Skip navigation

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka—segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda—sampai ke tengah-tengah laut. Dan pada waktu jaga pagi, TUHAN yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu. Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkata: “Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab Tuhanlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir.” Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda.” Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah TUHAN mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka.” ( Keluaran 14:21-28 )

Adrenalin bekerja luarbiasa, jantung berdetak kencang, perasaan takut, kuatir dan gentar bercampur jadi satu. Semuanya ada dalam diri Musa, seorang yang dipakai Tuhan justru di usia yang lanjut.

Di depan dia ada laut Teberau yang luas dan dalam, sementara dia sendiri bersama-sama dengan bangsa Israel yang kepala-kepala mereka lebih keras dari batu cadas, ditambah lagi di belakangnya ada tentara Mesir yang mengejar rombongan dengan kecepatan penuh. (Aduh, kenapa becak melawan ferarri? Sungguh tidak adil)

Belum lagi suara-suara bising dari bangsa pilihan Tuhan ini. “Kau ingin membuat kuburan massal? Mengapa engkau membuat Firaun marah besar? Lebih baik tinggal di Mesir, setidaknya kami mati dengan perut kenyang!”

“Arrrrgh…..mengapa aku Tuhan, mengapa aku?”, mungkin begitu seruan Musa didalam hatinya.

Genting, mencekam, tegang…di ujung tanduk…

“Apa? Ujung tanduk? Wah, itu tempat kesukaanKu!””Aku senang sekali mendirikan tahtaKu di ujung-ujung tanduk kehidupan manusia.”

Ya, itulah Tuhan kita. Justru pada waktu kita tidak berdaya, kuasa Tuhan akan sempurna dinyatakan melalui kehidupan kita.

Pada saat pasukan Mesir semakin mendekat, Tuhan justru membuka jalan dengan membelah air laut menjadi dua sehingga bangsa Israel dapat menyeberang. Tepat waktu.

Bukan hanya itu. Tuhan mengubah posisinya sehingga ada di barisan paling belakang dari bangsa Israel dengan tiang awanNya yang menimbulkan kegelapan yang sangat pekat. Pasukan Mesir kocar-kacir, mereka tidak dapat melihat satu dengan yang lainnya.

Ternyata tahta Tuhan akan menimbulkan terang dan membuka jalan bagi orang-orang yang percaya kepadaNya, tetapi juga menimbulkan kegelapan dan kebingungan di antara orang fasik.

Kita semua tahu akhir dari kisah ini. Bangsa Israel berhasil lolos dari pengepungan. Bangsa Mesir mengalami kekalahan yang luar biasa besar.

Ujung tanduk merupakan tempat yang paling disukai Tuhan untuk mendirikan tahtaNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: