Skip navigation

Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. ( Yohanes 8:2-9 )

Orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat adalah mereka yang sangat terbiasa dengan Firman Tuhan. Secara lahiriah mereka ingin menunjukan bahwa mereka lebih saleh dari yang lainnya. Tapi sebetulnya mereka menyimpan motivasi yang salah di dalam hati mereka.

Kesalehan, terkadang membutakan mata kita sebagai manusia. Merasa paling benar, paling kudus, sehingga membuat kita seringkali merasa berhak untuk menghakimi kehidupan orang lain.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dengan kasarnya menarik seorang perempuan (benar-benar pria sejati ya???) yang didapati berbuat zinah. Mereka membawanya kehadapan Yesus. Motivasinya hanya untuk mencobai Tuhan. Seringkali merasa diri saleh membuat kita merasa lebih pandai dari Tuhan.

Kali ini mereka kena batunya. Tuhan kok dilawan?

Dengan tenangnya Yesus membungkuk dan menulis sesuatu di atas tanah. Santai sekali, dan Dia tidak langsung menunjukan murkaNya. Tenang, tapi menghanyutkan. Sebenarnya apa yang Yesus tulis?

Banyak yang menafsirkan, bahwa sebetulnya Yesus sedang menulis dosa-dosa orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Disaat mereka berteriak-teriak dan mendesak Yesus untuk berkomentar, Yesus malah menaruh cermin itu di depan mata mereka.

Dengan ketenangan Ilahi yang Dia miliki, Yesus berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Cermin dipasang, mereka semua melihat ke dalam hati mereka masing-masing. Satu persatu dengan rasa malu, mereka mundur teratur meninggalkan perempuan itu seorang diri.

Mungkin tanpa kita sadari kita lebih mudah menghakimi dan mendakwa orang lain daripada melihat diri kita sendiri. Lebih mudah melihat serpihan kayu di hidup orang lain daripada melihat balok di dalam kehidupan kita sendiri. Lupa bahwa kita juga manusia biasa yang memiliki banyak kelemahan. Mulut kita lebih mudah mengucapkan kata-kata dakwaan. Mata kita lebih mudah melihat kesalahan. Sementara hati kita telah kehilangan kasih. Lupa bahwa tidak ada satupun manusia yang benar dihadapan Tuhan, jika bukan Tuhan yang membenarkan kita melalui darahNya yang menebus dosa kita.

Semua adalah karena anugerahNya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: