Skip navigation

Disaat orang yang diharapkan memimpin pertempuran menolak untuk muncul,dia maju dan membawa bangsa Israel mengalami kemenangan. Seorang perempuan yang bernama Debora muncul dengan menakjubkan.

Padahal tidaklah mudah menjadi seorang Hakim atau pemimpin Israel. Tetapi Debora adalah hakim Israel yang ke empat dan dia adalah satu-satunya perempuan yang menjadi Hakim. 

Selain itu Debora juga menjadi seorang nabiah. Tentunya dia harus terus berjalan dengan takut akan Tuhan, terus melatih dirinya untuk dengar-dengaran akan suara dan tuntunan Tuhan

Pada jaman dimana para nabi, hakim dan juga jabatan politik di Israel umumnya adalah laki-laki, nampaknya hal itu tidak berlaku bagi Debora.

Memiliki ketegasan untuk menyampaikan suara Tuhan kepada bangsanya, enak atau tidak enak. Meskipun ada resiko untuk berhadapan dengan orang-orang yang tidak menyukai dirinya. Tetapi dia menempatkan kepentingan Tuhan diatas segalanya.

Keberaniannya yang bahkan melebihi keberanian Barak, janganlah dilihat sebagai sikap ingin mendominasi, tetapi karena ada penyertaan Roh Allah atas dirinya. 

Meskipun ada banyak hal-hal besar yang dikerjakan, tidak membuat dia menjadi lupa diri. Terbukti setelah mengalami kemenangan terhadap bangsa Kanaan, dia dan Barak bersama bangsa Israel memuji-muji Tuhan dan mengingatkan bahwa Tuhanlah yang membawa bangsa Israel kepada kemenangan. 

Menjadi penting untuk membangun sikap mengandalkan Tuhan senantiasa. Nampaknya itulah yang dilakukan Debora, yang membuat dia berhasil memimpin Bangsa Israel selama 40 tahun dalam kedamaian.

Tuhan bisa pakai siapa saja, yang mau berjalan bersamaNya.

Siapa yang tak kenal dengan Paulus yang sebelumnya dikenal sebagai Saulus? Seorang tokoh kontroversial di zamannya. Pria dari Tarsus, penganut agama Yahudi garis keras yang terkenal karena banyak menganiaya para pengikut Yesus.

Menjadi sangat terpelajar dan pandai berdebat, dididik dengan sangat hati-hati dibawah pimpinan Gamaliel yang adalah seorang rabi Yahudi yang sangat dihormati. Saulus bertumbuh besar dalam lingkungan kaum Helenis, menjadi orang yang sungguh-sungguh memelihara tradisi Yahudi.

Ya, dia adalah penganut mazhab paling keras dalam agama Yahudi.

Tak heran dia tumbuh menjadi sosok penganiaya paling kejam bagi mereka yang percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Dia juga setuju kalau Stefanus haruh dihukum mati.

Seseorang yang punya kedudukan yang disegani, dengan otoritas yang sedemikian besar, sepertinya membuat dirinya tidak bisa disentuh oleh siapapun.

Namun si penentang Yesus, justru disayang Yesus

Pada suatu hari, Saulus hendak menghadap majelis pemuka agama Yahudi di kota Damsyik, untuk menyerahkan surat kuasa dari Imam Besar yang berisi keterangan penugasannya, yaitu agar jika dia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti jalan Tuhan, dia punya kuasa untuk menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem untuk diadili dan dihukum.

Dalam perjalanan ke Damsyik itulah tiba-tiba dia diterpa sinar kemuliaan yang membutakan matanya selama tiga hari dan disertai oleh suara Tuhan Yesus yang mengasihi dia :

”Saulus, Saulus mengapakah engkau menganiaya Aku?”
Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu.”

Seseorang yang merasa dirinya telah mengenal Tuhan, justru tidak mengenal Tuhan sama sekali. Kebutaan yang dialaminya seharusnya membuat dia berpikir kalau selama ini dirinya seperti orang buta yang menuntun orang buta.

Tetapi kasih Yesus kepada dia membuat hatinya diubahkan.

Mata fisiknya seketika menjadi buta, tetapi mata batinnya melihat Kristus. Saulus pun menerima Yesus sebagai Tuhan dan Mesias atas hidupnya.

Melalui bimbingan seseorang yang bernama Ananias, Saulus dibaptis dan namanya berganti menjadi Paulus. Bukan hanya namanya yang berubah, tetapi hatinya pun diubahkan menjadi baru.

Dengan lantang sekarang dirinya berkata:
“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” (Fil. 3:7-8).

Daniel, Hananya, Misael dan Azarya, adalah orang-orang Yehuda yang ikut dibawa ke Babel, setelah raja Babel mengepung Yerusalem dan membawa sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah.

Meskipun nama mereka diubah oleh pemimpin pegawai istana, tetapi hal itu tidaklah mengubah apa yang ada di dalam diri mereka.

Terpilih untuk bekerja di istana raja, tentunya memerlukan suatu standar yang tinggi. Mereka adalah orang-orang yang di dapati bisa memahami berbagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu.

Tentunya harus disadari, kemampuan seperti itu tidaklah diperoleh dalam waktu singkat. Ada hal-hal yang harus mereka bangun dalam kehidupan mereka.

Untuk memiliki pengertian tentang ilmu dan pengetahuan tentulah mereka harus belajar dan kerja keras. Kebiasaan-kebiasaan yang dibangun jauh sebelum mereka dibuang ke Babel.

Menjadi orang-orang yang bisa memahami berbagai hikmat? Mereka sudah terbiasa untuk melekat kepada Sumber Hikmat yang adalah Tuhan semesta alam.

Tidak mudah menjadi penyembah Allah yang hidup ditengah-tengah kumpulan penyembah berhala. Tetapi itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus beribadah kepada Tuhan. Mereka sadar, bahwa tanpa disertai oleh TUHAN, Yang Maha Kuasa, mereka tidak bisa menghasilkan apa-apa dalam kehidupan.

Ambilah sebuah contoh Daniel, yang telah diubah namanya menjadi Beltsazar.

Ketika suatu kali raja bermimpi, suatu mimpi yang menggelisahkan hatinya. Banyak orang pandai cendikia dipanggil,namun mereka tidak bisa mengetahui mimpi raja. Apalagi harus menafsirkannya.

Menjadi teka-teki yang mustahil dipecahkan. Raja menjadi marah dan ingin membunuh orang-orang pandai ini.

Disitulah saatnya Daniel memberanikan diri untuk berdiri di hadapan raja yang sedang murka. Minta diberikan waktu sebelum jawaban diberikan.

Dalam kumpulan orang-orang yang takut akan Tuhan, mereka berdoa meminta jawaban.
Sebuah rahasia yang tersembunyi, bisa disingkapkan. Dengan mudah Daniel menceritakan mimpi raja dan memberikan artinya. Dengan berani Daniel menyatakan bahwa di Sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia.

Jawaban Daniel membuat raja memuliakan Daniel. Dia dianugerahkan begitu banyak pemberian yang besar, dan diangkat menjadi penguasa atas seluruh wilayah Babel dan menjadi kepala semua orang bijaksana di Babel.

Daniel 6:11
Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.

Betul, rahasia dari seorang yang dibuang tetapi justru menjadi terpandang adalah karena dia membangun sebuah kebiasaan untuk berlutut, berdoa serta memuji Allahnya

Kejadian 25:21-28
Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk isterinya, sebab isterinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung. Tetapi anak-anaknya bertolak-tolakan di dalam rahimnya dan ia berkata: “Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?” Dan ia pergi meminta petunjuk kepada TUHAN. Firman TUHAN kepadanya: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.” Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak kembar yang di dalam kandungannya. Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau. Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub. Ishak berumur enam puluh tahun pada waktu mereka lahir. Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah. Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub.

Siapa yang tidak tahu kisah tentang Esau dan Yakub. Kakak beradik yang selalu berebut sesuatu bahkan sejak dalam kandungan mamanya. Karakter keduanya juga sangat berbeda. Yakub adalah seorang yang patuh dan senang diam di tempat kediamannya. Sementara Esau adalah pemburu yang agresif.

Hubungan keduanya semakin menegang semenjak Esau menjual hak kesulungannya kepada Yakub. Puncaknya adalah pada saat Yakub menyamar dan berpura-pura sebagai Esau yang membuat Yakub mendapatkan berkat dari Ayahnya.
Apalagi ayah dan ibunya seperti punya pilihannya masing-masing, siapa yang menjadi anak kesayangan.

Tarik menarik perhatian. Kehausan akan kasih sayang dan pengakuan, sampai akhirnya mereka berpisah jalan. Si penipu dikejar oleh yang tertipu.

Yakub berjalan sendiri, tapi itu tidak membuat dirinya berhenti, karena sesungguhnya ada kekosongan di hati, yang berteriak ingin dipenuhi.

Lagi pula tidak sedikit orang-orang yang ikut terlukai, tetapi sepertinya Yakub tidak peduli asalkan semua yang diinginkannya bisa tercapai.

Itulah saat dimana Allah melakukan intervensi, mendatangi Yakub berulang kali termasuk melalui mimpi.

Benar, hanya dengan hadirnya Allah, hati yang kosong akan dipenuhi dengan kasih.

Allah hadir untuk membawa rekonsiliasi. Hati yang tadinya berselisih, bisa berdamai kembali.

Dengan sabar Allah menanti, untuk Yakub mendatangi Dia yang ahli memulihkan hati.

Hanya dengan hadirnya Allah dalam kehidupan Yakub, membuat Esau berhenti mengejar Yakub, dan hati antar mereka menjadi pulih kembali.

Pulihnya hubungan dengan Allah, membuat pulih hubungan antar pribadi

Pasukan tentara kerajaan Asyur sudah seperti mesin perang. Bisa menghancurkan siapapun yang menghalangi mereka.

Israel sudah dihancurkan oleh mereka. Padahal raja Israel pernah menghabisi 120.000 tentara Yehuda dalam satu malam (2 Tawarikh 28:6). Sekarang sudah tiba saat dimana bangsa Asyur ingin memerangi kerajaan Yehuda.

Terbayang sudah ketakutan yang membayangi raja Yehuda. Israel yang pernah mengalahkan Yehuda, ternyata dengan mudah dikalahkan oleh bangsa Asyur, bangsa yang saat ini mengancam dirinya dan kerajaannya.

Menghadapi Israel saja sudah tidak berdaya, apalagi menghadapi Asyur.

Adalah Hizkia yang menjadi raja Yehuda saat pengepungan Asyur terjadi. Meskipun dilahirkan dari ayah yang dikenal jahat, tetapi Hizkia membangun hidupnya dengan takut akan Tuhan.

Seorang juru minuman raja Asyur dikirim untuk memberikan peringatan terakhir, menyerah atau binasa.

Dengan pongahnya utusan ini menyindir kaum Yehuda :

Maka sekarang, baiklah bertaruh dengan tuanku, raja Asyur: Aku akan memberikan dua ribu ekor kuda kepadamu, jika engkau sanggup memberikan dari pihakmu orang-orang yang mengendarainya. Bagaimanakah mungkin engkau memukul mundur satu orang perwira tuanku yang paling kecil? Padahal engkau berharap kepada Mesir dalam hal kereta dan orang-orang berkuda!

Dua ribu pasukan penunggang kuda? Pasukan Yehuda lebih kecil dari itu!

Tetapi kesombongannya telah sampai di hadapan Tuhan.

Siapakah yang engkau cela dan engkau hujat? terhadap siapakah engkau menyaringkan suaramu, dan memandang dengan sombong- sombong? Terhadap Yang Mahakudus, Allah IsraelTidak ada yang bisa dibandingkan dengan Tuhan, bahkan malaikat malaikatnya sendiri.

Raja Hizkia mengenal siapa Allah yang dia sembah:

Hizkia menerima surat itu dari tangan para utusan, lalu membacanya; kemudian pergilah ia ke rumah TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN

Hizkia berdoa di hadapan TUHAN, katanya: “Ya TUHAN semesta alam, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi

Maka sekarang, ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah TUHAN

Dalam tekanan yang sangat berat, raja Hizkia melangkah ke rumah Tuhan. Tangannya terangkat, hatinya berseru, dia merendahkan diri di hadapan Raja diatas segala raja, Tuhan atas alam semesta.

Keluarlah Malaikat TUHAN, lalu dibunuh- Nyalah seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi- pagi tampaklah, semuanya bangkai orang- orang mati belaka! Sebab itu berangkatlah Sanherib, raja Asyur dan pulang, lalu tinggallah ia di Niniwe. Pada suatu kali ketika ia sujud menyembah di dalam kuil Nisrokh, allahnya, maka Adramelekh dan Sarezer, anak- anaknya, membunuh dia dengan pedang, dan mereka meloloskan diri ke tanah Ararat. Kemudian Esarhadon, anaknya, menjadi raja menggantikan dia

Penulis kitab raja-raja menuliskan hal yang menyatakan bahwa Raja Hizkia adalah raja yang takut akan Tuhan:

Ia percaya kepada TUHAN, Allah Israel, dan di antara semua raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia. Ia berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa. Maka TUHAN menyertai dia; ke manapun juga ia pergi berperang, ia beruntung. Ia memberontak kepada raja Asyur dan tidak lagi takluk kepadanya. (2 Raja-raja 18:5-7)

Selalu ada pertolongan dan perlindungan kepada mereka yang hidupnya takut akan Tuhan.

Kisah Para Rasul 9:36-42
Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita–dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: “Segeralah datang ke tempat kami.” Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan.

Tabita, seorang murid, melihat begitu banyak janda-janda yang gelisah karena kehidupan yang menekan. Para suami mereka yang menjadi tulang punggung keluarga dan pencari nafkah sudah tidak ada lagi. Mungkin ada yang hilang diterjang gelombang laut ketika mencari ikan.

Kisah keteladanan yang diperlihatkan Tuhan Yesus begitu membekas di hatinya. Belas kasihan Bapa di sorga begitu kuat yang mendorong dirinya ingin melakukan sesuatu untuk meringankan beban para wanita yang sudah tidak bersuami tersebut.

Tetapi apa? Apa yang bisa dia lakukan?

Tabita meihat dia bisa menjahit. Ya! ada jarum dan benang di tangan yang tepat. Ada kemampuan ditambah kerelaan dan belas kasihan. Hasilnya ada begitu banyak baju dan pakaian yang dia bisa bagikan. Sama sekali tidak bermaksud ingin membuat merek baju yang mahal. Hanya ingin berbagi dari hati. Tidak ada publikasi atau pemerhati, tetapi baju selalu dibagi.

Kalaupun kemudian Tabita meninggal, tetap ada sesuatu yang tertinggal. KASIH.
Kasih yang ditunjukan Tabita, membuat para janda melayat dengan membawa pakaian yang pernah dia berikan. Selama ini mereka merasakan kasih Bapa di sorga melalui seorang murid yang mau peduli dengan mereka.

Dunia sungguh membutuhkan keteladanan. Ketika Tabita meninggal, hati para janda menjerit. Siapa lagi yang bisa memperhatikan kami, seperti yang Tabita pernah beri.

Akhirnya Petrus pergi melihat, karena hati Tuhan menginginkan untuk Tabita bangkit kembali.
Ada keteladanan yang harus dilanjutkan.
Ada kasih yang harus dibagikan
Ada kebaikan yang harus disebarkan.

Tidak mudah menghadapi suatu bangsa yang besar, tetapi tegar tengkuk, keras kepala, mahir bersungut-sungut. Tetapi itulah Musa, seseorang yang dari kecilnya tinggal dalam kenyamanan di Istana Firaun, tetapi melarikan diri ke Midian karena membunuh orang Mesir.

Sedikit banyak Musa sudah mengetahui karakter bangsanya ini selama dia menjadi bangsawan di Mesir. Itulah sebabnya ketika Tuhan memanggil dirinya untuk memimpin bangsa Israel untuk keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian, muncul keraguan yang amat sangat.

Terbayang sudah kesukaran yang akan dia hadapi, terlebih lagi dia menyadari bahwa rasa percaya dirinya begitu tipis. Namun akhirnya Musa tunduk kepada keputusan Tuhan, yang menyatakan diriNya dan berkata Aku adalah AKu. 

Seperti sebuah seni yang dipertontonkan untuk membawa bangsa yang besar untuk bergerak secara bersamaan. Dengan tiang awan dan tiang api yang menuntun, Musa harus meyakinkan berkali-kali kepada umat pilihan ini, bahwa mereka disertai oleh yang Maha Kuat.

Tetapi bangsa ini begitu terikat dengan Mesir, sekalipun mereka di perbudak. Ketidakmengertian bahwa Tuhan ingin melepaskan mereka, membuat mereka seringkali terbakar emosi dan kemarahan. Mereka bisa dengan mudah mengambil batu dan ingin melempari Musa untuk melepaskan kekesalan.

Bahkan Tuhan yang menyertai, mereka abaikan dan memilih untuk membuat patung lembu emas. Titik dimana Tuhan ingin melenyapkan mereka, dan memilih Musa untuk dijadikan bangsa yang besar.

Namun Musa bukanlah seseorang yang ingin mengambil keuntungan di tengah-tengah ketegangan. 

Lihatlah apa yang Musa lakukan seperti yang tercatat dalam Keluaran 32:11-13:

Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: “Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu. Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.”

Musa mencoba melunakan hati  Tuhan, meskipun dia sendiri sering mengalami tekanan dan aniaya secara verbal dan mental. Kesabaran Musa menghadapi bangsa yang tegar tengkuk selama puluhan tahun cukup teruji. 

Sekalipun pada akhirnya dia tidak diijinkan masuk dalam tanah perjanjian karena terpancing emosi yang membuatnya tidak menghormati kekudusan Allah, namun Alkitab mencatat dalam Bilangan 12:3 yang berkata:

Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.

Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. (Kejadian 17:5-6)

Antara janji menjadi kenyataan, ada penantian.
Lihatlah Abraham, ketika dia berjumpa pribadi dengan Allah, namanya diubah dari Abram menjadi Abraham. Tuhan sudah menetapkan dia menjadi bapa bagi sejumlah besar bangsa.

Janji Tuhan kepadanya dimana akan memiliki anak cucu yang sangat banyak, bahkan dari keturunannya akan lahir raja-raja di bumi.

Sungguh sebuah janji yang besar dan luarbiasa.

Tetapi tahukah, bahwa Abraham perlu menunggu sekitar 25 tahun untuk lahirnya Ishak. Sebuah penantian yang panjang untuk hadirnya penggenapan.

Disitulah kesetiaan Abraham sungguh terlihat.

Firman Tuhan dalam Roma 4:20-22
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.

Belum lagi, kepercayaannya kepada Allah dia tunjukan melalui ketaatan, sewaktu Tuhan menguji imannya untuk mempersembahkan anaknya yang sudah dia nanti-nantikan.

Memang, kesetiaan selalu berkaitan erat dengan ketaatan. Dia membawa Ishak untuk dikorbankan, menunjukan dia sangat setia dan tetap percaya bahwa Tuhan selalu pegang janjiNya.

Layaklah jika dia disebut sebagai bapa orang beriman, terus setia kepada Tuhan sampai akhir hidupnya.

Suatu kali saya melihat anak saya yang bungsu berdiri di depan lemari yang berada di ruang tamu, menengadahkan kepalanya, melihat keatas dan sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Saya sebagai ayah, mencoba mendekati dia dan berkata, kamu lihat apa? lalu dia menunjukan sebuah benda di dalam lemari bagian atas. Tentu saja posisi barang tersebut terlalu jauh dari jangkauannya. Lalu saya mencoba berbicara dengan anak saya, “kamu mau barang itu? papa ambilkan ya?” lalu dia mengangguk dengan wajah yang riang dan cerah.

Sesuatu yang ada diluar jangkauannya tetapi ada seseorang yang dia percaya dan dia tahu kalau ayahnya sanggup mengambilkan barang itu bagi dia.

Di dalam Matius 20:29-34
Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!” Tetapi orang banyak itu menegor mereka supaya mereka diam. Namun mereka makin keras berseru, katanya: “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!” Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab mereka: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.

Ada dua orang, tidak punya kesulitan berbicara, atau kesulitan untuk mendengar. Tetapi ada sesuatu yang nampaknya diluar dari jangkauannya. Mereka tidak bisa melihat.

Ketika mereka mendengar kalau Yesus mau lewat, mereka menganggapnya sebagai sebuah kesempatan yang mungkin hanya sekali saja terjadi. Karena bisa jadi Yesus tidak akan lagi melewati jalan yang sama.

Itulah sebabnya mereka mencoba untuk mendatangi Yesus. Bukan sesuatu yang mudah bagi mereka yang tidak bisa melihat. Tangan mereka terulur, tetapi hanya suara bising yang mereka dengar. Belum lagi mereka merasakan tangan mereka di tepis berkali-kali. Ada banyak yang menahan langkah mereka. Sepertinya kali ini lagi-lagi mereka merasakan ada hal yang tidak terjangkau.

Tetapi sungguh mengejutkan, karena Yesus berhenti dan memanggil mereka. Kali ini tidak terburu-buru, mendadak semua terdiam, jalan tiba-tiba terbuka, tidak ada lagi suara-suara sinis bagi mereka.

ya…

Karena Yesus yang penuh belas kasihan, memanggil mereka.

Dan yang paling mengagumkan adalah pada saat Yesus berkata : “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Sama seperti anak saya yang meminta kepada saya sebagai papanya, untuk mengambilkan sesuatu yang ada diluar jangkauannya.

Lalu Yesus memberikan apa yang mereka minta.

Apa yang Yesus tunjukkan adalah ekspresi dari Kasih Bapa di sorga kepada dua orang buta ini.

Allah yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Yang Maha Besar, begitu rendah hati mendatangi mereka dan menanyakan apa yang kamu mau untuk Aku lakukan bagimu.

Apakah kita cukup rendah hati, untuk mendatangi mereka yang membutuhkan Tuhan, dan menanyakan: “Apa yang kamu kehendaki supaya aku perbuat bagimu?”

Raja negeri Aram sedang berperang melawan Israel. Ia berunding dengan pegawai-pegawainya, lalu katanya: “Ke tempat ini dan itu haruslah kamu turun menghadang.” Tetapi abdi Allah menyuruh orang kepada raja Israel mengatakan: “Awas, jangan lewat dari tempat itu, sebab orang Aram sudah turun menghadang ke sana.” Sebab itu raja Israel menyuruh orang-orang ke tempat yang disebutkan abdi Allah kepadanya. Demikianlah Elisa memperingatkan kepadanya, supaya berawas-awas di sana, bukan sekali dua kali saja. Lalu mengamuklah hati raja Aram tentang hal itu, maka dipanggilnyalah pegawai-pegawainya, katanya kepada mereka: “Tidakkah dapat kamu memberitahukan kepadaku siapa dari kita memihak kepada raja Israel?” Tetapi berkatalah salah seorang pegawainya: “Tidak tuanku raja, melainkan Elisa, nabi yang di Israel, dialah yang memberitahukan kepada raja Israel tentang perkataan yang diucapkan oleh tuanku di kamar tidurmu.” Berkatalah raja: “Pergilah melihat, di mana dia, supaya aku menyuruh orang menangkap dia.” Lalu diberitahukanlah kepadanya: “Dia ada di Dotan.” Maka dikirimnyalah ke sana kuda serta kereta dan tentara yang besar. Sampailah mereka pada waktu malam, lalu mengepung kota itu. Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.” Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa. (2 Raja-raja 6:8-17)

Pada waktu itu Raja negeri Aram sedang berperang melawan Israel. Nabi Elisa menjadi penasihat dari raja Israel, dimana petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Nabi Elisa kepada raja Israel, membuat mereka bisa luput dari penghadangan raja Aram.

Kondisi seperti itu terjadi berkali-kali, sampai akhirnya raja Aram curiga kalau-kalau ada pengkhianat diantara mereka. Kemarahan semakin memuncak ketika raja Aram mengetahui kalau nabi Elisa-lah yang menyebabkan rencana penyerangan selalu bisa digagalkan. Hal inilah yang membuat raja Aram mengirim pasukannya untuk mengepung kota dimana Elisa dan bujangnya berada.

Ketika pagi menjelang, dan pelayan dari abdi Allah ini keluar, dia melihat sejumlah besar pasukan raja Aram yang membuat dia berkata kepada nabi Elisa :”Celaka tuanku, Apakah yang akan kita perbuat?”

Respon dari nabi Elisa sungguh menakjubkan, karena dia berkata “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka.”

Lalu Nabi Elisa berdoa kepada Tuhan untuk mencelikan mata dari bujangnya ini. Pada saat itulah bujangnya Elisa bisa melihat hal yang sama seperti yang bisa dilihat oleh Nabi Elisa. Hatinya tidak lagi menjadi takut.

Nabi Elisa dan bujangnya sama-sama berhadapan dengan situasi yang sama. Tetapi mereka punya respon yang berbeda. Bujangnya Elisa begitu ketakutan ketika melihat pasukan Aram, sementara Nabi Elisa bisa menenangkan hatinya. Semua karena mata yang melihat.

Ketika kita mengalami suatu pengepungan dalam hidup kita, seringkali membuat hati kita menjadi tawar dan gentar. Sementara ketakutan bisa membuat jalan di depan kita menjadi gelap. kita mulai meragukan panggilan hidup kita, dan bahkan bisa mendorong kita mengambil keputusan yang keliru. Padahal di dalam tekanan seringkali Tuhan membukakan begitu banyak kesempatan, tetapi seringkali kita abaikan, karena ketakutan terasa lebih menekan.

Ambilah waktu menenangkan hati, maka mata yang tertutup akan terbuka kembali , yang membuat kita menyadari bahwa yang MAHA KUAT selalu ada untuk menyertai.

Arahkan pandangan kita kepada Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan. Jadi, kuatkan hati, melangkahlah kembali, karena Tuhan Yesus selalu menyertai.

Di dalam Kejadian 4:3-5 dikatakan:
Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.

Pada suatu hari Kain dan Habel mau memberikan korban persembahan dihadapan Tuhan.
Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan.
Habel mempersembahkan anak sulung kambing dombanya yakni lemak-lemaknya.

Sama-sama punya hati ingin memberi kepada Tuhan, tetapi ternyata respon Tuhan kepada keduanya sangat berbeda.

Tuhan mengindahkan Habel dan persembahannya, tetapi tidak mengindahkan Kain dan korban persembahannya.

Pertanyaannya disini adalah, mengapa Habel tahu persis korban persembahan seperti apa yang menyenangkan hati Tuhan?

Ternyata Adam dan Hawa sebagai orang tua dari Kain dan Habel, telah menceritakan kepada anak-anaknya tentang pengalaman mereka dengan Tuhan.

Adam dan Hawa pun menceritakan tentang kejatuhan mereka ke dalam dosa dan cara Tuhan membuatkan pakaian dari kulit binatang untuk menutup ketelanjangan mereka.

Pengalaman-pengalaman mereka dengan Tuhan menjadi sesuatu yang berharga dan pasti telah diceritakan bahkan mungkin berkali-kali kepada Kain dan Habel. Mereka memberitahu bahwa Tuhan suka dengan korban persembahan dengan tanda darah. Artinya ada hewan yang disembelih, dan ada darah yang tercurah.

Kelihatannya, Habel menaruh perhatian sungguh-sungguh dan mendengar dengan detail setiap perkataan atau cerita dan nasihat dari orang tuanya, sehingga dia bisa mempersembahkan dengan tepat seperti yang Tuhan mau.

Penting bagi setiap kita untuk memiliki telinga yang mendengar. Artinya kita tidak menganggap enteng setiap nasihat dan perkataan yang kita dengar, apalagi dari mereka yang Tuhan taruh sebagai otoritas di atas kita, seperti orang tua, guru-dosen, pemerintah dan lain sebagainya.

Ingat bahwa Tuhan juga menaruh perkataan-perkataanNya melalui mereka untuk menjaga jalan-jalan kita. Amin

Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing- masing karena anaknya laki- laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya. (1 Samuel 30:6)

Daud, tidak pernah menyangka apa yang akan terjadi di hari itu. Baru saja mereka menuju ke rumahnya, dari kejauhan mereka melihat asap membumbung tinggi. Setelah mereka selidiki lebih jauh, ternyata itu adalah perkampungan tempat dimana Daud dan pasukannya tinggal. Ziglak tempat mereka tinggal ternyata sudah diserang oleh bangsa Amalek. Para istri, anak-anak ditawan sementara harta mereka dijarah habis-habisan.

Ditengah-tengah situasi seperti itu, orang-orang yang selama ini loyal kepada Daud menjadi berubah setia. Mereka begitu marah dan menganggap Daud sebagai pemimpin yang tidak becus, lalu mereka berniat ingin melemparkan Daud dengan batu.

Benar-benar kondisi yang tidak terduga. Tidak ada mata-mata yang memberitahu akan adanya serangan, tidak ada perasaan ganjil, tapi semuanya sudah terjadi. Disinilah Daud mengalami kesendirian.

Sendiri? Sepertinya dulu Daud mengalami situasi yang sama. Dia hanyalah seorang yang tidak dipandang, belum terkenal seperti sekarang ini. Seorang penggembala ternak yang hanya dipercaya dua atau tiga ekor ternak. Sendiri di padang rumput.

Kali ini dia sudah punya pengikut, orang-orang begitu banyak yang mengagumi dia dan mau mentaati apa yang diperintahkannya. Namun ketika Ziglak terbakar, dia merasa ditinggalkan dan dikhianati oleh teman-temannya.

Kembali Daud mengalami kesendirian. Benarkah? Jawabnya, tidak!

Daud adalah seseorang yang sudah mengenal Allahnya jauh sebelum dia dikenal oleh banyak orang. Bukan hanya kali ini saja Daud mengalami situasi terjepit seperti sekarang ini. Itulah yang membuat Daud memilih untuk menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan, Allahnya. Dia memilih untuk berserah namun tidak menyerah.

Pertama, Daud terbiasa mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan di masa lalu. Dengan cara ini Daud bisa melihat pengharapan akan kemenangan di masa depan.

(84- 6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! (84- 7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. (84- 8) Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion (Mazmur 84:5-7)

Apa itu ziarah? Mendatangi tempat-tempat dimana Tuhan melakukan perbuatan-perbuatanNya yang besar di masa lalu.

Daud dalam pikirannya melakukan ziarah di hadapan Tuhan. Dia mengingat-ingat perbuatan-perbuatan Tuhan di masa lalu terhadap Daud.

Pula kata Daud:”TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud:”Pergilah! TUHAN menyertai engkau.” (1 Samuel 17:37)

Jika Tuhan sanggup menolong Daud menghadapi siang, beruang, Goliath, tentunya kali ini Tuhan juga sanggup menolong dirinya menghadapi orang-orang Amalek.

Kedua, Daud tidak pernah bersungut-sungut atau melemparkan masalah kepada orang lain. Daud tidak mencari kambing hitam, dan membenarkan dirinya sendiri. Dia memilih untuk bersandar kepada kemurahan hatinya Tuhan. Justru melalui masalah-masalah seperti ini, Daud akan semakin mengenal Allahnya yang hidup dan perkasa!

Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita. (1 Petrus 1:2)

Ketika kita mau belajar mengenal Allah kita, maka Firman Tuhan menjanjikan kasih karunia dan damai sejahtera akan melimpahi kehidupan kita.

Ketiga, Daud membangun kebiasaan untuk memperkatakan perkataan Rhema dalam hidupnya. Rhema itu dia dapatkan dari persekutuannya dengan Tuhan. Daud tidak ragu-ragu berkata : “Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.”

Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran akan Firman Allah. Ketika Daud ada dalam keadaan terjepit di Ziglak, diapun pasti berkata:”Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa, cakar beruang, Goliath, pasti sekarang Dia juga akan melepaskan aku dari kekuatan Amalek!” Lalu karena telinganya mendengar, imannya bangkit dan membuat Daud mengambil keputusan untuk mengejar orang-orang Amalek.

Hasilnya luarbiasa!

Daud meminta petunjuk Tuhan, dan di dalam ketaatannya, Daud mengejar gerombolah Amalek dan merebut kembali apa yang telah diambil oleh mereka.

Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isterinya dapat dilepaskan Daud. Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki- laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka; semuanya itu dibawa Daud kembali. Daud mengambil segala kambing domba dan lembu; semuanya itu digiring mereka di hadapannya, serta berkata:”Inilah jarahan Daud (1 Samuel 30: 18-20)

Allah memang luar biasa!

“Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang, kata-Nya kepada mereka: “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.” Lukas 9:1-6, TB.

Sudah lama murid-murid Yesus mengikuti kemanapun Yesus pergi. Selama ini mereka begitu tenang dan nyaman karena dimana ada masalah, pasti Yesus yang menghadapi untuk membereskan masalah itu. Sementara murid-murid Yesus hanya sekedar melihat apa yang Yesus lakukan ketika Yesus menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati dan mengusir setan-setan. Sampai pada suatu hari Yesus memberi perintah yang mengejutkan semua murid-muridNya. Yesus mengutus murid-muridNya pergi sendiri tanpa ada Yesus menyertai mereka.

Tiba-tiba kenyamanan mereka sangat terganggu, mereka menyadari bahwa sekarang giliran mereka yang harus mempraktekan apa yang ditunjukan Yesus selama ini. Mungkin ada diantara mereka yang berkata: “Ha? Saya harus pergi dan menyembuhkan orang sakit? saya hanya punya pengalaman sebagai nelayan, bukan tabib”.”Mengusir setan? justru selama ini saya paling takut sama setan!”

Namun itulah Yesus. Selalu tahu apa yang harus Dia buat. Ada tiga hal yang Yesus lakukan untuk mematahkan manifestasi roh yatim dari antara murid-muridnya.

1. Tuhan Yesus memberikan jaminan pemeliharaan.

“kata-Nya kepada mereka: “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.” Lukas 9:3, TB.

Tuhan Yesus ingin agar murid-muridNya mengenal pribadi Bapa di Surga. Mereka tidaklah yatim karena mereka memiliki Bapa di Surga yang menjamin pemeliharaan kehidupan mereka. Merea tidak perlu kuatir apa yang akan mereka makan, minum, dan pakai.

2. Tuhan Yesus memberikan jaminan penerimaan.

“Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.”” Lukas 9:4, 5, TB.

Ada kebutuhan mendasar dari manusia yaitu ingin diterima dan dihargai. Tuhan Yesus sedang mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak takut terhadap penolakan dari sesama manusia. Manusia bisa menolak keberadaan sesamanya dengan berbagai alasan, Seperti berbeda status sosial, berbeda suku, berbeda pandangan, dll. Semuanya itu bisa menyakitkan hati kita, dan membuat kita merasa sendirian dan tertolak. Rasa tertolak itu juga salah satu manifestasi dari roh yatim ini. Untuk itu kita harus menyadari Bapa di Surga menerima kita sepenuhnya, dan dengan demikian kita sedang mematahkan manifestasi roh yatim dalam kehidupan kita.

3. Tuhan Yesus memberikan jaminan kemenangan.

“Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.” Lukas 9:6, TB.

Jaminan kemenangan ini kita terima ketika kita mentaati apa yang Tuhan perintahkan untuk kita kerjakan. Ketika murid-muridNya melangkah dan mengerjakan bagiannya, maka kebenaran Firman menyertai dan membela perjalanan mereka. Bapa di Surga tidak akan pernah lalai akan janji-janjiNya tetapi Bapa di Surga juga mau membentuk anak-anakNya untuk menjadi anak-anak Kerajaan yang berkemenangan.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”” Matius 28:19, 20, TB.

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, maka putuslah hubungan kita dengan Bapa di sorga. Kita kehilangan Sumber segala sumber. Kita kehilangan jaminan keselamatan, pemeliharaan, dan perlindungan. Manusia mulai bergumul dengan kekuatannya sendiri, sementara hati manusia berseru :“Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda.” Ratapan 5:3, TB.

Sementara itu melihat kejatuhan manusia, Bapa di sorga merancangkan jalan keselamatan bagi manusia. Allah merespon keadaan dan berkata :

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16, TB. 

 Bapa di sorga juga berkata :

“(68-6) Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus;” Mazmur 68:5, TB. 

Mengapa Bapa di sorga melakukan semuanya ini? Sebab Bapa di sorga tahu bahwa manusia tidak boleh memiliki roh yatim dalam kehidupannya. Keberadaan roh yatim inilah yang membuat manusia tidak bisa maksimal di dalam kehidupannya untuk melakukan kehendak Bapa di sorga.

Roh yatim ini menyerang siapa saja dan dari kalangan mana saja. Orang kaya maupun orang miskin, laki-laki maupun perempuan.

Contohnya dalam Alkitab adalah Yakub. Orang tua Yakub yaitu Ishak adalah orang yang sangat kaya sebab diberkati oleh Tuhan. Tetapi anaknya yang bernama Yakub memiliki roh yatim dalam kehidupannya. Ada area yang kosong dalam hidupnya yang membuat Yakub berjuang untuk memenuhi kebutuhan di area yang kosong ini. Hal inilah yang membuat Yakub melakukan apa saja untuk bisa memenuhi ambisi dan obsesi pribadinya. Tidak peduli dia menipu kakaknya, ayahnya, ataupun memperdaya pamannya Laban dan melukai Lea sebagai istrinya yang pertama. Di dalam dirinya selalu ada perasaan serba tidak cukup atau selalu kurang.

Tetapi Bapa di sorga begitu baik. Untuk menanggulangi roh yatim ini, Bapa di sorga mendatangi Yakub dan memperkenalkan diriNya, bahkan disaat Yakub sedang tidak mencari Tuhan dan merasa butuh Tuhan. Bapa di sorga ingin menjadi Bapa atas Yakub. Sampai pada suatu titik dimana Yakub menyadari dan mengaku bahwa dirinya penipu dan memiliki mentalitas atau roh yatim di hadapan Allahnya, saat itulah Bapa disorga memberikan identitas baru kepada Yakub. Engkau tidak lagi disebut Yakub yang artinya penipu tetapi engkau akan disebut Israel yang artinya pangeranKu. 

 Ada sebuah ilustrasi, dimana ada sebuah keluarga yang sudah memiliki seorang anak kandung. Suami istri di keluarga ini ingin mengadopsi seorang anak. Pergilah mereka ke rumah panti asuhan, dan mengadopsi seorang anak yang mereka pilih. Kasih sayang mereka baik kepada anak kandung maupun kepada anak yang diadopsi sama besarnya. Seharusnya anak yang diadopsi ini memiliki rasa aman karena segala yang diperlukan anak ini sudah dicukupi. Tetapi anak ini masih dikuasai roh yatim dalam hidupnya.

Suatu kali ketika keluarga ini makan bersama di meja makan, sangat terlihat perbedaan sikap antara anak kandung dengan anak yang diadopsi ini.

Anak kandung dari keluarga ini ketika makan, mengambil sepotong daging dan sayur dan mulai memakannya. Sementara anak yang diadopsi ini ketika melihat ada daging dan sayur tersedia didepannya, juga mulai mengambil sepotong daging dan sayur yang sama. Tetapi anak ini kemudian membuka sebuah saputangan diatas meja makan lalu mulai mengambil potongan-potongan daging lainnya dan dibungkus dengan saputangan itu lalu dimasukan ke dalam saku celananya!

Mengapa anak yang diadopsi ini memiliki tingkah laku seperti itu? Dengan jelas terlihat anak ini belum mengerti identitas dia yang sekarang, dan masih terjebak dengan masa lalunya. Masih ada perasaan kuatir dan takut kelaparan, sehingga dia berusaha memenuhi rasa amannya dengan menyimpan daging itu disaku celananya.

Ini adalah gambaran bagaimana roh yatim itu bekerja dan bermanifestasi dalam kehidupan manusia. Manusia tidak percaya akan pemeliharaan dan perlindungan Bapa di sorga. Bahkan bagi setiap kita yang sudah berada dalam penebusan melalui Tuhan Yesus sekalipun, kita juga masih bisa terjebak dalam mentalitas roh yatim ini. Semuanya terjadi karena kita tidak menyadari identitais kita yang sekarang di hadapan Bapa di sorga.

 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.” 1 Petrus 2:9, 10, TB. 

 Ayat diatas adalah identitas kita yang baru melalui Yesus Kristus. Dahulu kita bukan umatNya dan tidak dikasihani. Tetapi sekarang kita telah menjadi umatNya dan beroleh belas kasihan. Allah ingin manusia menyadari identitasnya yang terkini karena melalui kita Allah berkehendak untuk kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia.

Misalnya:

Ketika kita diminta untuk mengembalikan perpuluhan, kita berpikir Allah ingin mengambil uang kita dan kita berpikir nanti tidak akan cukup untuk kebutuhan sehari-hari. 

Padahal Firman Tuhan berkata :“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Filipi 4:19, TB.

Ketika kita diminta untuk menjalankan Amanat Agung yaitu untuk menjadi saksi dan memberitakan kabar baik kita berpikir, saya tidak layak, saya tidak pantas, saya tidak bisa. 

Padahal Firman Tuhan berkata :“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1:8, TB.

Dengan kata lain, kita tidak akan bisa memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan kalau kita masih memiliki mentalitas atau roh yatim dalam hidup kita. Roh yatim membuat kita selalu berada dalam keadaan kuatir, takut, tidak aman, minder, tidak percaya diri, merasa tidak layak, tidak pantas, merasa tidak bisa, takut gagal, takut ditertawakan, takut ditolak, serba tidak cukup, serakah, tidak peduli dengan perasaan orang lain, dll.

Saatnya bagi kita untuk menyadari identitas kita yang baru di hadapan Bapa di Sorga. Kita tidak lagi yatim karena Bapa di sorga ingin menjadi Allah dan Bapa bagi kita.

Kuasa, sesuatu yang diperebutkan selama ribuan tahun.

Pada mulanya  Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya,  dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Kejadian 1:1-2

Kalau saat ini kita melihat bumi  berbentuk bulat, jaraknya dari matahari tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat, berapa banyak planet, galaksi, bintang-bintang dan lainnya, semua itu sudah ada dalam benaknya Allah. Namun semuanya itu belum tercipta sampai kemudian….

Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Kejadian 1:3

Selama Allah diam saja, sekalipun semua sudah ada dalam pikiran Allah, maka tidak ada penciptaan yang terjadi. Setelah Allah berfirman, mengeluarkan perkataanNya, barulah tercipta sesuatu. Ini adalah caranya Allah.

Lalu setelah bumi diciptakan dengan segala isinya barulah manusia dibentuk dan diciptakan, lalu Allah menghembuskan nafas kehidupan kepada manusia sehingga manusia itu menjadi hidup.

Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas  hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Kejadian 2:4-7

Kalau kita lihat ayat-ayat tersebut diatas maka kita mengetahui tujuan Allah menciptakan manusia di bumi, yaitu untuk mengusahakan tanah. Jadi manusia adalah perwakilan dan juga perpanjangan tangan Allah untuk menjalankan pemerintahan Allah di bumi.

Untuk itu Allah memberi kuasa kepada manusia.

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:26-28

Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Jadi manusia “mewarisi” cara-cara Allah untuk bertindak dalam menguasai bumi ini. Manusia dipercayakan kuasa oleh Allah untuk digunakan dengan cara-cara Allah. Bertindak seperti Allah bertindak.

Selama manusia berada dalam keteraturan ilahi maka bumi mengalami harmonisasi. Allah melihat semuanya sunggguh amat baik.

Tetapi ketika manusia memilih untuk percaya kepada perkataan iblis daripada kepada perkataan Allah dan akhirnya memakan buah yang terlarang, maka sebetulnya saat itu manusia dengan sendirinya menyerahkan kedaulatannya kepada iblis. Sejak saat itu manusia berada dibawah kekuasaan si jahat. Hal ini bisa kita lihat dengan jelas melalui perkataan iblis kepada Tuhan Yesus pada waktu Dia dicobai : Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Lukas 4:6

Sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia kehilangan kemampuan untuk menjalankan apa yang Tuhan berikan yaitu kehilangan kuasa untuk menjalankan pemerintahan Kerajaan Allah di bumi. Sampai tiba saat penebusan melalui Yesus Kristus, kuasa itu dikembalikan kepada mereka yang mau mengakui dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya serta menjadikan Yesus sebagai Raja dalam hidupnya.

Sangatlah logis, jika kita mau menerima kuasa di dalam suatu kerajaan maka terlebih dulu kita harus menerima dan mengakui raja yang berkuasa dalam kerajaan tersebut. Jika kita mau dipercaya untuk menerima kuasa Kerajaan Allah maka kita harus mengakui dan menerima Yesus Kristus sebagai Raja yang berdaulat dalam hidup kita.

Lalu bagaimana caranya kita bisa tetap dipercayakan kuasa Kerajaan Allah? kita harus belajar mengikuti dan taat kepada setiap perintah-perintahNya. Kita harus memiliki karakter Kerajaan. Atau lebih tepatnya kita harus menjadikan karakter Sang Raja menjadi karakter kita.

Pertayaann berikutnya adalah bagaimana kita menjalankan atau menyalurkan kuasa Kerajaan Allah ini?

Pada saat kita mengalami penebusan, maka gambaran Allah, kuasa pemerintahan dikembalikan kepada kita. Kemampuan kita untuk menjalankan pemerintahan Kerajaan Sorga dipulihkan kembali. Kita bisa berdoa, “datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di Sorga”. Kita diberi kemampuan untuk menghadirkan realita Sorga di bumi. Kita menyalurkan kuasa Kerajaan dengan cara yang sama seperti Allah kita menyalurkan kuasa. Salah satunya dengan cara kita melepaskan perkataan Allah yaitu perkataan Firman!

Pada saat kita mengucapkan Firman, sebetulnya kita sedang sepakat dengan Dia yang memiliki Firman. Ketika kita sepakat dengan Dia maka apa yang menjadi kehendakNya akan terjadi dalam hidup kita.

Kita harus baca Firman dan tinggal dalam Firman dan setiap hari belajar berjalan dipenuhi dan dikuasai Roh Kudus, maka kita akan menjadi orang-orang kepercayaanNya Tuhan untuk menjalankan pemerintahan Kerajaan Allah di bumi ini.

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Para Rasul 1:8

Kuasa yang diberikan kepada kita memampukan kita untuk menjadi saksi Kristus yang memperlihatkan KeagunganNya.

Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, 61:2 untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung, 61:3 untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman TUHAN” untuk memperlihatkan keagungan-Nya. Yesaya 61:1-3

Kita diberikan kuasa, dipenuhi, diurapi dan dikuasai Roh Kudus, untuk memperlihatkan keagungan Tuhan. Keagungan Tuhan akan diperlihatkan kepada dunia ini pada saat  kita memberitakan kabar baik, menguatkan yang lemah, menyembuhkan yang sakit, menghibur mereka yang berduka, membebaskan mereka yang tertawan dan terbelenggu.

Selamat menjadi saksi Kristus!

Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia:”Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” Ia takut dan berkata:”Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” Kejadian 28: 16

Ingat dalam Perjanjian Baru, apa kata Firman Tuhan tentang Bait Allah:

Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah,– dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 1 korintus 6:19

Ketika Yakub berkata ini rumah Allah, ini pintu gerbang sorga, sebetulnya dia sedang menyatakan bahwa rumah Allah di bumi ini adalah merupakan pintu gerbang sorga.

Melalui doa Bapa kami, Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya untuk berdoa:

datanglah Kerajaan- Mu, jadilah kehendak- Mu di bumi seperti di sorga. Matius 6:10

Artinya menghadirkan realita sorga di bumi ini. Melalui Kitalah Allah akan menyatakannya di bumi.

Ketika sorga akan invasi ke bumi, Tuhan selalu mencari manusia yang mau sepakat untuk dipakai olehNya.

Allah selalu konsekuen dan konsisten dengan FirmanNya. Sejak semula bumi diciptakan hak dan kuasa pengelolaan bumi ini diserahkan kepada manusia. Jadi ketika Allah ingin intervensi kepentinganNya di bumi ini, Allah akan mencari manusia yang mau bekerjasama dengan Dia.

Ketika sorga melakukan invasinya ke bumi maka akan terjadi perubahan atas atmosfir di sekelilingnya.

Ketika Allah melakukan perjumpaan dengan Yakub, maka perubahan demi perubahan terjadi atas diri Yakub. Setiap perjumpaan dengan Allah membawa perubahan yang lebih besar lagi. Sampai pada satu titik Allah mengubah nama Yakub menjadi Israel.

Pada saat perjumpaan pertama Allah dengan Yakub, maka Yakub berkata sesungguhnya ini adalah Rumah Allah, pintu gerbang sorga.

Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun, sehingga gunung- gunung goyang di hadapan- Mu. Yesaya 64:1

Nabi yesaya sudah menubuatkan tentang invasi sorga ke bumi.

Selama perjanjian lama, Roh Kudus sudah bermanifestasi tetapi sifatnya adalah visitation.

Yang Bapa mau adalah Roh Kudus mendiami bait suciNya, bukan mengunjungi saja.

kehendak Bapa adalah Habitation not just visitation

Yesus datang menggenapi nubuatan yesaya itu

Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas- Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga:”Engkaulah Anak- Ku yang Kukasihi, kepada- Mulah Aku berkenan.” Markus 1:10

Pertunjukan permulaan

Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang- orang sengsara, dan merawat orang- orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang- orang tawanan, dan kepada orang- orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung, untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji- pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman TUHAN” untuk memperlihatkan keagungan- Nya. Yesaya 61:1-3

Yesus menjadi alat peraga Bapa di sorga, bagaimana seorang manusia yang dipakai Roh Kudus akan berjalan penuh dengan kuasa dan otoritas.

Setelah itu Yesus menggenapi undangan kerajaan Allah atas manusia di bumi. Undangan itu disampaikan Yesus ke pada dunia.

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia:”Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala- Nya dan menyerahkan nyawa- Nya. Yoh 19 :30

Hasilnya:

Tirai bait suci terbelah dua, tanda tidak ada lagi yang menghalangi antara kerajaan Allah dengan bumi.

Bukit-bukit batu tereguncang. Hati manusia yang paling keras tidak akan tahan menghadapi undangan Kerajaan Allah ini

Langit juga berguncang, tanda bahwa penguasa-penguasa di udara telah dikalahkan. Iblis telah dikalahkan dan kerajaanNya telah menang.

Setelah Yesus dibangkitkan, Dia harus naik ke sorga supaya Roh Kudus yang dijanjikan bisa turun ke bumi.

Tujuannya adalah supaya manusia melakukan apa yang Yesus lakukan, yaitu melakukan kehendak Bapa yaitu agar semua manusia diselamatkan.

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi- Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. ” kisah rasul 1:8

Ketika Roh Kudus datang kepada murid-murid Yesus, angin dari langit yang terbuka berhembus dan lidah lidah api ada di atas mereka. Ini adalah hasil dari langit yang terkoyak.

Dampaknya: murid-murid mulai menginjil dengan berani. Ketika dihambat mereka tidak menyerah, tidak mundur.

Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba- hamba- Mu keberanian untuk memberitakan firman- Mu. Ulurkanlah tangan- Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda- tanda dan mujizat- mujizat oleh nama Yesus, Hamba- Mu yang kudus. ” Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani. Kisah rasul 4:29-31

Tuhan pernah memberikan saya sebuah mimpi. Saya melihat ada seorang peniup sophar di tengah-tengah ibadah KKR yang dihadiri ribuan orang. Ketika peniup itu ingin meniup sopharnya ternyata tidak ada suara yang keluar, atau kalaupun keluar hanya kecil dan terdengar hampa atau bahkan terdengar sumbang.

Ketika saya terbangun, Tuhan membuat saya terus menginagt mimpi tersebut hingga melalui Roh Kudus Tuhan mulai tuntun saya untuk melihat Yesaya 58:1 :”Serukanlah kuat-kuat , janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukan kepada umatKu pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka.”

Tugas kita sebagai generasi baru yang Tuhan bangkitkan di akhir jaman adalah untuk menyerukan dengan kuat-kuat tanpa ditahan-tahan SUARA KEBENARAN bagaikan suara sangkakala!

Ada banyak orang dari generasi ini berusaha untuk mengeluarkan suara kebenaran dari hidup mereka tapi banyak yang ketahan atau tidak leluasa menyampaikan kebenaran itu. Bahkan banyak dari mereka yang menyalahkan instrumennya (kegerakan, wadah pelayanan, dll)

Seharian ini saya tanya sama Tuhan, mengapa banyak suara kebenaran yang tidak terdengar dari anak-anak Tuhan? Roh Kudus memberikan pengertian bahwa penyebab dari tidak keluarnya suar kebenaran itu dikarenakan karena:

1. Tertuduh oleh perbuatan dosanya sendiri.

Dalam Wahyu 12:11 diakatakan bahwa kemenangan kita atas kuasa kegelapan/iblis ada 2 faktor:
a. Penebusan melalui darah Anak Domba
b. Perkataan KESAKSIAN kita

Bagaimana perkataan kesaksian kita bisa membawa orang-orang kepada pertobatan? ketika kita sendiri telah hidup di dalam kebenaran, sehingga orang-orang tidak lagi melihat cela dalam hidup kita. Sehingga kita dengan leluasa memberitakan kebenaran yang telah kita hidupi tersebut. Selain itu kita juga terlepas dari tuduhan-tuduhan iblis. (lihat 1 Timotius 3:8-13)
Misal: bila kita mengajak orang untuk jujur, sudahkah kita sendiri hidup dalam kejujuran? Kalau kita sendiri ternyata hidup didalam dusta, iblis bisa menaruh tuduhan dalam diri kita dengan mengatakan kita seorang munafik.

2. Tidak melatih dirinya dengan baik

Sama seperti orang meniup sophar, maka kitapun dalam menyerukan kebenaran harus melatih diri kita setiap hari. Jika kita gagal melakukan kebenaran Firman Tuhan hari ini, jangan putus asa, tapi kita harus terus memperjuangkannya sehingga kebenaran itu menjadi satu dengan diri kita. Minta Roh Kudus memampukan kita setiap hari, karena kita tidak mungkin hidup dalam kebenaran melalui kekuatan kita sendiri (lihat 1 Korintus 9:27). Contoh: Cara melatih penyangkalan dari diri kita adalah dengan berpuasa, cara melatih otot-otot manusia rohani kita adalah dengan berbahasa Roh secara intens dan rutin, cara melatih pikiran kita agar memiliki pikiran Kristus adalah dengan membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari.

3. Tidak fokus

Suatu kali ketika berlatih meniup terompet dan atau flute, saya dituntut untuk konsentrasi kepada instrumen yang saya mainkan. Ketika saya tidak fokus sebentar saja, maka saya bisa dengan mudah memainkan nada yang sangat sumbang dan tidak enak terdengar di telinga.

Demikian juga dengan kita, ketika kita ingin agar suara kebenaran itu tidak sumbang, kita harus fokus dengan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita. Jangan iri dengan orang lain yang mungkin mengerjakan pekerjaan yang lebih banyak dari kita. Fokuskan saja diri kita untuk melakukan apa yang Tuhan suruh.

Terkadang kita ingin melakukan banyak hal dan mngatasnamakan Tuhan, padahal Tuhan sendiri tidak pernah memerintahkan dirinya untuk melakukan hal-hal tersebut. Akibatnya kita bisa menjadi sangat kelelahan dalam pelayanan, dan menjadi mudah sakit, tertekan, dan bahkan tidak sedikit yang kecewa dengan Tuhan. (lihat Yesaya 28:12-13)

Masuk dalam tempat perhentian. Tanya Tuhan setiap hari apa yang harus kita kerakan HARI INI. Apa janji Tuhan HARI INI yang akan Dia berikan. Sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, sehari demi sehari, nanti kita akan melihat bahwa ternyata kita sudah melakukan hal-hal yang luarbiasa bersama dengan Tuhan!

Maka inilah tulisan yang tertulis itu: Mene, mene, tekel ufarsin. Dan inilah makna perkataan itu: Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan; Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia."

(Daniel 5:25-28)

Ketika Tuhan mempercayakan sesuatu kepada kita, Tuhan mau hasil yang berbobot. Bobot mengacu kepada kata ‘kabod’ yang juga berarti kemuliaan. Kemuliaan adalah karakter Allah kita, dan bobot selalu ada dalam setiap pekerjaanNya.

Ketika kemuliaanNya diberikan kepada anak-anakNya, Tuhan mau agar kita menjadi orang-orang yang berbobot dalam kehidupan kita. Ini bicara soal kualitas kehidupan yang harus dimunculkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dimana kualitas kehidupan yang berbobot itu harus muncul? Dimana saja! Dalam pekerjaan, pelayanan, dalam hubungan rumah tangga, dan juga dalam kehidupan bersosial dengan orang-orang di sekitar kita.

Bagaimana bobot itu dihitung? Cara paling mudah adalah dengan menilai perkataan kita: Apakah perkataan kita adalah perkataan dengan kualitas Allah? Atau kita juga bisa menilai perbuatan kita: Apakah kita melakukan, bertindak dan berbuat dengan kualitas Allah? Atau kita juga bisa memonitor pikiran kita sendiri, apakah kita selalu merenungkan dan memiliki pikiran Allah?

Allah kita adalah Allah yang meminta hasil atau buah. Dan hasil yang Tuhan mau bukanlah hasil yang ringan atau buah yang tidak matang. Bukankah Tuhan berkata jika tidak berbuah akan ditebang?

Semua yang ada pada kita adalah bentuk kepercayaan Tuhan kepada kita. Tuhan mau kita menjaga kepercayaan itu dengan menunjukan kualitas yang berbobot di hadapanNya.

Dalam kehidupan ini seringkali tanpa disadari kita dikelilingi oleh orang-orang yang kebanyakan tidak kita kenali yang menggiring kita atau bahkan mengangkat derajat kehidupan kita menuju kesuksesan.

Kita terlalu sempit berpikir bahwa kesuksesan selalu melulu karena diri kita sendiri. Padahal ada invisible man yang menjadi faktor penentu kesuksesan kita. Dengan menyadari kehadiran mereka atas hidup kita sebetulnya akan membuat kita rendah hati.

“Pada suatu hari beberapa ekor keledai milik Kish hilang. Sebab itu berkatalah Kish kepada Saul, “Bawalah salah seorang pelayan, dan carilah keledai-keledai itu.” (1 Samuel 9:3 – BIS)

Saul punya tugas mencari keledai-keledai bapaknya yang hilang. Saul disuruh juga membawa seorang pelayan untuk mendampingi dirinya. Seorang pelayan yang sangat biasa, bahkan namanya saja tidak disebutkan di Alkitab.

Banyak dari kita menganggap enteng mereka-mereka yang terlihat sangat biasa. Nama mereka tidak pernah terucap di mimbar-mimbar, bahkan kalau kita cari di mesin pencari internet juga tidak akan pernah ditemukan.

Namun ketika Saul mulai putus asa, karena dia tidak bisa menemukan keledai-keledai bapaknya, si pelayan yang “biasa” inilah yang memberikan Saul semangat untuk meneruskan pencariannya. Bukan hanya itu, sang pelayan itu bahkan mau membayar harga untuk berjumpa dengan pelihat (nabi) yang bisa memberitahu dimana keledai-keledai ayahnya Saul berada.

Pelayan ini sekalipun secara jabatan adalah jabatan yang rendah dimata banyak orang, namun dia tetap mengerjakan tugasnya lebih dari yang diminta. Pelayan ini memiliki spirit yang ekselen. Dengan semangat yang seperti inilah pelayan itu bisa membawa pengaruh yang luarbiasa kepada tuannya yang sedang putus asa.

Dari hal ini kita bisa mengambil nilai-nilai kehidupan yang baik. Jika kita sukses jangan pernah lupakan bahwa kesuksesan kita ditopang dan didukung oleh banyak orang-orang di sekeliling kita (sopir, pembantu, asisten, staf, dan sebutkan banyak lagi lainnya). Sementara jika kita adalah seorang yang masih “biasa” menurut pandangan banyak orang, jangan kecil hati, karena tanpa kita sadari kita menjadi faktor kunci kesuksesan orang lain. Kita tidak akan pernah kehilangan upahnya dari Tuhan.

Tetaplah bersemangat dalam posisi dimanapun saat ini kita berada.

Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. ( Yohanes 8:2-9 )

Orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat adalah mereka yang sangat terbiasa dengan Firman Tuhan. Secara lahiriah mereka ingin menunjukan bahwa mereka lebih saleh dari yang lainnya. Tapi sebetulnya mereka menyimpan motivasi yang salah di dalam hati mereka.

Kesalehan, terkadang membutakan mata kita sebagai manusia. Merasa paling benar, paling kudus, sehingga membuat kita seringkali merasa berhak untuk menghakimi kehidupan orang lain.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dengan kasarnya menarik seorang perempuan (benar-benar pria sejati ya???) yang didapati berbuat zinah. Mereka membawanya kehadapan Yesus. Motivasinya hanya untuk mencobai Tuhan. Seringkali merasa diri saleh membuat kita merasa lebih pandai dari Tuhan.

Kali ini mereka kena batunya. Tuhan kok dilawan?

Dengan tenangnya Yesus membungkuk dan menulis sesuatu di atas tanah. Santai sekali, dan Dia tidak langsung menunjukan murkaNya. Tenang, tapi menghanyutkan. Sebenarnya apa yang Yesus tulis?

Banyak yang menafsirkan, bahwa sebetulnya Yesus sedang menulis dosa-dosa orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Disaat mereka berteriak-teriak dan mendesak Yesus untuk berkomentar, Yesus malah menaruh cermin itu di depan mata mereka.

Dengan ketenangan Ilahi yang Dia miliki, Yesus berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Cermin dipasang, mereka semua melihat ke dalam hati mereka masing-masing. Satu persatu dengan rasa malu, mereka mundur teratur meninggalkan perempuan itu seorang diri.

Mungkin tanpa kita sadari kita lebih mudah menghakimi dan mendakwa orang lain daripada melihat diri kita sendiri. Lebih mudah melihat serpihan kayu di hidup orang lain daripada melihat balok di dalam kehidupan kita sendiri. Lupa bahwa kita juga manusia biasa yang memiliki banyak kelemahan. Mulut kita lebih mudah mengucapkan kata-kata dakwaan. Mata kita lebih mudah melihat kesalahan. Sementara hati kita telah kehilangan kasih. Lupa bahwa tidak ada satupun manusia yang benar dihadapan Tuhan, jika bukan Tuhan yang membenarkan kita melalui darahNya yang menebus dosa kita.

Semua adalah karena anugerahNya….

Design a site like this with WordPress.com
Get started