Skip navigation

Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing- masing karena anaknya laki- laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya. (1 Samuel 30:6)

Daud, tidak pernah menyangka apa yang akan terjadi di hari itu. Baru saja mereka menuju ke rumahnya, dari kejauhan mereka melihat asap membumbung tinggi. Setelah mereka selidiki lebih jauh, ternyata itu adalah perkampungan tempat dimana Daud dan pasukannya tinggal. Ziglak tempat mereka tinggal ternyata sudah diserang oleh bangsa Amalek. Para istri, anak-anak ditawan sementara harta mereka dijarah habis-habisan.

Ditengah-tengah situasi seperti itu, orang-orang yang selama ini loyal kepada Daud menjadi berubah setia. Mereka begitu marah dan menganggap Daud sebagai pemimpin yang tidak becus, lalu mereka berniat ingin melemparkan Daud dengan batu.

Benar-benar kondisi yang tidak terduga. Tidak ada mata-mata yang memberitahu akan adanya serangan, tidak ada perasaan ganjil, tapi semuanya sudah terjadi. Disinilah Daud mengalami kesendirian.

Sendiri? Sepertinya dulu Daud mengalami situasi yang sama. Dia hanyalah seorang yang tidak dipandang, belum terkenal seperti sekarang ini. Seorang penggembala ternak yang hanya dipercaya dua atau tiga ekor ternak. Sendiri di padang rumput.

Kali ini dia sudah punya pengikut, orang-orang begitu banyak yang mengagumi dia dan mau mentaati apa yang diperintahkannya. Namun ketika Ziglak terbakar, dia merasa ditinggalkan dan dikhianati oleh teman-temannya.

Kembali Daud mengalami kesendirian. Benarkah? Jawabnya, tidak!

Daud adalah seseorang yang sudah mengenal Allahnya jauh sebelum dia dikenal oleh banyak orang. Bukan hanya kali ini saja Daud mengalami situasi terjepit seperti sekarang ini. Itulah yang membuat Daud memilih untuk menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan, Allahnya. Dia memilih untuk berserah namun tidak menyerah.

Pertama, Daud terbiasa mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan di masa lalu. Dengan cara ini Daud bisa melihat pengharapan akan kemenangan di masa depan.

(84- 6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! (84- 7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. (84- 8) Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion (Mazmur 84:5-7)

Apa itu ziarah? Mendatangi tempat-tempat dimana Tuhan melakukan perbuatan-perbuatanNya yang besar di masa lalu.

Daud dalam pikirannya melakukan ziarah di hadapan Tuhan. Dia mengingat-ingat perbuatan-perbuatan Tuhan di masa lalu terhadap Daud.

Pula kata Daud:”TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud:”Pergilah! TUHAN menyertai engkau.” (1 Samuel 17:37)

Jika Tuhan sanggup menolong Daud menghadapi siang, beruang, Goliath, tentunya kali ini Tuhan juga sanggup menolong dirinya menghadapi orang-orang Amalek.

Kedua, Daud tidak pernah bersungut-sungut atau melemparkan masalah kepada orang lain. Daud tidak mencari kambing hitam, dan membenarkan dirinya sendiri. Dia memilih untuk bersandar kepada kemurahan hatinya Tuhan. Justru melalui masalah-masalah seperti ini, Daud akan semakin mengenal Allahnya yang hidup dan perkasa!

Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita. (1 Petrus 1:2)

Ketika kita mau belajar mengenal Allah kita, maka Firman Tuhan menjanjikan kasih karunia dan damai sejahtera akan melimpahi kehidupan kita.

Ketiga, Daud membangun kebiasaan untuk memperkatakan perkataan Rhema dalam hidupnya. Rhema itu dia dapatkan dari persekutuannya dengan Tuhan. Daud tidak ragu-ragu berkata : “Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.”

Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran akan Firman Allah. Ketika Daud ada dalam keadaan terjepit di Ziglak, diapun pasti berkata:”Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa, cakar beruang, Goliath, pasti sekarang Dia juga akan melepaskan aku dari kekuatan Amalek!” Lalu karena telinganya mendengar, imannya bangkit dan membuat Daud mengambil keputusan untuk mengejar orang-orang Amalek.

Hasilnya luarbiasa!

Daud meminta petunjuk Tuhan, dan di dalam ketaatannya, Daud mengejar gerombolah Amalek dan merebut kembali apa yang telah diambil oleh mereka.

Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isterinya dapat dilepaskan Daud. Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki- laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka; semuanya itu dibawa Daud kembali. Daud mengambil segala kambing domba dan lembu; semuanya itu digiring mereka di hadapannya, serta berkata:”Inilah jarahan Daud (1 Samuel 30: 18-20)

Allah memang luar biasa!

“Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang, kata-Nya kepada mereka: “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.” Lukas 9:1-6, TB.

Sudah lama murid-murid Yesus mengikuti kemanapun Yesus pergi. Selama ini mereka begitu tenang dan nyaman karena dimana ada masalah, pasti Yesus yang menghadapi untuk membereskan masalah itu. Sementara murid-murid Yesus hanya sekedar melihat apa yang Yesus lakukan ketika Yesus menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati dan mengusir setan-setan. Sampai pada suatu hari Yesus memberi perintah yang mengejutkan semua murid-muridNya. Yesus mengutus murid-muridNya pergi sendiri tanpa ada Yesus menyertai mereka.

Tiba-tiba kenyamanan mereka sangat terganggu, mereka menyadari bahwa sekarang giliran mereka yang harus mempraktekan apa yang ditunjukan Yesus selama ini. Mungkin ada diantara mereka yang berkata: “Ha? Saya harus pergi dan menyembuhkan orang sakit? saya hanya punya pengalaman sebagai nelayan, bukan tabib”.”Mengusir setan? justru selama ini saya paling takut sama setan!”

Namun itulah Yesus. Selalu tahu apa yang harus Dia buat. Ada tiga hal yang Yesus lakukan untuk mematahkan manifestasi roh yatim dari antara murid-muridnya.

1. Tuhan Yesus memberikan jaminan pemeliharaan.

“kata-Nya kepada mereka: “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.” Lukas 9:3, TB.

Tuhan Yesus ingin agar murid-muridNya mengenal pribadi Bapa di Surga. Mereka tidaklah yatim karena mereka memiliki Bapa di Surga yang menjamin pemeliharaan kehidupan mereka. Merea tidak perlu kuatir apa yang akan mereka makan, minum, dan pakai.

2. Tuhan Yesus memberikan jaminan penerimaan.

“Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.”” Lukas 9:4, 5, TB.

Ada kebutuhan mendasar dari manusia yaitu ingin diterima dan dihargai. Tuhan Yesus sedang mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak takut terhadap penolakan dari sesama manusia. Manusia bisa menolak keberadaan sesamanya dengan berbagai alasan, Seperti berbeda status sosial, berbeda suku, berbeda pandangan, dll. Semuanya itu bisa menyakitkan hati kita, dan membuat kita merasa sendirian dan tertolak. Rasa tertolak itu juga salah satu manifestasi dari roh yatim ini. Untuk itu kita harus menyadari Bapa di Surga menerima kita sepenuhnya, dan dengan demikian kita sedang mematahkan manifestasi roh yatim dalam kehidupan kita.

3. Tuhan Yesus memberikan jaminan kemenangan.

“Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.” Lukas 9:6, TB.

Jaminan kemenangan ini kita terima ketika kita mentaati apa yang Tuhan perintahkan untuk kita kerjakan. Ketika murid-muridNya melangkah dan mengerjakan bagiannya, maka kebenaran Firman menyertai dan membela perjalanan mereka. Bapa di Surga tidak akan pernah lalai akan janji-janjiNya tetapi Bapa di Surga juga mau membentuk anak-anakNya untuk menjadi anak-anak Kerajaan yang berkemenangan.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”” Matius 28:19, 20, TB.

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, maka putuslah hubungan kita dengan Bapa di sorga. Kita kehilangan Sumber segala sumber. Kita kehilangan jaminan keselamatan, pemeliharaan, dan perlindungan. Manusia mulai bergumul dengan kekuatannya sendiri, sementara hati manusia berseru :“Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda.” Ratapan 5:3, TB.

Sementara itu melihat kejatuhan manusia, Bapa di sorga merancangkan jalan keselamatan bagi manusia. Allah merespon keadaan dan berkata :

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16, TB. 

 Bapa di sorga juga berkata :

“(68-6) Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus;” Mazmur 68:5, TB. 

Mengapa Bapa di sorga melakukan semuanya ini? Sebab Bapa di sorga tahu bahwa manusia tidak boleh memiliki roh yatim dalam kehidupannya. Keberadaan roh yatim inilah yang membuat manusia tidak bisa maksimal di dalam kehidupannya untuk melakukan kehendak Bapa di sorga.

Roh yatim ini menyerang siapa saja dan dari kalangan mana saja. Orang kaya maupun orang miskin, laki-laki maupun perempuan.

Contohnya dalam Alkitab adalah Yakub. Orang tua Yakub yaitu Ishak adalah orang yang sangat kaya sebab diberkati oleh Tuhan. Tetapi anaknya yang bernama Yakub memiliki roh yatim dalam kehidupannya. Ada area yang kosong dalam hidupnya yang membuat Yakub berjuang untuk memenuhi kebutuhan di area yang kosong ini. Hal inilah yang membuat Yakub melakukan apa saja untuk bisa memenuhi ambisi dan obsesi pribadinya. Tidak peduli dia menipu kakaknya, ayahnya, ataupun memperdaya pamannya Laban dan melukai Lea sebagai istrinya yang pertama. Di dalam dirinya selalu ada perasaan serba tidak cukup atau selalu kurang.

Tetapi Bapa di sorga begitu baik. Untuk menanggulangi roh yatim ini, Bapa di sorga mendatangi Yakub dan memperkenalkan diriNya, bahkan disaat Yakub sedang tidak mencari Tuhan dan merasa butuh Tuhan. Bapa di sorga ingin menjadi Bapa atas Yakub. Sampai pada suatu titik dimana Yakub menyadari dan mengaku bahwa dirinya penipu dan memiliki mentalitas atau roh yatim di hadapan Allahnya, saat itulah Bapa disorga memberikan identitas baru kepada Yakub. Engkau tidak lagi disebut Yakub yang artinya penipu tetapi engkau akan disebut Israel yang artinya pangeranKu. 

 Ada sebuah ilustrasi, dimana ada sebuah keluarga yang sudah memiliki seorang anak kandung. Suami istri di keluarga ini ingin mengadopsi seorang anak. Pergilah mereka ke rumah panti asuhan, dan mengadopsi seorang anak yang mereka pilih. Kasih sayang mereka baik kepada anak kandung maupun kepada anak yang diadopsi sama besarnya. Seharusnya anak yang diadopsi ini memiliki rasa aman karena segala yang diperlukan anak ini sudah dicukupi. Tetapi anak ini masih dikuasai roh yatim dalam hidupnya.

Suatu kali ketika keluarga ini makan bersama di meja makan, sangat terlihat perbedaan sikap antara anak kandung dengan anak yang diadopsi ini.

Anak kandung dari keluarga ini ketika makan, mengambil sepotong daging dan sayur dan mulai memakannya. Sementara anak yang diadopsi ini ketika melihat ada daging dan sayur tersedia didepannya, juga mulai mengambil sepotong daging dan sayur yang sama. Tetapi anak ini kemudian membuka sebuah saputangan diatas meja makan lalu mulai mengambil potongan-potongan daging lainnya dan dibungkus dengan saputangan itu lalu dimasukan ke dalam saku celananya!

Mengapa anak yang diadopsi ini memiliki tingkah laku seperti itu? Dengan jelas terlihat anak ini belum mengerti identitas dia yang sekarang, dan masih terjebak dengan masa lalunya. Masih ada perasaan kuatir dan takut kelaparan, sehingga dia berusaha memenuhi rasa amannya dengan menyimpan daging itu disaku celananya.

Ini adalah gambaran bagaimana roh yatim itu bekerja dan bermanifestasi dalam kehidupan manusia. Manusia tidak percaya akan pemeliharaan dan perlindungan Bapa di sorga. Bahkan bagi setiap kita yang sudah berada dalam penebusan melalui Tuhan Yesus sekalipun, kita juga masih bisa terjebak dalam mentalitas roh yatim ini. Semuanya terjadi karena kita tidak menyadari identitais kita yang sekarang di hadapan Bapa di sorga.

 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.” 1 Petrus 2:9, 10, TB. 

 Ayat diatas adalah identitas kita yang baru melalui Yesus Kristus. Dahulu kita bukan umatNya dan tidak dikasihani. Tetapi sekarang kita telah menjadi umatNya dan beroleh belas kasihan. Allah ingin manusia menyadari identitasnya yang terkini karena melalui kita Allah berkehendak untuk kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia.

Misalnya:

Ketika kita diminta untuk mengembalikan perpuluhan, kita berpikir Allah ingin mengambil uang kita dan kita berpikir nanti tidak akan cukup untuk kebutuhan sehari-hari. 

Padahal Firman Tuhan berkata :“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Filipi 4:19, TB.

Ketika kita diminta untuk menjalankan Amanat Agung yaitu untuk menjadi saksi dan memberitakan kabar baik kita berpikir, saya tidak layak, saya tidak pantas, saya tidak bisa. 

Padahal Firman Tuhan berkata :“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1:8, TB.

Dengan kata lain, kita tidak akan bisa memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan kalau kita masih memiliki mentalitas atau roh yatim dalam hidup kita. Roh yatim membuat kita selalu berada dalam keadaan kuatir, takut, tidak aman, minder, tidak percaya diri, merasa tidak layak, tidak pantas, merasa tidak bisa, takut gagal, takut ditertawakan, takut ditolak, serba tidak cukup, serakah, tidak peduli dengan perasaan orang lain, dll.

Saatnya bagi kita untuk menyadari identitas kita yang baru di hadapan Bapa di Sorga. Kita tidak lagi yatim karena Bapa di sorga ingin menjadi Allah dan Bapa bagi kita.

Kuasa, sesuatu yang diperebutkan selama ribuan tahun.

Pada mulanya  Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya,  dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Kejadian 1:1-2

Kalau saat ini kita melihat bumi  berbentuk bulat, jaraknya dari matahari tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat, berapa banyak planet, galaksi, bintang-bintang dan lainnya, semua itu sudah ada dalam benaknya Allah. Namun semuanya itu belum tercipta sampai kemudian….

Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Kejadian 1:3

Selama Allah diam saja, sekalipun semua sudah ada dalam pikiran Allah, maka tidak ada penciptaan yang terjadi. Setelah Allah berfirman, mengeluarkan perkataanNya, barulah tercipta sesuatu. Ini adalah caranya Allah.

Lalu setelah bumi diciptakan dengan segala isinya barulah manusia dibentuk dan diciptakan, lalu Allah menghembuskan nafas kehidupan kepada manusia sehingga manusia itu menjadi hidup.

Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas  hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Kejadian 2:4-7

Kalau kita lihat ayat-ayat tersebut diatas maka kita mengetahui tujuan Allah menciptakan manusia di bumi, yaitu untuk mengusahakan tanah. Jadi manusia adalah perwakilan dan juga perpanjangan tangan Allah untuk menjalankan pemerintahan Allah di bumi.

Untuk itu Allah memberi kuasa kepada manusia.

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:26-28

Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Jadi manusia “mewarisi” cara-cara Allah untuk bertindak dalam menguasai bumi ini. Manusia dipercayakan kuasa oleh Allah untuk digunakan dengan cara-cara Allah. Bertindak seperti Allah bertindak.

Selama manusia berada dalam keteraturan ilahi maka bumi mengalami harmonisasi. Allah melihat semuanya sunggguh amat baik.

Tetapi ketika manusia memilih untuk percaya kepada perkataan iblis daripada kepada perkataan Allah dan akhirnya memakan buah yang terlarang, maka sebetulnya saat itu manusia dengan sendirinya menyerahkan kedaulatannya kepada iblis. Sejak saat itu manusia berada dibawah kekuasaan si jahat. Hal ini bisa kita lihat dengan jelas melalui perkataan iblis kepada Tuhan Yesus pada waktu Dia dicobai : Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Lukas 4:6

Sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia kehilangan kemampuan untuk menjalankan apa yang Tuhan berikan yaitu kehilangan kuasa untuk menjalankan pemerintahan Kerajaan Allah di bumi. Sampai tiba saat penebusan melalui Yesus Kristus, kuasa itu dikembalikan kepada mereka yang mau mengakui dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya serta menjadikan Yesus sebagai Raja dalam hidupnya.

Sangatlah logis, jika kita mau menerima kuasa di dalam suatu kerajaan maka terlebih dulu kita harus menerima dan mengakui raja yang berkuasa dalam kerajaan tersebut. Jika kita mau dipercaya untuk menerima kuasa Kerajaan Allah maka kita harus mengakui dan menerima Yesus Kristus sebagai Raja yang berdaulat dalam hidup kita.

Lalu bagaimana caranya kita bisa tetap dipercayakan kuasa Kerajaan Allah? kita harus belajar mengikuti dan taat kepada setiap perintah-perintahNya. Kita harus memiliki karakter Kerajaan. Atau lebih tepatnya kita harus menjadikan karakter Sang Raja menjadi karakter kita.

Pertayaann berikutnya adalah bagaimana kita menjalankan atau menyalurkan kuasa Kerajaan Allah ini?

Pada saat kita mengalami penebusan, maka gambaran Allah, kuasa pemerintahan dikembalikan kepada kita. Kemampuan kita untuk menjalankan pemerintahan Kerajaan Sorga dipulihkan kembali. Kita bisa berdoa, “datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di Sorga”. Kita diberi kemampuan untuk menghadirkan realita Sorga di bumi. Kita menyalurkan kuasa Kerajaan dengan cara yang sama seperti Allah kita menyalurkan kuasa. Salah satunya dengan cara kita melepaskan perkataan Allah yaitu perkataan Firman!

Pada saat kita mengucapkan Firman, sebetulnya kita sedang sepakat dengan Dia yang memiliki Firman. Ketika kita sepakat dengan Dia maka apa yang menjadi kehendakNya akan terjadi dalam hidup kita.

Kita harus baca Firman dan tinggal dalam Firman dan setiap hari belajar berjalan dipenuhi dan dikuasai Roh Kudus, maka kita akan menjadi orang-orang kepercayaanNya Tuhan untuk menjalankan pemerintahan Kerajaan Allah di bumi ini.

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah Para Rasul 1:8

Kuasa yang diberikan kepada kita memampukan kita untuk menjadi saksi Kristus yang memperlihatkan KeagunganNya.

Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, 61:2 untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung, 61:3 untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman TUHAN” untuk memperlihatkan keagungan-Nya. Yesaya 61:1-3

Kita diberikan kuasa, dipenuhi, diurapi dan dikuasai Roh Kudus, untuk memperlihatkan keagungan Tuhan. Keagungan Tuhan akan diperlihatkan kepada dunia ini pada saat  kita memberitakan kabar baik, menguatkan yang lemah, menyembuhkan yang sakit, menghibur mereka yang berduka, membebaskan mereka yang tertawan dan terbelenggu.

Selamat menjadi saksi Kristus!

Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia:”Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” Ia takut dan berkata:”Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” Kejadian 28: 16

Ingat dalam Perjanjian Baru, apa kata Firman Tuhan tentang Bait Allah:

Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah,– dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 1 korintus 6:19

Ketika Yakub berkata ini rumah Allah, ini pintu gerbang sorga, sebetulnya dia sedang menyatakan bahwa rumah Allah di bumi ini adalah merupakan pintu gerbang sorga.

Melalui doa Bapa kami, Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya untuk berdoa:

datanglah Kerajaan- Mu, jadilah kehendak- Mu di bumi seperti di sorga. Matius 6:10

Artinya menghadirkan realita sorga di bumi ini. Melalui Kitalah Allah akan menyatakannya di bumi.

Ketika sorga akan invasi ke bumi, Tuhan selalu mencari manusia yang mau sepakat untuk dipakai olehNya.

Allah selalu konsekuen dan konsisten dengan FirmanNya. Sejak semula bumi diciptakan hak dan kuasa pengelolaan bumi ini diserahkan kepada manusia. Jadi ketika Allah ingin intervensi kepentinganNya di bumi ini, Allah akan mencari manusia yang mau bekerjasama dengan Dia.

Ketika sorga melakukan invasinya ke bumi maka akan terjadi perubahan atas atmosfir di sekelilingnya.

Ketika Allah melakukan perjumpaan dengan Yakub, maka perubahan demi perubahan terjadi atas diri Yakub. Setiap perjumpaan dengan Allah membawa perubahan yang lebih besar lagi. Sampai pada satu titik Allah mengubah nama Yakub menjadi Israel.

Pada saat perjumpaan pertama Allah dengan Yakub, maka Yakub berkata sesungguhnya ini adalah Rumah Allah, pintu gerbang sorga.

Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun, sehingga gunung- gunung goyang di hadapan- Mu. Yesaya 64:1

Nabi yesaya sudah menubuatkan tentang invasi sorga ke bumi.

Selama perjanjian lama, Roh Kudus sudah bermanifestasi tetapi sifatnya adalah visitation.

Yang Bapa mau adalah Roh Kudus mendiami bait suciNya, bukan mengunjungi saja.

kehendak Bapa adalah Habitation not just visitation

Yesus datang menggenapi nubuatan yesaya itu

Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas- Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga:”Engkaulah Anak- Ku yang Kukasihi, kepada- Mulah Aku berkenan.” Markus 1:10

Pertunjukan permulaan

Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang- orang sengsara, dan merawat orang- orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang- orang tawanan, dan kepada orang- orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung, untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji- pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman TUHAN” untuk memperlihatkan keagungan- Nya. Yesaya 61:1-3

Yesus menjadi alat peraga Bapa di sorga, bagaimana seorang manusia yang dipakai Roh Kudus akan berjalan penuh dengan kuasa dan otoritas.

Setelah itu Yesus menggenapi undangan kerajaan Allah atas manusia di bumi. Undangan itu disampaikan Yesus ke pada dunia.

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia:”Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala- Nya dan menyerahkan nyawa- Nya. Yoh 19 :30

Hasilnya:

Tirai bait suci terbelah dua, tanda tidak ada lagi yang menghalangi antara kerajaan Allah dengan bumi.

Bukit-bukit batu tereguncang. Hati manusia yang paling keras tidak akan tahan menghadapi undangan Kerajaan Allah ini

Langit juga berguncang, tanda bahwa penguasa-penguasa di udara telah dikalahkan. Iblis telah dikalahkan dan kerajaanNya telah menang.

Setelah Yesus dibangkitkan, Dia harus naik ke sorga supaya Roh Kudus yang dijanjikan bisa turun ke bumi.

Tujuannya adalah supaya manusia melakukan apa yang Yesus lakukan, yaitu melakukan kehendak Bapa yaitu agar semua manusia diselamatkan.

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi- Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. ” kisah rasul 1:8

Ketika Roh Kudus datang kepada murid-murid Yesus, angin dari langit yang terbuka berhembus dan lidah lidah api ada di atas mereka. Ini adalah hasil dari langit yang terkoyak.

Dampaknya: murid-murid mulai menginjil dengan berani. Ketika dihambat mereka tidak menyerah, tidak mundur.

Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba- hamba- Mu keberanian untuk memberitakan firman- Mu. Ulurkanlah tangan- Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda- tanda dan mujizat- mujizat oleh nama Yesus, Hamba- Mu yang kudus. ” Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani. Kisah rasul 4:29-31

Tuhan pernah memberikan saya sebuah mimpi. Saya melihat ada seorang peniup sophar di tengah-tengah ibadah KKR yang dihadiri ribuan orang. Ketika peniup itu ingin meniup sopharnya ternyata tidak ada suara yang keluar, atau kalaupun keluar hanya kecil dan terdengar hampa atau bahkan terdengar sumbang.

Ketika saya terbangun, Tuhan membuat saya terus menginagt mimpi tersebut hingga melalui Roh Kudus Tuhan mulai tuntun saya untuk melihat Yesaya 58:1 :”Serukanlah kuat-kuat , janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukan kepada umatKu pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka.”

Tugas kita sebagai generasi baru yang Tuhan bangkitkan di akhir jaman adalah untuk menyerukan dengan kuat-kuat tanpa ditahan-tahan SUARA KEBENARAN bagaikan suara sangkakala!

Ada banyak orang dari generasi ini berusaha untuk mengeluarkan suara kebenaran dari hidup mereka tapi banyak yang ketahan atau tidak leluasa menyampaikan kebenaran itu. Bahkan banyak dari mereka yang menyalahkan instrumennya (kegerakan, wadah pelayanan, dll)

Seharian ini saya tanya sama Tuhan, mengapa banyak suara kebenaran yang tidak terdengar dari anak-anak Tuhan? Roh Kudus memberikan pengertian bahwa penyebab dari tidak keluarnya suar kebenaran itu dikarenakan karena:

1. Tertuduh oleh perbuatan dosanya sendiri.

Dalam Wahyu 12:11 diakatakan bahwa kemenangan kita atas kuasa kegelapan/iblis ada 2 faktor:
a. Penebusan melalui darah Anak Domba
b. Perkataan KESAKSIAN kita

Bagaimana perkataan kesaksian kita bisa membawa orang-orang kepada pertobatan? ketika kita sendiri telah hidup di dalam kebenaran, sehingga orang-orang tidak lagi melihat cela dalam hidup kita. Sehingga kita dengan leluasa memberitakan kebenaran yang telah kita hidupi tersebut. Selain itu kita juga terlepas dari tuduhan-tuduhan iblis. (lihat 1 Timotius 3:8-13)
Misal: bila kita mengajak orang untuk jujur, sudahkah kita sendiri hidup dalam kejujuran? Kalau kita sendiri ternyata hidup didalam dusta, iblis bisa menaruh tuduhan dalam diri kita dengan mengatakan kita seorang munafik.

2. Tidak melatih dirinya dengan baik

Sama seperti orang meniup sophar, maka kitapun dalam menyerukan kebenaran harus melatih diri kita setiap hari. Jika kita gagal melakukan kebenaran Firman Tuhan hari ini, jangan putus asa, tapi kita harus terus memperjuangkannya sehingga kebenaran itu menjadi satu dengan diri kita. Minta Roh Kudus memampukan kita setiap hari, karena kita tidak mungkin hidup dalam kebenaran melalui kekuatan kita sendiri (lihat 1 Korintus 9:27). Contoh: Cara melatih penyangkalan dari diri kita adalah dengan berpuasa, cara melatih otot-otot manusia rohani kita adalah dengan berbahasa Roh secara intens dan rutin, cara melatih pikiran kita agar memiliki pikiran Kristus adalah dengan membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari.

3. Tidak fokus

Suatu kali ketika berlatih meniup terompet dan atau flute, saya dituntut untuk konsentrasi kepada instrumen yang saya mainkan. Ketika saya tidak fokus sebentar saja, maka saya bisa dengan mudah memainkan nada yang sangat sumbang dan tidak enak terdengar di telinga.

Demikian juga dengan kita, ketika kita ingin agar suara kebenaran itu tidak sumbang, kita harus fokus dengan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita. Jangan iri dengan orang lain yang mungkin mengerjakan pekerjaan yang lebih banyak dari kita. Fokuskan saja diri kita untuk melakukan apa yang Tuhan suruh.

Terkadang kita ingin melakukan banyak hal dan mngatasnamakan Tuhan, padahal Tuhan sendiri tidak pernah memerintahkan dirinya untuk melakukan hal-hal tersebut. Akibatnya kita bisa menjadi sangat kelelahan dalam pelayanan, dan menjadi mudah sakit, tertekan, dan bahkan tidak sedikit yang kecewa dengan Tuhan. (lihat Yesaya 28:12-13)

Masuk dalam tempat perhentian. Tanya Tuhan setiap hari apa yang harus kita kerakan HARI INI. Apa janji Tuhan HARI INI yang akan Dia berikan. Sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, sehari demi sehari, nanti kita akan melihat bahwa ternyata kita sudah melakukan hal-hal yang luarbiasa bersama dengan Tuhan!

Maka inilah tulisan yang tertulis itu: Mene, mene, tekel ufarsin. Dan inilah makna perkataan itu: Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan; Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia."

(Daniel 5:25-28)

Ketika Tuhan mempercayakan sesuatu kepada kita, Tuhan mau hasil yang berbobot. Bobot mengacu kepada kata ‘kabod’ yang juga berarti kemuliaan. Kemuliaan adalah karakter Allah kita, dan bobot selalu ada dalam setiap pekerjaanNya.

Ketika kemuliaanNya diberikan kepada anak-anakNya, Tuhan mau agar kita menjadi orang-orang yang berbobot dalam kehidupan kita. Ini bicara soal kualitas kehidupan yang harus dimunculkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dimana kualitas kehidupan yang berbobot itu harus muncul? Dimana saja! Dalam pekerjaan, pelayanan, dalam hubungan rumah tangga, dan juga dalam kehidupan bersosial dengan orang-orang di sekitar kita.

Bagaimana bobot itu dihitung? Cara paling mudah adalah dengan menilai perkataan kita: Apakah perkataan kita adalah perkataan dengan kualitas Allah? Atau kita juga bisa menilai perbuatan kita: Apakah kita melakukan, bertindak dan berbuat dengan kualitas Allah? Atau kita juga bisa memonitor pikiran kita sendiri, apakah kita selalu merenungkan dan memiliki pikiran Allah?

Allah kita adalah Allah yang meminta hasil atau buah. Dan hasil yang Tuhan mau bukanlah hasil yang ringan atau buah yang tidak matang. Bukankah Tuhan berkata jika tidak berbuah akan ditebang?

Semua yang ada pada kita adalah bentuk kepercayaan Tuhan kepada kita. Tuhan mau kita menjaga kepercayaan itu dengan menunjukan kualitas yang berbobot di hadapanNya.

Dalam kehidupan ini seringkali tanpa disadari kita dikelilingi oleh orang-orang yang kebanyakan tidak kita kenali yang menggiring kita atau bahkan mengangkat derajat kehidupan kita menuju kesuksesan.

Kita terlalu sempit berpikir bahwa kesuksesan selalu melulu karena diri kita sendiri. Padahal ada invisible man yang menjadi faktor penentu kesuksesan kita. Dengan menyadari kehadiran mereka atas hidup kita sebetulnya akan membuat kita rendah hati.

“Pada suatu hari beberapa ekor keledai milik Kish hilang. Sebab itu berkatalah Kish kepada Saul, “Bawalah salah seorang pelayan, dan carilah keledai-keledai itu.” (1 Samuel 9:3 – BIS)

Saul punya tugas mencari keledai-keledai bapaknya yang hilang. Saul disuruh juga membawa seorang pelayan untuk mendampingi dirinya. Seorang pelayan yang sangat biasa, bahkan namanya saja tidak disebutkan di Alkitab.

Banyak dari kita menganggap enteng mereka-mereka yang terlihat sangat biasa. Nama mereka tidak pernah terucap di mimbar-mimbar, bahkan kalau kita cari di mesin pencari internet juga tidak akan pernah ditemukan.

Namun ketika Saul mulai putus asa, karena dia tidak bisa menemukan keledai-keledai bapaknya, si pelayan yang “biasa” inilah yang memberikan Saul semangat untuk meneruskan pencariannya. Bukan hanya itu, sang pelayan itu bahkan mau membayar harga untuk berjumpa dengan pelihat (nabi) yang bisa memberitahu dimana keledai-keledai ayahnya Saul berada.

Pelayan ini sekalipun secara jabatan adalah jabatan yang rendah dimata banyak orang, namun dia tetap mengerjakan tugasnya lebih dari yang diminta. Pelayan ini memiliki spirit yang ekselen. Dengan semangat yang seperti inilah pelayan itu bisa membawa pengaruh yang luarbiasa kepada tuannya yang sedang putus asa.

Dari hal ini kita bisa mengambil nilai-nilai kehidupan yang baik. Jika kita sukses jangan pernah lupakan bahwa kesuksesan kita ditopang dan didukung oleh banyak orang-orang di sekeliling kita (sopir, pembantu, asisten, staf, dan sebutkan banyak lagi lainnya). Sementara jika kita adalah seorang yang masih “biasa” menurut pandangan banyak orang, jangan kecil hati, karena tanpa kita sadari kita menjadi faktor kunci kesuksesan orang lain. Kita tidak akan pernah kehilangan upahnya dari Tuhan.

Tetaplah bersemangat dalam posisi dimanapun saat ini kita berada.

Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. ( Yohanes 8:2-9 )

Orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat adalah mereka yang sangat terbiasa dengan Firman Tuhan. Secara lahiriah mereka ingin menunjukan bahwa mereka lebih saleh dari yang lainnya. Tapi sebetulnya mereka menyimpan motivasi yang salah di dalam hati mereka.

Kesalehan, terkadang membutakan mata kita sebagai manusia. Merasa paling benar, paling kudus, sehingga membuat kita seringkali merasa berhak untuk menghakimi kehidupan orang lain.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dengan kasarnya menarik seorang perempuan (benar-benar pria sejati ya???) yang didapati berbuat zinah. Mereka membawanya kehadapan Yesus. Motivasinya hanya untuk mencobai Tuhan. Seringkali merasa diri saleh membuat kita merasa lebih pandai dari Tuhan.

Kali ini mereka kena batunya. Tuhan kok dilawan?

Dengan tenangnya Yesus membungkuk dan menulis sesuatu di atas tanah. Santai sekali, dan Dia tidak langsung menunjukan murkaNya. Tenang, tapi menghanyutkan. Sebenarnya apa yang Yesus tulis?

Banyak yang menafsirkan, bahwa sebetulnya Yesus sedang menulis dosa-dosa orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Disaat mereka berteriak-teriak dan mendesak Yesus untuk berkomentar, Yesus malah menaruh cermin itu di depan mata mereka.

Dengan ketenangan Ilahi yang Dia miliki, Yesus berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Cermin dipasang, mereka semua melihat ke dalam hati mereka masing-masing. Satu persatu dengan rasa malu, mereka mundur teratur meninggalkan perempuan itu seorang diri.

Mungkin tanpa kita sadari kita lebih mudah menghakimi dan mendakwa orang lain daripada melihat diri kita sendiri. Lebih mudah melihat serpihan kayu di hidup orang lain daripada melihat balok di dalam kehidupan kita sendiri. Lupa bahwa kita juga manusia biasa yang memiliki banyak kelemahan. Mulut kita lebih mudah mengucapkan kata-kata dakwaan. Mata kita lebih mudah melihat kesalahan. Sementara hati kita telah kehilangan kasih. Lupa bahwa tidak ada satupun manusia yang benar dihadapan Tuhan, jika bukan Tuhan yang membenarkan kita melalui darahNya yang menebus dosa kita.

Semua adalah karena anugerahNya….

Pada zaman Ahasyweros—dialah Ahasyweros yang merajai seratus dua puluh tujuh daerah mulai dari India sampai ke Etiopia—, pada zaman itu, ketika raja Ahasyweros bersemayam di atas takhta kerajaannya di dalam benteng Susan, pada tahun yang ketiga dalam pemerintahannya, diadakanlah oleh baginda perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya; tentara Persia dan Media, kaum bangsawan dan pembesar daerah hadir di hadapan baginda.  Di samping itu baginda memamerkan kekayaan kemuliaan kerajaannya dan keindahan kebesarannya yang bersemarak, berhari-hari lamanya, sampai seratus delapan puluh hari.  Setelah genap hari-hari itu, maka raja mengadakan perjamuan lagi tujuh hari lamanya bagi seluruh rakyatnya yang terdapat di dalam benteng Susan, dari pada orang besar sampai kepada orang kecil, bertempat di pelataran yang ada di taman istana kerajaan.  Di situ tirai-mirai dari pada kain lenan, mori halus dan kain ungu tua, yang terikat dengan tali lenan halus dan ungu muda bergantung pada tombol-tombol perak di tiang-tiang marmar putih, sedang katil emas dan perak ditempatkan di atas lantai pualam, marmar putih, gewang dan pelinggam.  Minuman dihidangkan dalam piala emas yang beraneka warna, dan anggurnya ialah anggur minuman raja yang berlimpah-limpah, sebagaimana layak bagi raja.
Adapun aturan minum ialah: tiada dengan paksa; karena beginilah disyaratkan raja kepada semua bentara dalam, supaya mereka berbuat menurut keinginan tiap-tiap orang. ( Esther 1:1-8 )

Ada saat dimana raja ingin unjuk kekuatan dan kekayaan. Semua diundang, bahkan pesta digelar berhari-hari. Semua bersukacita, semua merdeka, semua meluap dalam kegirangan.

Syarat pesta cuma satu: TIDAK DENGAN PAKSA

Wow, mengapa ditegaskan ada aturan itu? Bukankah didalam pesta memang seharusnya semua bebas menikmati tanpa harus dipaksa-paksa?

Ternyata dibuatnya aturan itu karena memang ada yang terpaksa di dalam menikmati pesta. Ini adalah gambaran Tuhan kepada gerejaNya.

Tuhan menjanjikan dan menyediakan segala kuasa, damai sejahtera dan berkat yang berkelimpahan atas kita. Tuhan yang menjamin akan selalu ada perlindungan dan pertolongan. Jangan takut kekurangan atau kehabisan karena semua lebih dari cukup.

Tuhan bukan Raja yang lalim. Dia menjamin kehidupan seluruh warga negara Kerajaan Sorga. Kemuliaan Raja yang menjadi taruhannya. Sang Raja akan menjaganya dengan segala kekuatan dan keperkasaanNya.

Dia tidak ingin, kita, sebagai warganegara dari Kerajaan yang dipimpinnya terlihat kumal, tidak ‘bersinar’, murung, sakit dan berbeban berat.

Seharusnya kita bergembira, seharusnya pula kita bersukacita. Apalagi yang kurang? Apalagi yang kita takutkan? Semua sudah Yesus jamin!

Tapi banyak dari kita yang tetap memilih untuk ‘terpaksa’  dalam mengikuti pestanya Tuhan. Ada yang tetap murung, sedih, dan bahkan putus asa.

Mereka melihat ada Air Kehidupan yang siap menyegarkan  kembali semangat yang pudar, namun mereka enggan untuk meminumnya.

Mereka melihat Roti Kehidupan yang bisa memulihkan kondisi yang lemah, namun mereka enggan untuk memakannya.

Sepertinya telah tertanam kuat-kuat dalam pikiran mereka bahwa ikut Tuhan memang sudah seharusnya selalu menderita, sebagai tanda bahwa kita sungguh-sungguh mengikut Dia.

Apa memang benar itu yang Tuhan mau? kalau memang Tuhan mau kita menderita dan susah terus menerus, tentunya Dia tidak akan menggelar pesta, tapi Dia akan menggelar perkabungan di padang gurun yang gersang. Pasir menggantikan air, tulang belulang menggantikan daging dan sayuran segar.

Jelas sudah bahwa sesungguhnya di dalam hidup ini Tuhan mau agar kita hidup dengan merdeka, sukacita dan penuh dengan kebanggaan kepada Sang Raja.

Tapi Tuhan menghormati pilihan manusia. Kehendak bebas manusia tidak pernah dilanggarNya. Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk menikmati pestaNya. Tidak dengan paksa adalah sebuah pilihan.

Mau? mau? mau?

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. (Kejadian 1:31)

Karena terlalu terbiasa mungkin kita akan melihat semuanya biasa-biasa saja. Kita sudah lebih melihat kecanggihan teknologi, mobil dengan kecepatan tinggi, atau bahkan pesawat yang bisa melewati kecepatan cahaya. Komputer yang mampu mengolah perhitungan yang super kompleks hanya dengan hitungan sepersekian detik, roket yang bisa membawa manusia ke bulan, dan sebagainya. Manusia bangga dengan penemuan-penemuannya.

Tapi mari kita coba berjalan-jalan ke waktu dimana Adam dan Hawa hidup. Dimana segala yang ada adalah masih murni hasil dari tangan Allah sendiri. Kita akan menyadari bahwa sebetulnya Allah telah terlebih dahulu yang menemukan segala sesuatu. Artinya…tidak ada yang baru dibumi ini. Tuhan sudah mengatakan sungguh amat baik, semua ada, sempurna.

Manusia hanya meneruskan apa yang sudah ada sebelumnya. Allah memberikan kreatifitas kepada manusia dan menaruh ide-ide yang luarbiasa kepadanya dengan tujuan agar manusia bisa menjalankan tugasnya dibumi ini sebagai pengelola dan berkuasa atas semua ciptaan Allah.

Darimana munculnya ide selang pemadam kebakaran? Dari belalai gajah tentunya. Sementara tangga yang ada dimobil pemadam kebakaran? hmm…mungkin manusia mendapatkan idenya setelah melihat leher jerapah yang panjang.

Ide gaun-gaun yang mahal dan berbahan halus? sepertinya kita mengambil contoh dari bunga-bunga yang memiliki kelopak berwarna-warni.

Katak bisa memberikan inspirasi dan terciptalah gaya renang yang terkenal. Bukankah pesawat tercipta justru setelah manusia melihat burung-burung bisa terbang dengan anggunnya di udara?

Saatnya kita merenung sejenak….

Kalau kita berkata bahwa kita yang paling jago, ternyata kita hanya meniru dari yang sudah ada.

Ketika Adam membutuhkan alat untuk mengambil buah dari pohon yang tinggi, dia segera memerintahkan jerapah untuk mengangkat dirinya. Dari kejauhan Allah melihat, tersenyum dan berkata dalam hatiNya:”Sungguh segala yang Kuciptakan amat baik adanya”.

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka—segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda—sampai ke tengah-tengah laut. Dan pada waktu jaga pagi, TUHAN yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu. Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkata: “Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab Tuhanlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir.” Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda.” Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah TUHAN mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka.” ( Keluaran 14:21-28 )

Adrenalin bekerja luarbiasa, jantung berdetak kencang, perasaan takut, kuatir dan gentar bercampur jadi satu. Semuanya ada dalam diri Musa, seorang yang dipakai Tuhan justru di usia yang lanjut.

Di depan dia ada laut Teberau yang luas dan dalam, sementara dia sendiri bersama-sama dengan bangsa Israel yang kepala-kepala mereka lebih keras dari batu cadas, ditambah lagi di belakangnya ada tentara Mesir yang mengejar rombongan dengan kecepatan penuh. (Aduh, kenapa becak melawan ferarri? Sungguh tidak adil)

Belum lagi suara-suara bising dari bangsa pilihan Tuhan ini. “Kau ingin membuat kuburan massal? Mengapa engkau membuat Firaun marah besar? Lebih baik tinggal di Mesir, setidaknya kami mati dengan perut kenyang!”

“Arrrrgh…..mengapa aku Tuhan, mengapa aku?”, mungkin begitu seruan Musa didalam hatinya.

Genting, mencekam, tegang…di ujung tanduk…

“Apa? Ujung tanduk? Wah, itu tempat kesukaanKu!””Aku senang sekali mendirikan tahtaKu di ujung-ujung tanduk kehidupan manusia.”

Ya, itulah Tuhan kita. Justru pada waktu kita tidak berdaya, kuasa Tuhan akan sempurna dinyatakan melalui kehidupan kita.

Pada saat pasukan Mesir semakin mendekat, Tuhan justru membuka jalan dengan membelah air laut menjadi dua sehingga bangsa Israel dapat menyeberang. Tepat waktu.

Bukan hanya itu. Tuhan mengubah posisinya sehingga ada di barisan paling belakang dari bangsa Israel dengan tiang awanNya yang menimbulkan kegelapan yang sangat pekat. Pasukan Mesir kocar-kacir, mereka tidak dapat melihat satu dengan yang lainnya.

Ternyata tahta Tuhan akan menimbulkan terang dan membuka jalan bagi orang-orang yang percaya kepadaNya, tetapi juga menimbulkan kegelapan dan kebingungan di antara orang fasik.

Kita semua tahu akhir dari kisah ini. Bangsa Israel berhasil lolos dari pengepungan. Bangsa Mesir mengalami kekalahan yang luar biasa besar.

Ujung tanduk merupakan tempat yang paling disukai Tuhan untuk mendirikan tahtaNya.

Kalau kita mendengar perkataan “Kasih” maka sepertinya identik dengan kelemahan. Orang dapat kurang ajar dan menginjak-injak kita tanpa ada pembalasan terhadap mereka. Sesungguhnya, Kasih itu bukanlah kelemahan tetapi justru Kasih itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Alkitab berkata, “Kasih itu tidak pernah gagal” artinya Kasih itu selalu berhasil sebab di dalam Kasih itu ada kekuatan yang dahsyat.

Dalam 1 Korintus 13:4-7, menjelaskan arti kata dari Kasih yaitu Sabar; Murah Hati; tidak Cemburu; tidak Memegahkan Diri; dan tidak Sombong. Melakukan yang sopan; tidak mencari Keuntungan Sendiri; tidak Pemarah; dan tidak menyimpan Kesalahan orang lain; suka Kebenaran; Menutupi dan Percaya segala sesuatu; Sabar menanggung segala sesuatu.

Dalam Matius 5:38-44, menjelaskan mengenai perbuatan Kasih…
Kalau kita memperhatikan firman Tuhan di atas, hal itu menunjukkan bahwa arti kata dan perbuatan Kasih itu sepertinya sebuah kelemahan dan kebodohan tetapi sesungguhnya merupakan gaya hidup Ilahi yang membawa kita kepada kemenangan dan kebahagiaan.

Bagaimana mengungkapkan kekuatan yang dahsyat di dalam Kasih?

Kedahsyatan kekuatan Kasih akan muncul apabila Kasih itu digunakan dengan cara-cara yang tepat…

Contoh: Seorang yang hanya memiliki sebutir peluru M-16 tidak akan pernah berdaya melawan orang yang memiliki sebilah Samurai, namun apabila sebutir peluru itu dimasukkan ke dalam senapan M-16 maka ia akan mengalahkan orang yang memiliki Samurai atau jago silat manapun. Sekali ditembak peluru M-16 itu dan mengenai sasarannya maka tamat riwayat musuhnya itu.

Kasih itu kalau dilihat dari satu segi kelihatannya lemah dan tidak memiliki kekuatan apapun namun apabila kasih itu digunakan pada alat yang tepat dengan cara-cara yang tepat maka di dalam kasih itu mengandung kekuatan yang dahsyat….

Seorang Ahli Alkitab pernah berkata bahwa Yesus Kristus itu bukan Pribadi yang ofensif yaitu suka menyerang; Yesus tidak pernah mengajar, ”bunuhlah setiap orang yang menolak Aku dan pengajaran-Ku; hancurkanlah mereka dan binasakanlah sampai ke anak cucunya.” Yesus tidak pernah mengajarkan orang menjadi ofensif secara fisik.

Yesus Kristus juga bukan Pribadi yang defensif yaitu suka membela diri saat diserang atau dianiaya. Hal itu dibuktikan saat Dia ditangkap; Ia tidak melawan atau mengirim 12 [dua belas] pasukan malaikat-Nya untuk menolong Dia saat dianiaya oleh tentara Romawi. Ia diam dan tidak membela dirinya.

Tetapi Yesus adalah Pribadi yang Absorsif yaitu menyerap. Dia menyerap setiap serangan yang dilemparkan ke atas diri-Nya. Puncak dari seluruh serangan selama masa hidupnya adalah dari Getsemani sampai ke Golgota.

Yesus menyerap semua serangan Iblis dan Ia menghadapi dengan Roh-Nya dan puncaknya adalah saat roh maut menghantam diri-Nya dan Ia berkata, ”Ya, Bapa ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku.” dan pada saat Ia menyerahkan nyawa-Nya, tubuh-Nya mati, Iblis berpikir bahwa ia telah mengalami kemenangan namun di alam maut, justru Yesus mematahkan roh maut dan mengalami kebangkitan pada hari ketiga sebagai tanda kemenangan-Nya atas Iblis; Dosa dan Maut.

Kunci kemenangan Kristus adalah pada saat Ia menggunakan Kasih dengan cara yang tepat. Di sini kita dapat melihat betapa dahsyatnya kekuatan kasih itu. Kekuatan yang sanggup menghancurkan Iblis dan perbuatan-perbuatannya.

Di dalam Kitab 2 Raja-Raja 6:14-23, menjelaskan sebuah kebenaran mengenai kekuatan kasih yang menaklukkan serangan musuh. Saat itu Raja Aram marah besar karena setiap rencananya selalu diketahui oleh Elisa sehingga ia bermaksud untuk mengepung dan menyerang Israel dengan mengirim tentara Aram dalam jumlah yang besar.

Bagaimana Elisa menghadapi serangan tentara Raja Aram itu? Ia tidak ofensif dan juga tidak defensif tetapi absorsif yaitu menyerapnya dengan tindakan kasih yang tulus. Ia berdoa agar Tuhan membutakan mata tentara Aram yang sedang mencarinya; lalu membawa mereka masuk ke dalam benteng Samaria; begitu mereka masuk orang Israel mengepung mereka, lalu Elisa berdoa agar Tuhan membuka mata mereka; mereka sadar bahwa mereka sedang terkepung oleh orang Israel.

Raja Israel berkata, “Apakah kita bunuh saja mereka itu?” namun Elisa berkata, “Jangan, apakah kamu biasa membunuh orang yang ditawan?” Apakah yang dilakukan oleh Elisa terhadap tentara Aram yang besar itu?

Tentara Aram dikalahkan oleh tindakan kasih… mereka diberikan makanan dan minuman; setelah puas dan kenyang, mereka disuruh pulang ke negerinya. Alkitab mencatat, “Sejak saat itu, tidak ada lagi gerombolan tentara Aram yang memasuki Israel…”

Sekali lagi, kasih membuktikan kekuatannya. Tentara Aram ditaklukkan oleh tindakan kasih yang tulus dan mereka tidak pernah memasuki wilayah Israel lagi.

Jadi, hidup itu perlu disiasati dengan strategi Ilahi. Strategi ilahi untuk menyiasati kehidupan adalah hidup di dalam kasih Allah. Kasih nampaknya lemah tetapi justru itulah strategi yang digunakan Allah untuk membinasakan Iblis dan perbuatan-perbuatannya.

Dalam 1 Korintus 13:8 mengatakan ”Kasih Allah tidak berkesudahan…” dengan kata lain Kasih Allah tidak pernah gagal, pudar, lenyap atau berakhir. Karena Allah adalah kasih, maka kalau kasih dapat lenyap, Allah pun dapat lenyap. Namun, Allah tidak pernah gagal, dan kasih-Nya juga demikian. Oleh karena itu betapa pentingnya hidup di dalam kasih Allah.

Bagaimana mengembangkan dan hidup di dalam kasih Allah itu?

Pertama, Kita harus belajar untuk merasakan dan memahami Kasih Allah
“Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.” [Efesus 3:17-18]

Sebelum kita bisa mengasihi orang lain, kita harus bisa merasakan dan memahami betapa dalamnya Tuhan mengasihi kita.

Mengapa Tuhan menginginkan kita untuk belajar merasakan dan memahami betapa besar kasihNya lepada kita?
Sebab “Kita dapat mengasihi karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita.” [1 Yohanes 4:19]. Cobalah belajar untuk melihat besarnya kasih Allah: Dia telah menebus semua dosa dan menanggung semua sakit penyakit kita. Dia telah mengangkat derajat hidup kita. Dia telah memberikan orang-orang yang baik dan mengasihi kita.

Mengapa begitu penting merasakan kasih Tuhan? Karena orang-orang yang tidak dikasihi [merasa dikasihi] cenderung sulit mengasihi orang lain. Ketika seseorang tidak merasakan kasih yang tulus dan sejati, ia cenderung tidak bisa mengasihi orang lain, sebab kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki.

Seorang anak yang merasa dikasihi oleh keluarganya dan orang-orang di sekitarnya, ia cenderung bisa menghargai dan bersikap ramah dengan orang lain. Sebaliknya seorang anak yang tidak merasa dikasihi, ia cenderung menarik perhatian yang negatif, bersikap kasar dan kurang menghargai orang lain.

Belajar mengasihi berarti belajar untuk merasakan dan memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.

Kedua, Kita harus belajar berpikir dengan pikiran Kasih
”dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” [Filipi 2:4-5]

Apakah arti berpikir dengan pikiran Kristus? Kita harus belajar untuk mulai memberikan perhatian kepada kebutuhan orang lain; masalah-masalah orang lain; keinginan dan harapan orang lain; atau luka-luka orang lain bukan hanya menaruh perhatian kepada kepentingan sendiri.

Faktanya, orang yang terluka cenderung melukai orang lain. Jika seseorang melukai kita sesungguhnya ia melakukan itu karena ia sedang terluka. Apa yang perlu kita lakukan untuk menghadapi mereka? Seharusnya, kita tidak hanya memperhatikan kelemahan atau kejahatan mereka tetapi kita pun harus belajar untuk memikirkan alasan perbuatannya dengan cara melihat kebutuhan mereka. Kita harus belajar melihat kebutuhan mereka. Mereka butuh dikasihi, dihargai atau diterima.

Saya pernah mendengar kesaksian tentang seorang Pendeta, ketika ia sedang berjalan kaki menuju kediamannya tiba-tiba dihadang oleh seorang laki-laki sambil menodongkan pisau. Laki-laki itu meminta semua uang dan benda berharga. Pendeta itu dengan tenang dan lembut berkata, “Saya tidak membawa uang yang cukup untuk diberikan kepada Anda namun apabila Anda berkenan datanglah ke rumah saya, di sana saya masih menyimpan sejumlah uang dan saya akan berikannya kepada Anda. Laki-laki itu tidak dapat tahan menghadapi Pendeta itu, ia berlutut sambil menangis dan memohon maaf atas tindakannya. Namun demikian, Pendeta tersebut tetap mendesaknya untuk menerima sejumlah uang yang disimpannya itu. Pada akhirnya, laki-laki itu mengambil keputusan untuk bertobat dan mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Pendeta itu telah berpikir dengan pikiran kasih. Ia berhasil melihat tindakan laki-laki itu sebagai reaksi dari kebutuhan hidup yang tidak dapat di atasinya. Namun, ketika ia berpikir dengan pikiran kasih justru ia telah menyelamatkan jiwa laki-laki tersebut.

Seringkali, kita menemukan orang-orang yang menjengkelkan. Kalau kita mau belajar untuk berpikir dengan pikiran kasih, kita akan berpikir bahwa justru merekalah orang-orang yang paling membutuhkan kasih dari kita. Kita tidak boleh mengatasi dengan kemarahan dan membalas mereka yang telah menjengkelkan kita. Kemarahan kita justru akan menguatkan cengkraman Iblis atas hidup mereka. Belajarlah berpikir dengan pikiran kasih; ucapkanlah perkataan yang mengandung damai sejahtera dan perkataan berkat untuk mereka sebab semua itu akan melemahkan cengkraman Iblis atas hidup mereka.

Kita tidak bisa mengubah perasaan kita tetapi kita dapat mengubah cara berpikir kita tentang orang yang telah menjengkelkan kita. Ketika kita mengubah cara berpikir mengenai seseorang secara bertahap kita sedang mengubah perasaan hati kita terhadap orang tersebut.

Kita harus belajar mengganti cara berpikir yang hanya memperhatikan kelemahan, kejelekan atau kejahatan orang tersebut sebaiknya kita mulai berpikir mengenai kebutuhan-kebutuhannya, semuanya itu akan mengubah perasaan kita, menjadi perasaan yang penuh kasih.

Mulailah belajar berpikir dengan pikiran kasih.

Ketiga, Kita harus belajar mengampuni musuh-musuh kita.
”Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” [Kolose 3:13]

Adalah tidak mungkin untuk mengasihi seseorang dengan sungguh-sungguh dan pada saat yang sama jengkel atau dendam dengan orang lain. Hati kita harus utuh. Kita tidak bisa sungguh-sungguh mengasihi pasangan kita jika kita masih marah dengan orang tua kita. Kita tidak bisa mengasihi anak-anak kita jika kita masih marah dengan pasangan kita.

Kita tidak bisa memberikan kasih yang sepenuhnya saat hati kita tercemar dengan racun kebencian. Kita mungkin masih mempunyai masalah dengan masa lalu dan menyimpan dendam dan kebencian terhadap seseorang. Inilah penyebab mengapa kita tidak bisa mengasihi pasangan kita.

Apabila kita mau belajar mengasihi orang lain sekarang, kita harus menutup pintu terhadap kekecewaan dan kepahitan masa lalu. Hanya ada satu caranya yaitu mengampuni. Ampunilah orang-orang yang telah melukai diri Anda. Pengampunan adalah untuk kepentingan Anda sendiri bukan karena dia layak untuk diampuni. Apabila Anda melakukannya maka hati Anda akan pulih dan Anda dapat mengasihi sepenuh hati orang-orang yang Anda kasihi.

Penutup:
Kasih Allah adalah kekuatan yang dahsyat. Salib Kristus adalah wujud dan bukti kasih Allah. Kasih yang telah membinasakan perbuatan Iblis yaitu Dosa, kutuk, sakit penyakit, kelemahan, kemiskinan, kematian.

Kunci mengalami kemenangan dan kebahagiaan adalah memiliki kasih Allah dan hidup di dalam kasih-Nya. Anda harus belajar untuk merasakan Kasih dengan mengakui betapa besar kasih Anda kepada Allah dan firman-Nya; berpikir dengan pikiran kasih dan belajar mengampuni.

“Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.  Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” ( Matius 16:17-18 )

Apa?

Apa Yesus tidak tahu siapa Simon yang sebenarnya? Tempramental, banyak omong, sok tahu. Banyak orang yang sebisa mungkin menghindari diri dari dirinya. Mungkin sudah tidak terhitung berapa banyak orang yang terkena getah kepahitan dari dirinya.

Sepertinya Yesus terlalu berani mengambil resiko untuk menyebut Simon sebagai Petrus. Keberatan nama, karena tidak sesuai dengan karakternya. Selama ini dia selalu bersikap ‘plin-plan’ – tidak punya pendirian. Sementara nama Petrus berarti batu karang. Sangat tidak cocok!

Tapi itulah Yesus…

Selalu membuat yang tidak cocok menjadi cocok. Dia ahli merubah segala sesuatu. Tuhan selalu melihat yang manusia tidak bisa lihat. Itu adalah keahlianNya.

Manusia hanya bisa melihat Simon adalah ilalang, sang ‘trouble maker’, tapi Tuhan bisa melihat bahwa dia sesungguhnya adalah batu karang. Tidak peduli dia pernah tenggelam, tidak peduli dia dicap sebagai jagonya pembuat masalah, bahkan tidak peduli dia pernah menyangkali Yesus sampai tiga kali. Yesus sanggup melihat bahwa Simon adalah Petrus. Titik.

Dengan mengubah namanya, Tuhan sedang menaruh identitas yang baru dalam diri Simon. Dengan terus menyebut namanya yang baru, sebetulnya Tuhan sedang membuat ciptaan yang baru.

Barang rongsokan di daur ulang menjadi barang yang sangat berharga.

Setelah sekian lama manusia mempertanyakan keputusan Tuhan mengubah nama Simon, akhirnya manusia bisa melihat bahwa Tuhan tidak pernah salah. Petrus menjadi rasul yang dahsyat, memenangkan banyak jiwa, bahkan rela menjadi martir demi nama Yesus. Benar-benar batu karang.

Hal yang sama juga dialami oleh Yakub, sang penipu ulung. Semua pernah merasakan ‘hasil karyanya’. Bahkan pamannya sendiri menjadi korbannya. Semua orang tahu siapa Yakub yang sebenarnya.

Lagi-lagi Tuhan menunjukan kreatifitasNya yang tanpa batas. Dia suka sekali membuat manusia geleng-geleng kepala. Ya, itulah keahlianNya, membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Allah sendiri yang mengubah nama Yakub menjadi Israel yang berarti Pangerannya Allah. Benar-benar nama yang tidak cocok dengan karakternya, bukan?

Justru dari Yakub lahirlah bangsa Israel, bangsa yang besar, bangsa pilihan, dan bangsa yang lebih dari pemenang.

Karena dosa, manusia menerima identitas yang rusak dan hancur. Yesus datang untuk memulihkannya.

Sayang sekali banyak orang yang lebih memilih untuk berjalan dengan identitas lamanya sebagai pecundang. Padahal Tuhan menetapkan kita untuk terus naik dan tidak turun, menjadi kepala dan bukan ekor, diberkati dan bukan dikutuk.

Tanamkan identitas yang baru ini kuat-kuat dalam pikiran dan hati kita, dengan terus mengucapkannya (sama seperti Yesus yang terus memanggil nama Petrus, dan tidak pernah lagi menyebut nama Simon). Kita akan melihat hasil perubahan yang menakjubkan dalam hidup kita, dan Tuhan akan tersenyum dan berkata:”benar-benar cocok!”

Allah kita adalah Allah yang maha besar. Dia Penguasa atas segala sesuatu dan berdaulat atas segala sesuatu. Selama ini mungkin kita berpikir bahwa Dia akan selalu berpikir besar-besar dan tidak mau mengurusi yang kecil-kecil.

Tapi ternyata….

Gideon, seorang anak yang paling kecil, berasal dari suku yang terkecil dari suku-suku Israel, dan juga punya nyali yang kecil.

Dia tinggal di gua karena takut menghadapi musuh-musuh Israel yang setiap kali datang dan merampas hasil pertanian dan harta benda mereka.

Tersembunyi, terkecil, terabaikan.

Tuhan justru datang kepadanya dan mengangkat dia menjadi pahlawan dengan mengalahkan musuh-musuh yang besar hanya dengan pasukan yang kecil. Pasukan seperti pasir dilautan dipecundangi oleh pasukan Gideon yang hanya berjumlah 300 saja.

Daud,  seorang anak yang juga paling kecil, diperlakukan berbeda dari kakak-kakaknya.

Dipercaya pekerjaan yang kecil yaitu menggembalakan 2-3 ekor ternak saja. Tentunya dia dapat gaji yang kecil pula, bukan? Apakah dia masih bisa menabung? Pertengahan bulan mungkin sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Ibu-ibu sepertinya segan untuk menjodohkan dia dengan anak-anak gadisnya. “Anakku nanti mau dikasih makan apa?”, mungkin begitu pikir mereka.

Ketika Samuel datang untuk mencari calon raja pengganti Saul yang tidak taat, Isai hanya menampilkan pesona kakak-kakaknya yang berjalan diatas catwalk.

Tersembunyi, terkecil, terabaikan.

Tetapi Tuhan punya selera yang berbeda. Dia suka dengan yang kecil-kecil. Ketika akhirnya Daud muncul dihadapan Samuel, Tuhan langsung bertitah kepada Samuel untuk segera mengurapinya.

Tahukah siapa yang mengalahkan Goliath, si badan besar yang tidak bersunat itu? Daud-lah orangnya.

Pakai apa? AK-47? M16? granat? roket? nuklir?

bukan….

Hanya batu yang kecil yang dipungut oleh Daud di dasar sungai.

Tersembunyi, terkecil, terabaikan…

“Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.  Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya. Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.  Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”  Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”  Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”  Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.” (Yohanes 5:1-9) 

 Pada hari itu adalah hari raya orang Yahudi. Sebagai orang Yahudi tulen, seharusnya Yesus ada ditengah-tengah perayaan. Seharusnya Yesus secara aktif mengambil peranan (hmm mungkin sebagai anggota paduan suara, atau sebagai usher, kolektan, atau pendoa…)

Tapi ternyata Yesus malah pergi ke Yerusalem menuju kolam Bethesda.

Banyak orang saat-saat ini malah kehilangan Tuhan justru di dalam pertemuan-pertemuan ibadah kita. Banyak orang berpikir setiap kita melakukan sesuatu bagi Tuhan, untuk menyenangkan Tuhan, tetapi justru Tuhan tidak ada disitu.

Kita bisa kehilangan Tuhan di saat kita sedang melakukan sesuatu bagi Tuhan karena ternyata Tuhan sedang bergerak ke tempat lain.

“pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.” (Lukas 3:2) 

 Hal yang sama juga dialami oleh Imam Besar. Seharusnya Hanas dan Kayafas sebagai Imam Besar yang ‘normalnya’ mendapatkan pewahyuan dari sorga. Kenyataannya Firman Tuhan tidak datang kepada mereka, tetapi justru kepada Yohanes. Bukan orang-orang yang berjubah imam yang halus dan lembut, tapi justru kepada orang yang berseru-seru di padang gurun dengan  berpakaian kulit binatang yang kasar. Bukan pula di Bait Allah, tetapi justru di padang gurun yang gersang.

Ini waktunya untuk kita menyadari bahwa seharusnya kita yang mau ikut kemana Tuhan pergi dan bukan Tuhan yang ikut kita.

Tuhan yang harusnya atur hidup kita dan bukan kita yang atur Tuhan.

“Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” (Yohanes 12:26) 

 Sadar atau tidak seringkali kita berdoa kepada Tuhan, tetapi yang ditunggu-tunggu adalah manusia. Kita membawa agenda atas nama Tuhan, tetapi ternyata didalamnya banyak sekali agenda pribadi kita yang kita sodorkan kepadaNya. Acara yang harus begini atau begitu, doa dengan model begini atau begitu, yang semuanya kita kerjakan tetapi tanpa kita konsultasikan dulu dengan Tuhan.

Tidak usah heran jika ibadah kita menjadi kering dan suam. Karena sesunguhnya Tuhan sendiri tidak diharapkan hadir dan malah diabaikan.

Itulah sebabnya Yesus memilih untuk ‘jalan-jalan’ ke kolam Bethesda di Yerusalem dibandingkan menghadiri perayaan Yahudi yang sifatnya sangat agamawi.

Luke 24:15-29

Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?”Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?”Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.

John 11:1-6

​Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.”Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.”Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap (Lukas 5:1-9)

Suatu kali Yesus menghampiri 2 perahu di tepi pantai yang para nelayannya sedang kesal karena setelah semalam-malaman mereka melaut mereka tidak mendapatkan hasil sedikitpun. Dalam kondisi yang seperti itu, Yesus naik ke dalam perahu Simon.

Apakah itu suatu kebetulan? mengapa perahu Simon? mengapa bukan perahu lainnya?

Dari kejadian ini kita bisa melihat bahwa Tuhan begitu detail dalam tindakannya dan selalu bekerja di dalam kerangka kekekalanNya.

Jauh sebelum Simon lahir ke dunia ini Tuhan sebetulnya telah menetapkan Simon untuk menjadi salah seorang muridNya. Setelah waktu Tuhan tiba, Yesus menghampiri Simon dengan menaiki perahunya.

Disinilah Tuhan ingin menunjukan siapakah Dia yang sebenarnya, sebab Simon selama ini hanya mengetahui bahwa Yesus itu pengajar yang luarbiasa, atau tabib yang pandai menyembuhkan orang (bahkan Simon tahu kalau ibu mertuanya yang sakit juga disembuhkan oleh Yesus), atau Simon juga tahu kalau Yesus seorang anak tukang kayu. Hanya itu……

Sampai pada hari itu tiba….

Setelah Yesus selesai mengajar, Dia menyuruh Simon untuk bertolak ketempat yang dalam dan mulai menebarkan jala.

“Apa-apaan ini?”

“Apakah Yesus tidak tahu kalau hari sudah terang, mana mungkin bisa dapat ikan?”

“Semua juga tahu kalau saat yang terbaik untuk menangkap ikan adalah malam hari.”

“Sok tahu betul Anak tukang kayu ini!!” Lebih baik dia membantu bapaknya membuat meja atau kursi.

Kasihan Simon, dia serba salah. Kalau dia tolak permintaan Yesus, sepertinya dia tidak bisa membayangkan reaksi orang-orang yang ada disekitar Yesus yang mungkin jumlahnya saat itu mencapai ratusan atau bahkan ribuan orang. Ya…Yesus sangat terkenal. Sementara kalau dia ikuti kemauanNya, bisa-bisa dia ditertawakan oleh teman sejawatnya. Dia bisa dicap sebagai orang gila karena menangkap ikan di siang hari.

Untungnya Simon berani mengambil resiko. Dia ikuti permintaan Yesus.

Coba lihat, justru didalam ketaatannya (sekalipun mungkin dai tidak tulus dalam melakukannya), Simon melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ikan-ikan yang sangat besar jumlahnya dengan senang hati melompat masuk ke dalam jalanya Simon!

Siapa Yesus ini? Simon langsung ketakutan dan sujud menyembah Yesus.

Keren… Cara Yesus untuk menarik perhatian Simon sangatlah kreatif.

Saat itulah Yesus menyatakan dirinya sebagai Adonai yang artinya adalah Tuan, Master, Pemilik.

Dialah Pemilik atas segala sesuatu yang ada atas alam ini. Dialah Tuan segala tuan.  Dia jugalah Pemilik atas ikan-ikan yang ada di danau Genesaret itu. Tidak heran mengapa mujizat terjadi. Adalah hal yang sangat mudah bagi Yesus untuk memerintahkan ikan-ikan untuk masuk ke dalam jalanya Simon.

Yesus ingin mengajarkan kepada Simon (dan juga kepada kita tentunya) bahwa segala sesuatu berasal dari Dia, oleh Dia, dan untuk kemuliaanNya. Pekerjaan kita, pelayanan kita, bahkan segala harta kekayaan yang ada semua adalah milikNya. Kita hanyalah sebagai pengelola, yang dipercayakan Tuhan untuk menjadi kemuliaan bagiNya.

Ketika kita menganggap bahwa semua yang kita miliki adalah hasil dari kekuatan kita, kepandaian kita dan pengalaman kita, akan ada satu titik dimana semuanya itu didapati nol besar, sia-sia.

Ayub sendiri mengatakan dengan telanjang aku dilahirkan dan dengan telanjang pula aku akan kembali.

Akui Dia sebagai Adonai dalam hidup kita, maka Tuhan akan buktikan kuasaNya. Tuhan sanggup mengubah dari krisis kepada kelimpahan. Putus asa Tuhan ganti dengan pengharapan. Jala yang kosong, Tuhan ubah menjadi hampir koyak oleh karena banyaknya hasil tangkapan.

Setelah Simon mengakui Dia sebagai Adonai barulah Tuhan bisa pakai Simon menjadi salah seorang dari muridNya.

Ketika Tuhan melihat kita jatuh dalam dosa, Tuhan akan datang dalam hidup kita sebagai Juru Selamat, namun ketika Tuhan mau memakai hidup kita untuk kemulianNya, maka Dia akan mendatangi kita sebagai Tuan atas hidup kita.

Untuk keselamatan, kita peroleh dengan cuma-cuma melalui kematian dan kebangkitanNya. Namun untuk mengikuti Dia, kita harus melepaskan hak kepemilikan kita dan mengakui bahwa hanya Dialah yang berkuasa atas hidup kita.

‘Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.’ (Matius 13:44)

Banyak orang percaya yang tidak menikmati Kerajaan Sorga, meskipun tidak kehilangan keselamatan karena reaksi mereka tidak menunjukan bahwa dia menikmati Kerajaan Sorga. Hal ini berulang-ulang terjadi dalam hidup.

Ketika kita lahir baru, kita dipindah dari gelap kepada terang yang ajaib. Kita bisa melihat dunia ini menjadi lebih indah.  Memang keselamatan membuat kita berubah. Sama seperti bila kita sedang jatuh cinta dengan seseorang, maka segalanya akan tampak indah.

Tetapi lama kelamaan kita akan menjadi jenuh dan bosan. Mengapa? Karena sebetulnya Tuhan telah siapkan kemuliaan yang lebih besar lagi.

Misalnya, kita melihat apa yang dahulu menjadi kesenangan duniawi kita bila dibandingkan dengan keselamatan yang diberikan oleh Sang Raja Yesus Kristus kita menjadi bersukacita karena kita melihat yang lebih baik ada dihadapan kita yaitu kita memperoleh harta Kerajaan Sorga.

Harta itu membuat kita semakin kaya. Tapi kita akan ditawarkan tingkatan kemuliaan yang lebih tinggi. Harganya? Sama dengan waktu kita menerima keselamatan. Apa itu? Kita harus rela meninggalkan kemuliaan yang lama semuanya, untuk mendapatkan kemuliaan yang lebih besar lagi.

‘Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.’ (Matius 13:45-46)

Pedagang ini sebelumnya telah mendapatkan yang bagus-bagus menjadi miliknya. Tetapi ketika dia menemukan mutiara yang menjadi pencarian bertahun-tahun dia rela menjual semua hartanya untuk mendapatkan mutiara yang dia cari.

‘Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!’ (Mazmur 51:14)

Tuhan meminta kita untuk memiliki sukacita dan kerelaan untuk melepaskan semua kemuliaan yang terdahulu untuk mendapatkan pertumbuhan kerohanian yang lebih tinggi.

‘Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. (Markus 4:16-17)

Syaratnya adalah sukacita dan hati yang rela. Bukan hanya sukacita saja tetapi juga harus rela supaya tidak tersandung, kecewa dan akhirnya murtad.

‘Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.’ ( Matius 12:28 )

Orang yang berani melepas akan mendapatkan Kerajaan Allah, dan orang yang mendapatkan Kerajaan Allah meiliki ciri, bahwa dia berjalan dalam kuasa dan otoritas Kerajaan Allah.

‘Setibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu serta ibunya. Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: “Jangan menangis; ia tidak mati, tetapi tidur.” Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak itu telah mati. Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: “Hai anak bangunlah!” Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu.’ (Lukas 8:51-56) 

 Kalau kita melihat ayat diatas, maka kita akan mendapati bahwa ada murid-murid Yesus yang sangat spesial dan dikhususkan. Pada saat mujizat yang luarbiasa, pada saat Tuhan dimuliakan, dan bahkan pada saat Yesus sedang sangat sedih, hanya tiga orang ini yang menyaksikan. 

 ‘Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.’ (Matius 17:1-3) 

 ‘Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku berdoa.” Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.”‘ (Markus 14:32) 

 Mengapa Tuhan menonjolkan ketiga orang ini? Sebab didalam diri mereka ada tiga karakter yang Tuhan mau untuk gerejaNya miliki. Ketiga orang ini merupakan kombinasi yang luarbiasa. 

 
PETRUS 

 ‘Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.’ (Matius 14:22-29) 

 Disaat orang banyak berteriak : “Itu hantu!” Petrus justru berani mengambil resiko dengan mengatakan:”Kalau itu Engkau TUHAN, suruh aku berjalan di atas air!”.

Seringkali didalam kegerakan, pendengaran dan penglihatan kita dikotori oleh suara-suara dan pandangan-pandangan yang pesimis. Mereka mengatakan : “Kalau memang itu Tuhan, kenapa ada angin sakal?, mengapa ada goncangan? , jangan-jangan sesat!”

Justru pada saat-saat seperti itu gereja Tuhan harus berani menjadi ‘risk taker’‘ untuk memecahkan kebuntuan. Kita harus berani mengambil resiko demi nama Tuhan, supaya kegerakan Tuhan di akhir jaman ini bisa terus berlangsung. 

 
YOHANES

‘Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.’ (Yohanes 21:1-7) 

 Pada saat murid-murid Yesus -bahkan termasuk Simon Petrus- tidak bisa mengenali siapa yang berbicara kepada mereka untuk menebarkan jala di sebelah kanan perahu, Yohanes murid yang dikasihi Yesus bisa mengenal pribadi Tuhan.

Yohanes paling mengenal isi hatinya Tuhan, tidak kabur ketika Yesus disalib. Yohanes adalah rasul yang memiliki ketajaman yang diperolehnya karena menjalin keintiman dengan Tuhan. 

 
YAKOBUS 

 ‘Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.’ (Kisah Para Rasul 12:1-2) 

 Dalam Perjanjian Lama ada hewan yang memang dikembangbiakan khusus untuk pentahiran Bait Allah yaitu lembu merah. Yakobus dijadikan Tuhan untuk jadi yang sulung dari 12 rasul untuk menjadi martir/korban. Dimana justru setelah itu Injil semakin luas diberitakan di mana-mana. Tidak ada kemuliaan tanpa salib.

Ketiga karakter yang dimiliki oleh Petrus, Yohanes dan Yakobus inilah yang harus dimiliki oleh gereja Tuhan untuk bisa menjadi ‘The Dream Team’nya Tuhan.

Kalau selama ini kita berpikir bahwa Allah tidak pernah memberi ruang kepada manusia untuk berpendapat, rasanya kita perlu merenung untuk kita bisa merubah pikiran kita. Hal inilah yang membuat kita merasa selalu jauh dengan Pencipta kita. Sekalipun Dia adalah Allah yang berdaulat, tetapi ternyata Tuhan sangat menghargai pendapat dari manusia.

Sebetulnya Dia selalu ingin dekat dengan kita, hanya saja sikap agamawi kitalah yang justru menjadikan kita menjauh dari Dia. Kita berpikir Tuhan hanya bisa didekati dengan segala ritual-ritual keagamaan kita. Tidak heran kita seringkali merasa ‘kehilangan’ Tuhan ketika kita keluar dari gedung gereja. Kita selalu berpikir bahwa Allah begitu kaku, arogan, ingin menang sendiri, dan tidak akan mau mendengar pendapat dari kita.

Padahal sepanjang Alkitab, Allah memiliki hubungan yang istimewa dengan banyak orang. Tuhan berbicara dengan Musa seperti seorang bicara kepada sahabatnya, sementara dalam kitab Yakobus dikatakan bahwa Abraham adalah sahabat Allah.

Dalam hubungan persahabatan Tuhan tidak mau menyembunyikan sesuatu kepada sahabatnya. Tuhan ingin berbagi hal-hal yang rahasia, bahkan yang sangat rahasia.

Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?
Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” ( Kejadian 18:17-18 )

Allah punya rencana akan menghancurkan Sodom karena dosa-dosanya dan Abraham diberitahu oleh Allah sendiri akan rencanaNya. Ketika itu Abraham tidak langsung mengangguk-anggukan kepala kepada Tuhan, tetapi dia merasa bebas berinteraksi dengan Tuhan tanpa rasa takut karena dia tahu bahwa Tuhan pasti menghargai pendapatnya.

‘Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?”‘ (Kejadian 18:23-25)

Bagi orang-orang agamawi sikap Abraham adalah sikap yang kurang ajar, ‘nyeleneh’ . dan tidak mungkin terampuni. Tetapi bagi para sahabat Allah, sikap Abraham adalah sikap yang menunjukan kehangatan dan kedekatan yang luarbiasa. Ternyata Allah ingin sedemikian dekatnya dengan kita, dan Dia sangat senang untuk berinteraksi dengan kita sekalipun Dia adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa penuh atas seluruh alam semesta ciptaanNya ini.

Masih ingin jauh-jauh dengan Dia?