Skip navigation

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, maka putuslah hubungan kita dengan Bapa di sorga. Kita kehilangan Sumber segala sumber. Kita kehilangan jaminan keselamatan, pemeliharaan, dan perlindungan. Manusia mulai bergumul dengan kekuatannya sendiri, sementara hati manusia berseru :“Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda.” Ratapan 5:3, TB.

Sementara itu melihat kejatuhan manusia, Bapa di sorga merancangkan jalan keselamatan bagi manusia. Allah merespon keadaan dan berkata :

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16, TB. 

 Bapa di sorga juga berkata :

“(68-6) Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus;” Mazmur 68:5, TB. 

Mengapa Bapa di sorga melakukan semuanya ini? Sebab Bapa di sorga tahu bahwa manusia tidak boleh memiliki roh yatim dalam kehidupannya. Keberadaan roh yatim inilah yang membuat manusia tidak bisa maksimal di dalam kehidupannya untuk melakukan kehendak Bapa di sorga.

Roh yatim ini menyerang siapa saja dan dari kalangan mana saja. Orang kaya maupun orang miskin, laki-laki maupun perempuan.

Contohnya dalam Alkitab adalah Yakub. Orang tua Yakub yaitu Ishak adalah orang yang sangat kaya sebab diberkati oleh Tuhan. Tetapi anaknya yang bernama Yakub memiliki roh yatim dalam kehidupannya. Ada area yang kosong dalam hidupnya yang membuat Yakub berjuang untuk memenuhi kebutuhan di area yang kosong ini. Hal inilah yang membuat Yakub melakukan apa saja untuk bisa memenuhi ambisi dan obsesi pribadinya. Tidak peduli dia menipu kakaknya, ayahnya, ataupun memperdaya pamannya Laban dan melukai Lea sebagai istrinya yang pertama. Di dalam dirinya selalu ada perasaan serba tidak cukup atau selalu kurang.

Tetapi Bapa di sorga begitu baik. Untuk menanggulangi roh yatim ini, Bapa di sorga mendatangi Yakub dan memperkenalkan diriNya, bahkan disaat Yakub sedang tidak mencari Tuhan dan merasa butuh Tuhan. Bapa di sorga ingin menjadi Bapa atas Yakub. Sampai pada suatu titik dimana Yakub menyadari dan mengaku bahwa dirinya penipu dan memiliki mentalitas atau roh yatim di hadapan Allahnya, saat itulah Bapa disorga memberikan identitas baru kepada Yakub. Engkau tidak lagi disebut Yakub yang artinya penipu tetapi engkau akan disebut Israel yang artinya pangeranKu. 

 Ada sebuah ilustrasi, dimana ada sebuah keluarga yang sudah memiliki seorang anak kandung. Suami istri di keluarga ini ingin mengadopsi seorang anak. Pergilah mereka ke rumah panti asuhan, dan mengadopsi seorang anak yang mereka pilih. Kasih sayang mereka baik kepada anak kandung maupun kepada anak yang diadopsi sama besarnya. Seharusnya anak yang diadopsi ini memiliki rasa aman karena segala yang diperlukan anak ini sudah dicukupi. Tetapi anak ini masih dikuasai roh yatim dalam hidupnya.

Suatu kali ketika keluarga ini makan bersama di meja makan, sangat terlihat perbedaan sikap antara anak kandung dengan anak yang diadopsi ini.

Anak kandung dari keluarga ini ketika makan, mengambil sepotong daging dan sayur dan mulai memakannya. Sementara anak yang diadopsi ini ketika melihat ada daging dan sayur tersedia didepannya, juga mulai mengambil sepotong daging dan sayur yang sama. Tetapi anak ini kemudian membuka sebuah saputangan diatas meja makan lalu mulai mengambil potongan-potongan daging lainnya dan dibungkus dengan saputangan itu lalu dimasukan ke dalam saku celananya!

Mengapa anak yang diadopsi ini memiliki tingkah laku seperti itu? Dengan jelas terlihat anak ini belum mengerti identitas dia yang sekarang, dan masih terjebak dengan masa lalunya. Masih ada perasaan kuatir dan takut kelaparan, sehingga dia berusaha memenuhi rasa amannya dengan menyimpan daging itu disaku celananya.

Ini adalah gambaran bagaimana roh yatim itu bekerja dan bermanifestasi dalam kehidupan manusia. Manusia tidak percaya akan pemeliharaan dan perlindungan Bapa di sorga. Bahkan bagi setiap kita yang sudah berada dalam penebusan melalui Tuhan Yesus sekalipun, kita juga masih bisa terjebak dalam mentalitas roh yatim ini. Semuanya terjadi karena kita tidak menyadari identitais kita yang sekarang di hadapan Bapa di sorga.

 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.” 1 Petrus 2:9, 10, TB. 

 Ayat diatas adalah identitas kita yang baru melalui Yesus Kristus. Dahulu kita bukan umatNya dan tidak dikasihani. Tetapi sekarang kita telah menjadi umatNya dan beroleh belas kasihan. Allah ingin manusia menyadari identitasnya yang terkini karena melalui kita Allah berkehendak untuk kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia.

Misalnya:

Ketika kita diminta untuk mengembalikan perpuluhan, kita berpikir Allah ingin mengambil uang kita dan kita berpikir nanti tidak akan cukup untuk kebutuhan sehari-hari. 

Padahal Firman Tuhan berkata :“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Filipi 4:19, TB.

Ketika kita diminta untuk menjalankan Amanat Agung yaitu untuk menjadi saksi dan memberitakan kabar baik kita berpikir, saya tidak layak, saya tidak pantas, saya tidak bisa. 

Padahal Firman Tuhan berkata :“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1:8, TB.

Dengan kata lain, kita tidak akan bisa memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan kalau kita masih memiliki mentalitas atau roh yatim dalam hidup kita. Roh yatim membuat kita selalu berada dalam keadaan kuatir, takut, tidak aman, minder, tidak percaya diri, merasa tidak layak, tidak pantas, merasa tidak bisa, takut gagal, takut ditertawakan, takut ditolak, serba tidak cukup, serakah, tidak peduli dengan perasaan orang lain, dll.

Saatnya bagi kita untuk menyadari identitas kita yang baru di hadapan Bapa di Sorga. Kita tidak lagi yatim karena Bapa di sorga ingin menjadi Allah dan Bapa bagi kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s