu detail dalam tindakannya dan selalu bekerja di dalam kerangka kekekalanNya.

Jauh sebelum Simon lahir ke dunia ini Tuhan sebetulnya telah menetapkan Simon untuk menjadi salah seorang muridNya. Setelah waktu Tuhan tiba, Yesus menghampiri Simon dengan menaiki perahunya.

Disinilah Tuhan ingin menunjukan siapakah Dia yang sebenarnya, sebab Simon selama ini hanya mengetahui bahwa Yesus itu pengajar yang luarbiasa, atau tabib yang pandai menyembuhkan orang (bahkan Simon tahu kalau ibu mertuanya yang sakit juga disembuhkan oleh Yesus), atau Simon juga tahu kalau Yesus seorang anak tukang kayu. Hanya itu……

Sampai pada hari itu tiba….

Setelah Yesus selesai mengajar, Dia menyuruh Simon untuk bertolak ketempat yang dalam dan mulai menebarkan jala.

“Apa-apaan ini?”

“Apakah Yesus tidak tahu kalau hari sudah terang, mana mungkin bisa dapat ikan?”

“Semua juga tahu kalau saat yang terbaik untuk menangkap ikan adalah malam hari.”

“Sok tahu betul Anak tukang kayu ini!!” Lebih baik dia membantu bapaknya membuat meja atau kursi.

Kasihan Simon, dia serba salah. Kalau dia tolak permintaan Yesus, sepertinya dia tidak bisa membayangkan reaksi orang-orang yang ada disekitar Yesus yang mungkin jumlahnya saat itu mencapai ratusan atau bahkan ribuan orang. Ya…Yesus sangat terkenal. Sementara kalau dia ikuti kemauanNya, bisa-bisa dia ditertawakan oleh teman sejawatnya. Dia bisa dicap sebagai orang gila karena menangkap ikan di siang hari.

Untungnya Simon berani mengambil resiko. Dia ikuti permintaan Yesus.

Coba lihat, justru didalam ketaatannya (sekalipun mungkin dai tidak tulus dalam melakukannya), Simon melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ikan-ikan yang sangat besar jumlahnya dengan senang hati melompat masuk ke dalam jalanya Simon!

Siapa Yesus ini? Simon langsung ketakutan dan sujud menyembah Yesus.

Keren… Cara Yesus untuk menarik perhatian Simon sangatlah kreatif.

Saat itulah Yesus menyatakan dirinya sebagai Adonai yang artinya adalah Tuan, Master, Pemilik.

Dialah Pemilik atas segala sesuatu yang ada atas alam ini. Dialah Tuan segala tuan.  Dia jugalah Pemilik atas ikan-ikan yang ada di danau Genesaret itu. Tidak heran mengapa mujizat terjadi. Adalah hal yang sangat mudah bagi Yesus untuk memerintahkan ikan-ikan untuk masuk ke dalam jalanya Simon.

Yesus ingin mengajarkan kepada Simon (dan juga kepada kita tentunya) bahwa segala sesuatu berasal dari Dia, oleh Dia, dan untuk kemuliaanNya. Pekerjaan kita, pelayanan kita, bahkan segala harta kekayaan yang ada semua adalah milikNya. Kita hanyalah sebagai pengelola, yang dipercayakan Tuhan untuk menjadi kemuliaan bagiNya.

Ketika kita menganggap bahwa semua yang kita miliki adalah hasil dari kekuatan kita, kepandaian kita dan pengalaman kita, akan ada satu titik dimana semuanya itu didapati nol besar, sia-sia.

Ayub sendiri mengatakan dengan telanjang aku dilahirkan dan dengan telanjang pula aku akan kembali.

Akui Dia sebagai Adonai dalam hidup kita, maka Tuhan akan buktikan kuasaNya. Tuhan sanggup mengubah dari krisis kepada kelimpahan. Putus asa Tuhan ganti dengan pengharapan. Jala yang kosong, Tuhan ubah menjadi hampir koyak oleh karena banyaknya hasil tangkapan.

Setelah Simon mengakui Dia sebagai Adonai barulah Tuhan bisa pakai Simon menjadi salah seorang dari muridNya.

Ketika Tuhan melihat kita jatuh dalam dosa, Tuhan akan datang dalam hidup kita sebagai Juru Selamat, namun ketika Tuhan mau memakai hidup kita untuk kemulianNya, maka Dia akan mendatangi kita sebagai Tuan atas hidup kita.

Untuk keselamatan, kita peroleh dengan cuma-cuma melalui kematian dan kebangkitanNya. Namun untuk mengikuti Dia, kita harus melepaskan hak kepemilikan kita dan mengakui bahwa hanya Dialah yang berkuasa atas hidup kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: